Friday, December 27, 2019

pesta

Tanah yang ku pijak seperti mati, semua seperti angin yang terusir api, lantaran apa akar ku tercerabut pergi, hingga aku terlempar melayang-layang dan menanti. Tangan yang terangkat mulai lemah dan lebam, memerah lelah hendak terbenam. Malam dan udaranya seperti nafas yang terhembus bersama rahasia, siang seperti cawan penebusan tawa. Waktu melampaui usia ku, dan usia ku tak mengenal waktu. Ku tuding rumput tua dan aku berkata, " Hai Kau!, Tunjukkan pada ku ke mana arah berhentinya air yang mengalir itu!, jangan seperti penghianat kau berdalih bahwa ia tersebar merata ke seluruh bumi!". Tak mungkin hanya dengan sayap-sayap ini aku terjun dari bukit sunyi, jiwa yang menemani ku dalam senyum raya akan ku bawa pergi.

Monday, December 16, 2019

gerbang

Cahaya ada di atas kepala ku, warna-warni bisu. Tak satu kata pun, muncul dari batu. Ku coba keraskan cela ku, agar setidaknya ku tahu, kematian ku yang sunyi adalah pintu gerbang menuju ketiadaan atau kehidupan, setelah ku patuh pada alam, penghuninya menyembunyikan ku di mulutnya .

ranting 1

Cara pengembangan lembaga: 
1. Memahami kebutuhan/harapan sekolah dan siswa, dengan menganalisis secara mendalam hal-hal yang terkait agar dapat diperoleh grand design secara lebih akurat, bermakna, dan berdampak.
2. Merencanakan atau membuat grand design lembaga berdasarkan  nomor 1.
3. Memastikan minat/bakat/kesukaan siswa terfasilitasi.
4. Memperbaiki kualitas pelaksanaan kegiatan belajar/latihan/administrasi/konsistensi dengan meningkatkan semangat Guru dan murid berprestasi dan disiplin, adanya media-media pendukung yang nyaman, efektif, dan efisien serta adanya reward.
5. Dokumen/administrasi/pelaporan yang profesional.
6. Menciptakan upaya terciptanya hubungan antara lembaga dengan siswa dan wali siswa secara kekeluargaan untuk saling memahami dan terbangun kepercayaan dan kerja-sama.
7. Adanya hubungan/dukungan/pengawasan/kemitraan dari berbagai pihak, khususnya dilingkungan lembaga.

sudut

Semua keceriaan yang sangat berwarna ini tentu akan sangat aku rindukan, terkadang segala kecewa ku pada kehidupan, teringankan dengan tawa dan senyuman, bukan dari apa yang ku alami, namun dari orang lain juga. Terkadang jiwa ku yang tertekan tanya menjawab sendiri, mengapa tidak saja aku melihat segala pernak-pernik yang terbuka dan mengundang tawa dan bahagia, mengapa aku hanya mengingat kecewa tapi melupakan segala bahagia?. Setitik hitam dihamparan kertas putih ? Mengapa tak ku sebut kertas itu bisa dikatakan jauh lebih banyak putih? Mengapa aku selalu mencela "kotor!, ternoda, buang!". Ohhh, mengapa....

harap

Saat mata ini mulai lelah memandang, ku tutup mata ku agar tenang, ku arahkan jiwa pada bayang-bayang, aku seperti layang-layang, terkadang tenang kemudian juga bergelombang, terkadang aku tersesakkan oleh pertanyaan dan juga keraguan, kemana ku serahkan kehidupan dan kematian, saat aku datang kau pulang, saat aku pulang kau datang, siapakah pada mu wahai kebenaran?, untaian tulang dan balutan daging ini sudah coba ku telan, namun begitu sulit untuk ku sia-siakan, ombak-ombak ini tentu membuat ku bergoyang, terkadang pula terjangan angin kuat menghadang, gerak langkah ku terasa terpenjara, mata hanya menatap dibalik jendela, menelan semua rasa yang tersuguhkan oleh nyata kehidupan, dan diakhir aku masih merasa banyak menang penuh keyakinan, tentu kemenangan semu dan tak terkonotasikan oleh hal kecil sekalipun meskipun, tentang apapun walau setetes embun yang terjatuh diantara dedaunan, suara air mungil yang menentramkan, desiran angin  yang melembutkan, bintang-bintang yang berpendaran, pepohonan yang meneduhkan, suara burung-burung bernyanyian, semua nampak sempurna sebagai penglihatan, tentu aku menyembunyikan sesuatu yang tak ku sebut sebagai kekurangan, hanya karena ku tak tahu rahasia kecantikan apa yang akan kau nampakkan.  Tentang keindahan-keindahan yang diperburukan, mengapa harus ku telan mangsa yang layu dihadapan keagungan ku sebut sebagai suatu kemuliaan?. Ohhhh.. Ku tanyakan pada mu wahai pencipta segala warna-warni yang menyilaukan, segala apa yang kau tumbuhkan tak pernah membuat makhluk mu tegak berdiri, semua akan tersungkur dihadapan kuasa mu, Namun semua itu apakah untuk ku? Atau kau hanya sekedar menipu?, semua nampak pemberian mu atau permainan mu?. Pantaskah kau memberikan sesuatu lalu kau ambil lagi dari ku?, segala macam dealiektika manusia membuat otak ku tak sanggup menampung, segalanya tak pernah menjadi keyakinan lagi tentang setia, lalu kau seperti mencoba melambaikan tangan mu pada ku, sambil mengejek ku, belumkah kau dewasa wahai pemuda?, untuk apa kau serahkan hati mu pada semua itu, hal apa yang kau tunggu untuk tidak segera datang dan memelukku?, aku cemburu!. Kau hamba ku, aku mengharap kau juga mengerti tentang aku, bukan hanya tentang ciptaan-ciptaan ku yang semua tergantung pada ku!.

Wednesday, December 11, 2019

selalu menemani mu setiap waktu

Mari, aku adalah sahabat setia mu dalam hidup, bahagialah..., aku selalu menemani mu, lihatlah aku selalu ada dalam setiap detak nafas mu. Aku bersama mu, tenanglah, aku menyediakan kedua tangan ku untuk menguatkan mu, selalu, aku pasti menyayangi mu, sungguh sangat menyayangi mu, aku akan selalu bersama mu setiap waktu. Aku ada untuk mu, selalu untuk mu, bersama mu, menemani mu, tak sedetik pun terlewat, aku menjaga mu, aku berbagi segala, tenanglah... Senyumlah sahabat ku, aku tak memiliki sahabat kecuali diri mu, tak ada makhluk yang lain, hanya diri mu dan aku, hidup ku adalah hidup mu, mari kita membahas sesuatu, mari tertawa bersama-sama, aku selalu tersenyum melihat mu dalam segala hal, aku juga merasakan segala apa yang kau rasakan, dan itu sangat indah... aku selalu ada bagi mu, aku adalah tempat kembali mu, ketenangan mu disini bersama ku, selalu berharga, aku selalu bahagia, hanya bersama mu, aku dan diri mu. Tak usah takut... Semua akan kita lewati bersama. Ayo Luk.., terus bersama ku, kita jalani segala apa yang ada, didunia ini maupun saat setelah kita mati bersama, kita akan hidup lagi bersama, rasa kasih sayang ku pada mu, selalu berharga dan aku tak akan melewati segala tanpa diri mu. Tenanglah.. Aku ada.. Aku ada.. Selalu bersama mu dalam segala.... aku bahagia, aku bersyukur dengan mu.

pemadaman

Semua perjalanan yang telah ku tempuh, tak menentukan telah sebarapa jauh jarak ku, segala waktu berputar dalam gelap, dan ombak yang menjadi pijakan ku, tak ku tahu menggiring ku kearah pantai asal atau tuju, terkadang awan menyelimuti segala tanda, dan hujan membuat mata terkatup, aku takut membuka mata karena perih kejatuhan sebutir air begitu kuat menghantam jiwa, siapa tahu pusaran telah menyesatkan ku?, karena kepalaku tertutupi selimut hangat selama musim dingin belum berganti, atau keterlenaan ku dalam ke-tak-acuhan menikmati berbagai kejadian?. Terkadang angin dan panas membuka celah-celah dinding yang rapat, dan aku mencium bau kepada cinta abadi dan kerinduan yang tersadar bergejolak diantara palsu dan benar, benar dan palsu. segalanya yang ada diluar diri ku, keberadaan ku tetap hanyalah seperti buih yang menunggu matahari menjemput dan melenyapkan, semua tak dapat ku kendalikan.

Tuesday, December 10, 2019

prasongko sing nyikso

Banyak waktu telah berlalu, semua ini aku coba mengerti, semua terjadi dan tak mampu ku hindari, banyak hal telah terjadi, senyuman dan tangisan sudah menjadi sesuatu yang normal. Apa yang nampak dapat ditutup-tutupi, tetapi apa yang ada dalam hati akan tetap menjadi rahasia abadi, setidaknya mungkin berahir hanya saat setelah mati. Ditubuh yang tak tergores pisau dan tak tersulut api akan nampak baik-baik saja. Dibalik senyuman itu terdapat kesadaran yang kuat untuk terus berpura-pura demi kebaikan bersama. Pukulan-pukulan pada hati, kuatnya kesabaran, dan terus mendekat pada pencipta masih menjadi keyakinan sebagai solusi. Jika dalam keadaan bertahan, setidaknya semua itu cukup memeberikan harapan dengan kesadaran yang lebih baik. Prasangka demi prasangka akan dapat membunuh diri sendiri, maka terus berusaha agar prasangka itu setidaknya tidak terlalu buruk lagi. Bagaiamanapun payahnya keadaan dibanting-banting oleh fikiran dan hati, hidup akan terus menghadapkan pada keberlanjutan hidup. Tegarlah, kuatlah untuk beberapa waktu, setelah itu Tuhan akan menjemput.

Wednesday, December 4, 2019

Friday, November 22, 2019

kedua

Tuhan, aku bertanya tentang cangkir yang kedua, sahabat dari kekasih mu menyembunyikannya pada ku, mengapa dia boleh meneguknya, sedang bagi ku mengangkat cangkir pertama saja tak mampu?, mengapa tangan ku terasa lemah?, apakah aku ini hanyalah sebagian dari sebaran kerikil hitam biasa?, layaknya binatang ternak yang begitu taat karena ancaman pukulan?. Mengapa saat aku bertanya jawabannya selalu rahasia?, apakah jika aku tahu maka akan ku hancurkan dunia?. Atau mereka menyembunyikan semua itu dari ku karena kedewasaan ku setingkat balita?. Yang saat diberi sendok hendak mencongkel matanya sendiri untuk dimakan?. Aku hanya bertanya pada mu, ku tahu kehidupan ku sendiri yang akan berjalan, suara mu tak mampu ku dengar, tapi cahaya mu ku harap menuntun ku. Karena aku hanyalah hamba mu yang biasa, menjadi budak dan dewa dalam buta.

Thursday, November 21, 2019

aku bangga!

Kepalan tangan mu yang geram dapat kau alihkan dengan menghantami tembok dan karung padi, tak apa jika tangan mu pernah marah menghantami kepala mu sendiri karena kau anggap isinya sangat naif dan bodoh. Jiwa mu yang mendidih tak membuat mu melepas segala emosi pada makhluk selain diri mu sendiri, tak apa kau cerca takdirnya karena sampai saat ini kau masih memiliki kesempatan untuk terus mendekat dan bersujud. Banyak hal yang sudah berhasil kau kendalikan, jatuh bangun mu sudah ku amati dengan cukup teliti, dengan derasnya air mata yang kau jatuhkan, rasa kemanusiaan yang terus kau haluskan, dan semua doa yang kau panjatkan, semua itu sudah sangat mengharukan ku. Biarlah saat ini aku hanya bercerita seakan dunia hanyalah ada tentang diri mu, karena aku sangat mencintai mu, aku mencintai mu tanpa pernah berpisah dari mu, dari lelap sampai terbangun, dari lahir sampai mati dan dibangkitkan kembali. Panas yang kau genggam tak membuat mu melepas segala apa yang kau simpan, keindahan perasaan mu akan ku catat selamanya dalam hati, segala celamu akan ku ingatkan kembali untuk kau perbaiki, tetapi aku bangga!, mata mu sudah tak pernah satu dalam melihat jalan, kau juga seorang penyimpan rahasia ulung wahai pemuda!!!, kekokohan mu akan ku ceritakan pada malaikat-malaikat jika kau telah mati. Lanjutkan perjalanan mu wahai jiwa yang sepi, semoga kau terus menjadi lebih baik, semoga kau menemukan apa yang selama ini kau rindukan.

Wednesday, November 20, 2019

diri sendiri

Aku hanya mengalami sebagai diri ku sendiri, tentu kebanyakan apa yang ku sampaikan berdasarkan sudut pandang ku pribadi, jika aku menilai terlalu kuat pada orang lain, sebenarnya aku telah berdusta, karena bagaimana pun pandangan ku tak pernah bisa utuh, karena aku tak pernah hidup sebagai orang lain.

pendapat

Jangan menjahati orang tua, bukan jangan tidak mematuhi orang tua.

semua

Segala sudut pandang, segala kemungkinan dari segala ekspresi, semua sudah terangkum dalam kuasanya.

mantap

Pada waktu yang terus berjalan, diamatinya pergerakan usia, namun tak banyak yang berubah, kaki masih saja bergetar memijak bumi, mungkin karena mata masih sangat fakir dari cahaya langit.

Sunday, November 17, 2019

syekali banget

Menikmati manisnya kehancuran akibat diri sendiri.
Terimakasih Tuhan, rasanya segala cela ku ini layak mendapat hadiah yang lebih dari ini, tapi jangan dilebihkan lah ya... Begini saja sudah membuat diri ku merasa wow mantap...😄😄😄😄

lihat

Aku tak mengerti tentang bagaimana engkau hidup di waktu muda, tentang apa motif-motif dari setiap gerak langkah mu kala itu. Bagaimana mereka mengharapkan mu, sedang kau tak pernah menyapa mereka, bagaimana aku menggebu percaya, sedang kelemahan ku minim rasa, sekedar se-sendok sirup dari membaca. Dari mereka yang mengaku mendengar mu, aku belajar tentang adanya lintas waktu, itu memberi ku harapan, tapi belum meluruhkan luka. Ku katakan pada mu bahwa aku ada sedikit akal, aku pernah menuduh mu bahwa cinta mu tak dapat ditiru, aku menuduh mu dengan benci, karena otak ku kala itu terasa tuli, ku caci pada hati mu tentang takdir ilahi, jika engkau begitu pemalu untuk tidak memberikan apa yang diharapkan dari mu, maka bagaimana kau terangkan apa yang kau bawa itu untuk ku?.

satu

Aku terjatuh dan terkapar tak berdaya, sudah lelah ku memanjat dinding setinggi angkasa, buah yang menggantung tinggi itu hanya bisa ku awasi dengan doa, ku tahu bahkan sebenarnya nilai jiwa ku tak berharga sebagi penjaga. Menebak bagaimana pohon dibalik tembok itu dapat tegak menyihir ku, seperti halnya aku mampu menduga waktu kematian yang tak pernah ku tahu. Maka biarlah ku coba dan jalani semampu ku, setetes embun tak pernah jatuh tanpa seizin pengendali waktu.

Tuesday, November 5, 2019

sila 2

Pancasila itu kemanusiaan yang adil dan beradab!. bukan hukum agama yang adil dan beradab!.
Pancasila seperti itu aku rasa memang sudah sangat benar.
Hukum agama bisa digunakan hanya untuk legitimasi ke-egoisan yang merugikan orang lain kok, apalagi kalau hanya dikendalikan nafsu ya jadi menjijikkan...
Yang salah bukan agamanya sih, tentu ya orang yang menyalah-gunakan agar mendapat pembenaran terhadap kesalahan.
Model menungso sing moh disalahno.

ojo

Ojo sok ngerti meskipun koe ngeroso yo wes pernah ngalami, mergo koe ora ndue coro nimbange. Ojo kakean lambe, mergo ojo-ojo malah ndadekno wong liyo lungo.

ora podo

Jika tubuh menaiki pohon tinggi lalu terjatuh, tubuh dapat menjadi lumpuh. mengapa kau mencela mereka yang punya sakit hati dan tidak sembuh-sembuh?. Bukankah manusia itu makhluk jasmani dan rohani?. Tahukah bahwa seseorang ada yang menaiki pohon karena butuh untuk mengambil buah dan memang ada yang hanya sekedar bermain-main!. Jika kau ingin menilai dengan benar apa yang terjadi terhadap diri seseorang, jadilah seseorang tersebut!. Jika tidak bisa, dan memang tidak bisa, maka menjaga mulut untuk tidak terlalu keras berkomentar terhadap apa-apa yang ada pada diri orang lain, itu terasa lebih adil. Dokter jasmani tidak selalu memiliki solusi bagi penyakit tubuh yang terlihat dan dapat diukur, mengapa engkau seakan memiliki segala solusi untuk sakit rohani yang tidak dapat dilihat bahkan diukur?. Lebih baik berbicara tentang perkara ilmu, bukan tentang masalah kehidupan pribadi orang!. Ojo sok ngerti meskipun koe ngeroso yo wes pernah ngalami, mergo koe ora ndue coro nimbange.

Thursday, October 31, 2019

rasanya beberapa hari off nulis dulu...

Masih sibuk dengan perkara-perkara hahahahahahahahahhahaahhahahaha
Lebih baik memang diam dulu...

Monday, October 28, 2019

akan besok

Besok, akan, besok akan, besok akan, dan seterusnya... biarlah, besok menjadi harapan dan akan, akan terus menjadi niat yang baik. Itu adalah bagian dari nyala kehidupan.

babi

Penaku bukan lagi dari tinta, tapi dari sentuhan jari pada layar smartphone. Tawa ku bukan lagi dengan bibir terbuka, namun dengan simbol emoticon.
Satu-dua jeratan yang melilit di jiwa, ku terima dengan pengertian. Ku tahu bahwa kehidupan masih ada, Waktu di depan ku pandang dengan keberanian. 
Kehangatan sang cahaya tak pernah mati setelah terganti oleh malam, dan ketenangan malam tak pernah egois menyingkirkan siang.
Hari berganti hari, dengan cepat seekor burung yang bebas terperangkap dalam sebutir peluru. Tubuhnya tak pernah terpenjara, namun jiwanya mulai menguap karena panas darah mendidih berjatuhan pada karpet langit. Mencari air dengan mengendap-endap, layaknya manusia yang menjadi babi, namun binatang yang bermata tajam, hanya akan mencari dan mati.

Saturday, October 26, 2019

sumber mata air cinta

Aku sekarang sedang berjalan-jalan menempuhi kalimat demi kalimat, menelusuri jejak-jejak rahasia Sang Pencipta dari tulisan. Jika diri ini hidup karena sentuhan Sang Kuasa, maka aku ini bagian dari Yang Esa. Ku langkahkan pikiran dan hati ku, agar aku mengerti. Ku langkahkan telapak kaki ku agar aku melihat. Tubuh dan jiwa bersatu, tubuh adalah kendaraan, sedangkan jiwa adalah pengemudi. Aku berjalan-jalan dengan segala macam harapan, aku ingin menemukan sumber mata air cinta, aku kehausan, aku ingin mendapat secangkir arti dari diri ku untuk mu wahai Tuhan, guyurkan cinta kasih mu pada ku, agar tanaman yang ku jaga ini bercahaya segar.

Friday, October 18, 2019

Hiduplah kembali

Sudah dan masih juga debu ini diterpa angin yang tak mengenal arah, kesana-kemari berputar melingkari masa demi masa, terbanting di atas tanah, terlempar keras pada dinding, dan melayang-layang terhempas ke tempat yang asing. Debu yang tak pernah dilahirkan hanya mengaku sebagai serpihan batu, anak manusia yang tak mengerti cinta hanya akan mengenal Tuhan dengan jari-jemarinya. Betapapun kering korantangnya diri mu wahai debu, meskipun tak ada air yang tersimpan, walau rintikan hujan hanya akan menyapa mu dan akan jatuh pada hati bumi, tegarlah!, atau anggaplah saja engkau adalah burung yang percikan darahnya pernah menyentuh mu, ingatlah..., tak apa saat ini memang malam dan gelap, besok pagi tegaklah kembali, carilah senyuman meski hanya dari tarian seekor ulat. Oh debu... Kuatlah saat hembusan nafas menyingkirkan mu, bertahanlah  saat diri mu terusir dan terbuang. Lihatlah..!, banyak mata telah buta, namun pikiran banyak menduga dan mulut sangat fasih berbicara, pahamilah... Ohh debu..., namun ketiadaan apapun dari diri mu tak selalu lebih murni dari mereka, semua itu bukanlah kemenangan mu, hanya harapan pada pandangan mu agar tercerahkan kembali, tenanglah... hiduplah kembali esok, atau lebih-lebih nanti, jika sekarang mati, hiduplah kembali, mati, hiduplah kembali!.

Thursday, October 17, 2019

Layang

Jika tubuh telah terkekang, biarlah jiwa yang melayang-layang.

Pohon

Ku pejamkan mata ku, ku lemparkan pikiran pada khayalan, terciptalah pohon indah ku. Sekarang aku dibawahnya, aku bersandar pada dahannya, akar-akarnya selembut selimut, ranting dan daunnya berombak indah tertiup angin, dan aku merasa sangat teduh, tak ada panas tak ada dingin, aku merasa sangat nyaman, bersama para sahabat yang penuh kedamaian, kucing, burung, monyet, kupu-kupu, lebah, ular, sapi, dan kuda. Aku berteman dengan mereka dan aku mendapatkan cerita yang sangat aku nikmati, air ada dihadapan ku berupa sungai kecil yang jernih dan segar, ini adalah kerangka surga, dan aku akan menyempurnakannya dengan apa yang akan diberikan Tuhan pada ku. Layakkah aku menyebut nama mu Tuhan?, saat apa yang ku sampaikan pada mu hanyalah kebutuhan demi kebutuhan?.

Saturday, October 12, 2019

Esok

Besok aku akan mencoba melangkahkan kaki ku, dengan keberanian dan pasrah pada ketidak-tahuan, menuju pada dunia yang baru. Saat ini aku mencari cara, untuk bagaimana menyangga tulang-tulang ku yang retak, menjahit daging-daging ku yang tersobek, dan mengisi gas jiwa ku yang sebagian murninya telah menguap. Aku tak pernah tahu bagaimana pada akhirnya, di sini terasa panas gersang dan banyak perang, oleh sebab itu waktu yang ada depan menjadi sasaran kepergian ku. Disini aku telah banyak menunggu, tapi kelemahan ku menghalangi segala rencana. Keraguan untuk hilang, karena terkadang sebagian Ketakutan menghalangi ku dari bencana, dan keberanian mengantarkan ku pada masalah. Hendak kemana tak begitu penting, yang terpenting kaki ku menapaki jalan, dan rasa kantuk ku biarlah menjadi alasan dimana pun bumi dapat menjadi ranjang ku. Banyak orang bertanya, mencari jawaban, satu kesamaan dari semua manusia, tentang persoalan kehidupan, namun tak banyak yang berani bertanya pada mereka yang mengaku menyampaikan perkataan Tuhan, dan mereka pun tak pernah sampai detik ini mampu memberi jawaban yang memuaskan.

Thursday, October 10, 2019

Cerca

Banyak orang mencerca dengan berkata "Pikiran dan perasaan ku terasa sulit untuk memaklumi tindakan brutal para ekstrimis dengan dalih agama!", padahal mereka para mulut lintah apakah pernah untuk kebaikan diri maupun bersama meskipun hanya berdoa dengan sangat gigih?, apalagi sampai bertindak hingga mengatarkan diri di ujung siksa hukum seperti para teroris?. Semua orang harus melakukan refleksi diri, karena menjadi penonton hanya akan mampu bersorak-sorai, dan pemain selalu beresiko untuk dipuji dan dihina. Tidak ada pembenaran bagi pelaku keburukan, namun cara pandang diri pribadi harus pula dipertajam. Kebenaran adalah persoalan yang harus disimpan dan dikelola dengan baik, seseorang berkata "kebenaran itu berada di dapur!, kebaikan adalah hal yang terutama harus disuguhkan!". Semua orang dapat menerima kebaikan, tapi belum tentu kebenaran. Semua orang dapat menikmati hidangan yang lezat, namun belum tentu semua orang mampu memasak. Bukankah berbeda orang yang tahu dengan yang tidak tahu?, kitab mengingatkan. Jika terkesan orang yang mengaku menjalankan perintah Tuhan mati perasaannya dan karatan pikirannya, apakah probabilitas alasan karena terlalu sibuk dan lelah dengan aktivitas bisnis pahala terhadap Tuhan dapat dipertimbangkan?, sehingga pengasahan pikiran dan perasaan tidak menjadi jumud dan kemudian tumpul?, atau apakah karena Tuhan yang mereka pahami berdasarkan pengalaman adalah Tuhan yang maha Sangar?. Kita familiar dengan pernyataan bahwa seseorang memperoleh kebenaran dan seseorang yang lain berbuat baik. Hal tersebut tentu mengindikasikan bahwa dua hal tersebut memiliki wilayah dominannya masing masing. Mengingat kata-kata "Sebelum beragama seharusnya hewan berwujud manusia memiliki "kemanusiaan", sehinga setelah beragama, agama tidak menjadi korban dari dirinya. Agar tidak terjadi bahwa agama yang saharusnya suci dan indah menebarkan kedamaian, malah terasa culas kotor menebarkan pertentangan dan teror. Bukankah wahyu turun untuk seluruh manusia?, lalu mengapa seseorang menggunakannya hanya untuk kepentingan pribadi?, Tuhan pribadi?, surga pribadi?. Bagaimana seseorang mengaku cinta pada Tuhan, padahal yang dipikiran hanyalah bayangan surga?. Mata Qais dipenuhi laila, bukan rumahnya. Untuk ukuran kebaikan dan perbaikan, pemakluman dalam arti pengusahaan, pembenaran terhadap hal yang tidak benar menjadi kadang perlu.

Tuesday, October 8, 2019

Apalagi

Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti,
atau memberi ular, jika ia meminta ikan?
Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya."

Siapakah

Siapakah diantara diri mu wahai manusia, yang akan ridho dan ikhlas saat kau dilempar ke neraka oleh Tuhan?.
Siapakah diantara diri mu wahai manusia, yang sanggup berbagi neraka dengan sesama atau dengan orang yang kau cinta?. Tahukah kau seperti apa rasa neraka?. Sanggupkah kau berbagi mata saat orang yang kau kasihi buta?. Sanggupkah kau berbagi kaki saat kaki orang terkasih mu putus?.

Rata

Tentang persoalan pemikiran, bukan persoalan sosial. Kehidupan berawal dari pencipta, manusia dahulu telah mencari siapa, bagaimana, untuk apa, dan lain sebagainya tentang keberadaannya yang ada. Manusia banyak berkata tentang "manfaat", mereka berkata itulah yang terpenting, "manfaat" itu, bukankah sesuatu yang melegakan, yang memenuhi kepentingan "dapat dimanfaatkan"?. Lalu apa bedanya mengejar "Tuhan" atau mengejar "benda"?. Bukankah semua timbul dari yang namanya kehendak untuk "mengambil manfaat?". Aku bertanya bukan karena aku menggurui, tapi aku bertanya untuk diri ku sendiri agar jalan yang ku tempuh terhaluskan oleh kebijaksanaan.

Monday, October 7, 2019

Lihat

Aku melihat dengan mata ku, ada banyak warna-warni dunia. Aku begitu terkesan melihat induk ayam dengan itik-itiknya, kucing dengan anak-anaknya, mereka seperti benar-benar memiliki cinta kasih. Sungguh aku yakin bahwa hewan benar-benar memiliki kasih sayang. Aku juga sangat terkesan saat memperhatikan mata-mata binatang, aku ingin bertanya adakah tanda bahagia atau kesedihan yang tersimpan. Namun aku tidak tahu, bagaimana pun aku tak mampu menerka hati binatang, bagaimana aku menuduhnya sedih saat mereka tak pernah menghawatirkan kehidupan di masa datang, tak punya ingatan dimasa silam, bukankah ingatan yang menyebabkan makhluk berpengetahuan?, apakah binatang tak berpengatahuan?, mungkin saja para binatang punya pengetahuan tapi terbatas berdasarkan bawaannya saja. Lalu bagaimana dengan manusia?. Aku memiliki telinga, untuk mencoba menebak, membedakan mana suara yang baik dan mana suara yang jahat. Aku memiliki tubuh untuk merasakan nikmat dan sakit, begitu pula jiwa memiliki bahagia dan derita. Menurut ku, Aku telah mencari di banyak tempat, tapi sangat sedikit untuk ukuran kesungguhan, yaitu tentang makna kehidupan. Disebelah timur berkata bahwa tak perlu mencari titik 0, cukup memiliki pengetahuan, kesadaran, dan kedisiplinan, serta cinta kasih akan mampu mengantarkan diri pada lingkarannya. Disebelah barat mengajarkan, percaya pada manifestasi berupa anak manusia yang dikorbankan, akan membuka surga. Di sebelah selatan berseru "ikutilah jalan kebajikan, putuskanlah lingkaran yang tak bertepi, maka kebebasan akan tercapai". Sebelah Utara menjelaskan "pahamilah apa yang ku kabarkan, laksanakanlah semampu mu dijalan kebajikan". Semua terkadang dipahami oleh para lemah yang bersandar dipunggung kesombongan. Semua hanya bisa mencela pada matahari saat bumi tak mampu mencahayai diri sendiri.

Thursday, October 3, 2019

Ada masih

Aku masih percaya di dunia ini memang ada orang-orang yang benar-benar mulia, orang yang benar-benar penuh dengan kasih dan tulus, bahkan andaikan tidak ada surga atau neraka, meskipun mereka tidak mempedulikan Tuhan.

Wednesday, October 2, 2019

Tawar-menawar

Orang pasti tidak suka diposisikan atau dibuat susunan sebagai daftar alternatif. Siapapun merasa tersinggung dengan cara demikian. Ini perkara kehidupan, bukan perkara penghidupan. Kalau segalanya dibuat seperti "enyang-enyangan", rasanya kayak apa ya kalau kehidupan isinya cuma "enyang-enyangan" melulu, rasanya seperti tak bermakna, hampa kayaknya.

Tuesday, October 1, 2019

Berantai

Pukulan yang melukai tubuh seseorang, bisa jadi sama sekali tidak dirasakan oleh orang tersebut. Karena lebam dan sakitnya telah ditanggung oleh orang lain. Persoalan ketidak-tahuannya adalah bahwa mata manusia satu pada lainnya masih dihalangi oleh sebaran debu.

Monday, September 30, 2019

Berkaca lagi

Wahai diri ku, wahai kawan sejati ku, dari dulu kau menemani ku, dalam setiap tawa, engkau adalah imaginasi, dalam setiap air mata, engkau adalah penghayatan. Disela-sela paling hening, engkau adalah kesendirian, bersama ku terbang penuh kebencian dan harapan. Kejujuran mu adalah kedurhakaan mu, sedangkan senyuman mu adalah kebohongan. Di sunyi malam saat kau terbangun ingin membuang kotoran, kau teringat Tuhan, lalu kau tunaikan penyembahan mu yang lemas karena terganggu rasa putus asa. Saat muncul lagi pagi, kau buka mata mu, kemudian kau memandang langit yang bercahaya indah di sebelah timur, kau teruskan perjalanan mu yang penuh guyonan dengan pengalaman yang  baru. Kau pelajari, dan kau harus menelan kekecewaannya, tapi ternyata kita terlupa wahai sahabat, kau lupa siapa yang memanggil mu itu, bukankah mereka juga anak dari buah pikiran mu, yang telah juga tercampur walau jika hanya sedikit dari harapan yang kau cita-cita kan, lalu jangan lagi engkau berburuk sangka atas ketulusan. Sadarlah diri ku, sadarlah sahabat ku. Maafkan aku wahai adik-adik ku.

Dialog

Matahari bertanya pada bumi, "wahai planet yang paling ku kasihi, engkau yang terindah diantara 7 planet lainnya, apakah kau merasa unggul dan bahagia?. Bumi menjawab, "wahai Raja Bima Sakti, aku tak pernah mampu menjawab pertanyaan mu itu, aku dicipta untuk menopang langkah manusia, yang ku saksikan bukan hanya tawanya, tapi juga tangisnya. Bukan hanya madunya, tapi juga darahnya. Hal apakah yang membuat ku bahagia, kemudian membutakan mata ku dari ratapan yang ada?". Bumi berkata "wahai sang perkasa di galaksi, engkau memang memberikan ku terang, tapi kelelawar adalah bagian dari penghuni ku, cahaya mu baginya adalah panah-panah yang menusuk mata. Surya berkata, "aku tak mampu menembuskan api pada awan-awan yang berkumpul kokoh pada atmosfer mu, aku tak mampu menguapkan hujan sebelum jatuh di pelataran tubuh mu, aku hanya melakukan sebatas kemampuan ku". Bumi berkata, "demikian pula aku menyediakan ikan-ikan pada lautan yang luas, sumber mata air yang segar, aku juga menumbuhkan berbagai pepohonan di atas tubuh ku. Semua itu hanyalah sebatas kemampuan ku memenuhi penghidupan mereka para penghuni ku. Segala apa yang aku berikan, belum tentu membuat mereka lepas dari tangis". Matahari bertanya, "bagaimanakah manusia yang hanya seukuran debu itu bagi ku?, mengapa memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar dari kita?. Padahal kau tahu, hanya setitik saja ku ludahi kepalanya, maka tengkoraknya tak akan bersisa". Bumi berkata, "aku tahu itu, dengan hanya cambukan sehelai rambut kilat ku, manusia juga akan tercabut nyawanya". Matahari bertanya "lalu, wahai Bumi yang selama ini menjadi ibu bagi rumah-rumah manusia, siapakah menurut mu manusia itu?". Bumi menjawab "aku juga memiliki penghuni, yaitu semut, aku melihatnya mampu memikul beban yang lebih besar dari tubuhnya sendiri. Ada lebah yang mengepakkan sayap dengan sangat cepat dalam satu detiknya, namun sayapnya tidak pernah terbakar. Ada ulat yang berubah menjadi kupu-kupu, dan ada jauh lebih banyak lainnya, aku sendiri tak mampu menghitungnya, aku hanya mampu melihat sedikit hal dari apa yang ada di atas pelataran ku, Tuhan sangat berkuasa atas segalanya, aku menyerah. Wahai sang surya, Aku menduga bahwa manusia lebih kuat dibanding kita karena mereka memiliki sesuatu yang tidak kita miliki, yaitu perasaan yang mampu berkorban demi cinta kasih, berlaga demi kebajikan, dan berjuang memperoleh kebenaran. Mereka diuji dengan beban tubuh, pikiran, dan hati. Mereka terus bergulat meskipun seandainya tidak memiliki musuh, karena setiap hari mereka harus menahan atau melawan serangan yang muncul dari dalam diri mereka sendiri yang tak nampak. Wahai Sang Surya, kita hanya dapat melihat air mata yang mengalir, darah yang berjatuhan, dan terikan yang memekakkan telinga, namun kita tak pernah tahu, sedalam dan sekelam apa sumber dari semua itu muncul dari luasan jiwanya. Lebih baik kita melakukan Tugas kita apa adanya, karena yang ku tahu dari sedikit rahasia tentang mereka, bahkan hanya sedikit di antara mereka yang mengetahui makna-makna yang ada terhadap sesamanya, apalagi kita yang hanya menyaksikan tanpa pernah menjadi manusia".

Wednesday, September 25, 2019

Go

Lalu aku merdeka, aku bahagia, aku tertawa,  aku jadi butiran udara, di semesta.

Wes

Suatu saat aku akan memiliki sayap, tubuh ku dapat menembus setiap dinding, dan menggapai dasar laut. Aku telah menanti hadirnya Tuhan, bersama dengan ku berjalan, menceritakan segala makna dan rahasia. Aku menunggu Tuhan, menemui ku dengan senyum dan guyonan, seperti manusia yang bertemu sahabat lama. Ohhh... Waktu ku nanti-nanti, segala apa yang ku lakukan bukanlah untuk mu Tuhan, tapi karena dalam diri ku ada cinta kasih, tapi engkau pun tahu, aku ingin bersama mu, aku takut kuasa mu, aku ingin rahmat mu. Kau tahu, sudah terasa terbakar tubuh ku, otak ku telah terbongkar, dan hatiku telah runtuh. Lalu aku disini, menunggu, engkau akan menghidupkan ku lagi dimana... Apapun mengapa tak pernah kau ingin disalahkan?. Lalu kau tahu seperti apa makhluk mu, lalu aku yakin kau akan memaklumi, kuasa mu akan terjadi, sebagaimana kata hati dan takdir mu ku nanti, harap ku indah itu akan ku temui.

Tuesday, September 17, 2019

Orang-orangan

Masa kecil ku.
Saat ku tahu, manusia tak selalu mampu meneduhkan pikiran, maka aku hanya akan bersama para kawan kecil ku, batu-bata yang ku susun sebagai bangunan, ku cipta dunia milik ku. aku penentu cerita kehidupan, dan akulah dibalik setiap geraknya, awal maupun akhir. Aku adalah Tuhan dalam dunia ku. Pada saat bermain itu, aku belajar, aku berkontemplasi, membuat ukuran kecil bumi dalam segundukan pasir, ku coba hayati perjalanan waktu, ku amati kejadian-kejadian. Kemudian, aku merasa janggal, bahwa sebenarnya Tuhan mampu membuat surga dengan tak usah banyak hiasan, seperti halnya aku dapat memiliki sesuatu yang sangat sederhana, mainan yang hangus karena ku perankan sebagai korban "bom bawah tanah", terlempar, gosong, namun hanya keberanian, pantang menyerah, senyum, tanpa rasa sakit meskipun sekarat, begitu aku menyeting kehidupan para mainan makhlukku yang ku beli dan ku modifikasi, aku tersenyum mengingat ini kembali, rasanya baru kemarin aku sebahagia itu. Aku masih ingat, betapa kesendirian ku sangat seru. Bahkan aku sangat tidak suka bermain bersama kawan, aku lebih suka bermain sendiri, aku sudah merasa tertemani oleh keramahan imaginasi, terlintas aku berfikir, Tuhan itu sendiri, namun dia bahagia sebagai dalang kehidupan, sayangnya makhluknya dapat merasakan kesakitan jiwa maupun raga, aku dulu dengan hati menentukan arah kehidupan wayang-wayang ku, apakah kau juga begitu Tuhan?. Dengan hati?.

Friday, September 13, 2019

Arak

kisah seorang anak yang kehilangan tawa Sejak saat masih kecil. Seperti halnya manusia lain, ia tak pernah tahu alasan kehidupan, pun ia tak pernah tahu  tentang apa yang akan datang, dia menerima suatu kenyataan yang menyakitkan. Seperti halnya pula manusia lain, saat dia menginjak dewasa, dia mulai mencari makna. Suatu saat dia merasa bahwa menjadi bijaksana itu memang harus bersama cinta, tanpa cinta dunia ini sama sekali tak berguna, dan kau sulit mampu bertahan menjadi orang yang baik jika hidup mu sama sekali tak bersama cinta. Kebaikan di dunia ini muncul hanya karena cinta kasih. Karena sampai detik kehidupannya saat ini dia merasa tak juga menemukan kepedulian Tuhan, tentu apa bergunanya lagi keberadaan. Maka jika ada manusia yang berputus asa, dia akan juga mengerti tentang apa yang ada. Maka dengan jujur dia berkata, tidak apa-apa jika kau berputus asa, memang manusia jika kehidupannya banyak tangis, lelah, tentu harus dimaklumi, Tuhan pun harus dimaklumi jika doa yang kita panjatkan belum dikabulkannya bukan?. Berputus asa dari rahmat Tuhan, kau hina mereka yang melakukan itu?, kau tahu setiap orang tak bisa dipaksa seperti pikiran mu, seperti jiwa mu, apalagi seperti model potongan mu.

Thursday, September 12, 2019

Itu

Jika memang kau lihat matahari lebih besar dari bumi, namun kau tahu bumi rusak bukan karena matahari, tapi karena penduduk bumi itu sendiri. Kau menyalahkan seseorang yang kau anggap lebih tinggi, kemudian kau bela seseorang yang lebih rendah karena kau anggap diri mu orang yang pengasih, itu kekonyolan.

Tak boleh

Tidak berhak bagi seseorang ikut campur masalah pribadi seseorang, karena banyak mereka yang terlalu percaya diri hendak membantu menyelesaikan masalah orang lain, malah menambah masalah karena ketidak-tahuan persoalan, nafsu, dan kebodohan. Apalagi ikut campur masalah orang karena kedengkian atau niat buruk.

Wednesday, September 11, 2019

Tuju

Apakah tulisan itu?, mengapa ada karya ilmiah?, Mengapa ada puisi?, karena ketegasan ada dalam kebenaran, dan kelembutan ada dalam kebaikan?. Tak harus suara terdengar, tulisan yang baik pun akan seperti nyanyian. Untuk apa mengutuk kebodohan yang jujur dan malah memuji kepintaran yang licik?. Warna, merah bersama putih menjadi merah muda, mengapa bahasanya tidak putih kemerah-merahan?, karena keindahan ada pada taman, dan simbol ada pada kain. Kau tahu bahwa kau tidak mengerti dalam perjalanan itu titik apa yang kau tuju sesungguhnya, kau hanya berjalanan untuk suatu kemungkinan menemukan sesuatu, puing-puing riwayat mu sebelum kau menerima kahidupan. Mari terus berjalan, hingga jalanan itu sendiri yang menunjukkan diri mu kembali pada diri mu?.

Hebat

Diantara para manusia yang hidup, siapakah yang lebih mulia dari pada malaikat?. aku ingin bertanya, jika malaikat menjadi simbol kemuliaan, maka mereka yang tak menginginkan sesuatu adalah yang termulia, adakah manusia yang tak menginginkan apapun?, kadang pula aku bingung apakah arti mengharap ridho Tuhan, bukankah itu keinginan?, kata-kata itu bagi ku tak pantas keluar dari mulut yang tak ada cinta dihatinya pada Tuhan, bagaimana kau tahu bahwa kau mencintai Tuhan, apakah kau sanggup melihat orang terkasih mu terkoyak-koyak tubuhnya, menjerit-njerit batinnya karena petaka?, apakah cukup dengan berkata itu kuasa sang pencipta lalu kau bisa bahagia?. Satu-satunya hal paling ikhlas dalam hidup adalah "mengeluarkan kotoran", tentu, betapa rendahnya nilai diri, namun aku mencari-cari manusia yang rela menggantikan manusia yang lain memasuki neraka, adakah cinta sehebat itu?. Mereka berbicara tentang penebusan dosa oleh kematian penggembala manusia, mereka berbicara tentang cinta-kasih, cinta-kasih, lalu, mengapa harus hanya dosa, mengapa bukan duka?. Terkadang aku berfikir, perjalanan ini tak pernah selesai, kecuali pula jika Tuhan sendiri yang mencukupkan.

Kibas

Ku kibaskan tangan kanan ku dari cahaya mu, agar tak perlu lagi kebaikan mu membuat ku malu, tapi aku tak mampu mengelak dari semua itu, dari dalam diri mu aku mencerca kuasa mu, ku abaikan segala senyum ku dari segala pemberian mu yang ku tak tahu, jika aku takjub pada neraka yang menyala-nyala, apakah itu membuat ku bangga dan bahagia?, semua terasa melambat haru, panas siang seperti hujan, segalanya aku belakangi dan aku dustai, menyembunyikan pertanyaan tentang apa peduli mu pada teriakan ku Tuhan?.

Wednesday, September 4, 2019

Lakukan saja

Dia bahkan ingin memetik pintu gerbang kekosongan, tapi tidak dengan penyerahan.

Tanya

Jika aku bertanya pada mu Tuhan, apakah kau akan menjawabnya?. Bagaimana cara mu menjawab ku?, aku apa adanya tentang mu, bahwa yang ku tahu kau hanya melakukan sesuatu tentang kebutuhan atau keinginan, kau seperti seseorang yang berkeliling pada jalanan yang dipenuhi peminta-minta, lalu kau mendengar permintaan kemudian kau berikan, jika ada peminta yang tak kau beri, karena ketakutannya untuk mencela mu, mereka kemudian mengatakan dirimu masih menyimpan sesuatu yang lebih baik bagi mereka, entahlah... Aku rasa itu lelucon... Dengan demikian maka bagaimana kah seharusnya seseorang meminta pada mu yang benar?, kau katakan kau akan mengabulkan para pengemis, bukankah manusia lebih dari pada pengemis, dengan begitu dimanakah letak keramahan mu?, jika kau lembut pada ku, mengapa tak kau sentuh diri ku ?. Mereka memuji diri mu seperti manusia buta, atau aku yang begitu durjana hingga batu pun tak lebih keras dari kepala ku?. Mereka menyanjung mu karena takut dan bodoh, bukan karena kesadaran, apalagi cinta. Datanglah... Seperti harapan para manusia untuk hidup tersenyum bahagia.

Darah

Seperti kau pernah melihat burung yang tulang sayapnya patah penuh darah, kau tangkap burung itu, kau lihat burung itu meronta tak ingin kau pandang lemah, meskipun dia tak lagi bisa terbang, dia sendiri, temannya hanyalah rumput yang dipijaknya, namun kau lihat dia terus mencoba menjalani dan menanti hingga mati tanpa harus berserah diri di ujung maut tanpa perang di tangan mu, dia membawa luka perih sampai akhir atau sembuh oleh waktu, dan dia tahu bahwa dia tak pernah tahu tantang waktu.

Friday, August 30, 2019

Flash

Apalagi dengan lintasan kilat-kilat cahaya yang mengundang ketakutan, sendirian menaburkan kekosongan pada lautan sepanjang pandangan, asap dipaksa dusta dan api di perut bumi tetap menyala.

Friday, August 23, 2019

Mata

Aku manatap setiap hari, pada langit, apakah itu mata mu?.

Pindah

Aku ingin pergi, ingin aku menatap indahnya senyuman pagi, sejuknya malam dalam ramai maupun sendiri, aku ingin pergi. Kemanakah langkah ku tertuju  jika waktu telah memanggil ku?, jika keadaan telah menasehati ku dengan lembut kepada tempat yang ku rindu, akankah aku akan menemui diri ku seperti itu?. Tahap demi tahap hidup telah aku jalani, sampai disini telah melewati batas bayangan, beberapa tak ada yang sama sekali terimaginasi. Aku bahagia telah pantas dengan rupa dan usia, dan lebih bahagia lagi jika lebih muda, aku tertawa. Dahulu waktu mengajari ku untuk segera menerima dewasa, dan ternyata terhadap lidah manusia harus waspada, mereka punya pikiran yang disembunyikan kepala, tapi mulutnya bebas buas melahap tanpa merasai makna. Mereka punya hati hanya untuk peduli pada diri sendiri. Setelah beberapa waktu berlalu, 23 tahun berjalan-jalan bersama kaki, kepala, dan hati. Beberapa mengajari, tanpa memenuhi. Memberitahu jalan, tanpa mau mengantarkan. Memberi pesan, kemudian membiarkan. Menjalani... Menjalani... Itulah kata yang masih dapat aku katakan. Aku tak bisa berbohong dengan diri ku sendiri, dan ku rasa Tuhan juga tahu, tapi aku tak tahu bagaimana dia akan memperlakukan ku. Aku tak paham bagaimana Tuhan pada ku.

Thursday, August 22, 2019

Nisan

Ada apa dengan mu?, apa yang terjadi?, mengapa warna wajah mu bersedih?, mengapa bibir mu sangat kering?, mengapa nafas mu begitu kau hayati?, mengapa pandangan mu enggan untuk menyala?, sebenarnya apa yang terjadi?, aku tak tahu dengan apa yang membuat mu seperti itu, mengapa kau tutup diri mu dari pandangan langit, mengapa kau terus menyendiri?. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari jiwa yang telah hanyut terbawa arus kekeringan. Dahaga yang tak kunjung tersegarkan oleh waktu, memang apakah yang seharusnya dilakukan?. Menerima semua ini, atau menenggelamkan diri dibawah tanah, seperti kata pepatah tubuh mu tak akan lagi terlihat, hanya nama mu yang masih dikenang, setidaknya oleh batu nisan.

Monday, August 19, 2019

Kau pun?

Ku tahu bahwa semuanya milik mu, untuk apa aku meminta kepada mu, jika pada saatnya kau juga akan mengambilnya dari pada ku ?. Saat aku tetap ingin memiliki diri, aku bertanya "lalu yang manakah diri ku?". Jika aku bukanlah apapun, untuk apa aku melakukan sesuatu?. Jika engkau melihat apa yang ku lakukan, mendengar suara lidah dan hati ku?, lalu bukankah engkau merasakan apa yang ada dalam jiwa ku?. Jika aku sakit, kau tahu rasa sakitnya diri ku?, jika aku tertawa engkau pun tahu rasa bahagia ku?. Ketahuilah wahai engkau yang aku cari, aku... Aku... Aku tak tahu... Engkau... Siapa... Bagi ku... Dalam hidup ku... Dalam keberadaan rasa ku. Kau tak diketahui, kau hanya bisa diakui?. Lalu seharusnya apa yang aku cari?. Jejak mu?. Lalu tujuan ku?. Keyakinan?, lenyap?, atau... Pertemuan dalam kebahagiaan abadi?.

Baca

Kita tak selalu punya waktu untuk membaca hal-hal yang tak perlu, kita dituntut untuk memahami hal-hal dengan prioritas. Sudah banyak waktu yang terbuang tanpa fokus pada hal-hal yang utama dalam kehidupan dan makna.

Sunday, August 11, 2019

Apakah

Manusia menghirup nafas dari sesuatu yang tak terlihat, beberapa menit tanpa udara manusia akan sekarat. Maka sesuatu yang paling berharga adalah yang tak terlihat, bukan sesuatu yang ku simpan di saku baju, tapi yang ada dalam hati ku. Bahagia itu ada dalam perasaan hati, bukan dalam genggaman tangan. Tuhan pun tak terlihat oleh mata, namun ditangkap oleh bagian diri kita yang tak terlihat bukan?

Saturday, August 10, 2019

Memang?

Karena engkau kuat, bukan berarti engkau tak merasakan sakit, namun karena engkau masih mampu menahan kesakitan itu, dan berupaya menjalani apa yang ada dalam kehidupan. Seseorang yang tak pernah merasakan sakit berarti bukan manusia, mungkin saja wujud manusia tapi hakekatnya benda mati, sesuatu yang dibilas dengan air mata berarti sesuatu itu lebih suci. Kau bisa berkaca dan tanyakan untuk apa air mata itu terjatuh?, untuk menunjukkan hakekat apa yang kau simpan apa adanya.

Friday, August 9, 2019

Kapan

Seseorang meminta hidup lebih lama, dan aku merasa ingin mati sebelum pernah mengangkat senjata, untuk apa aku angkat tombak ku pada manusia, saat jiwa ku kering hampa mati rasa. Harga dari kekuatan ku adalah cinta, oleh sebab itu tak ada yang pantas untuk ku perjuangkan tanpanya. Untuk apa aku terus memeras mata, untuk apa segala tanggungan hati ini, untuk apa aku menengadahkan tangan, tempat ku berdiri terasa seperti nampan yang terpapar api. Dengan segala kesadaran dan kelemahan, dengan adanya perkataan bahwa Tuhan tahu bagaimana untuk membuat ku bahagia, aku menangis bodoh, dan biarlah kebusukan, kekufuran, dan kekonyolan ku yang telah ku akui itu sebagai zikir ku atas ketergantungan ku akan kehadiran mu dalam hidup ku wahai Tuhan.

Thursday, August 8, 2019

Berbanding?

Tidak ada perbudakan untuk sesama makhluk, seseorang bisa berkorban bagi orang lain, tapi bagaimanapun jika seseorang belum tenggelam dan mati ditelan api dalam jiwa, maka tetap seseorang itu akan pula memandang dirinya sendiri, lagi pula siapakah orang yang pantas merenggut  harga dirinya sendiri untuk sebuah egoisme manusia lain?. Apakah seseorang harus memalingkan diri dari sang pencipta demi seseorang yang haus memanfaatkan manusia demi kepentingan dunia dan surga pribadinya?.

Cari Kayu #2

Seorang pencari kayu, hendak mencari penghidupan dan makna diri, dia telah cukup berani memasuki beberapa hutan untuk mencari kayu kering yang sesuai dengan ukuran kapaknya yang sederhana. Saat ini terdapat dua tempat untuknya, sang keluarga kerajaan hutan menerima dirinya untuk bekerja sama, tugasnya adalah tentu untuk kepentingam hutan. Dia mencari penghidupan, makna diri, dan tugasnya adalah sesuai dengan apa yang dia sepakati. Dia berusaha bertanggung jawab, tapi ternyata bukan hal yang melulu menyenangkan. Tapi semoga saja dia bisa menyelesaikan tugasnya hingga ada tempat hidup yang membuatnya tersenyum lebih lebar. Aamiin

Monday, August 5, 2019

Just

Hati manusia lebih banyak berkata-kata dari pada mulutnya. Materi atau jasad tak terlihat saat gelap, namun hati manusia tetap merasakan apa yang ada di dalamnya.

Secuil

Seorang anak manusia, mengendap-endap mencari celah, agar tak terlihat bahwa dia itu hidup, dia anak manusia, namun karena hidupnya penuh sampah, maka dia merasakan dirinya sebagai se-ekor tikus, dia bersembunyi dari para pemangsa, kecakapannya hanyalah melirak-lirik kanan dan kiri, agar jangan sampai bahkan kehadirannya itu ada. Sesampai secuil roti dia dapatkan, dia memakannya sambil menangis kesepian.

Hanya

Aku merasa ingin mencari sejarah kebahagiaan. selama ini yang ku tahu adalah sejarah perjuangan, pengorbanan, dan kepahlawanan. Seseorang menang dari peperangan, dari kejahatan, dari kegagalan, dari persaingan, dan lain-lain, namun intinya bukan menang memenggal kesedihan. Banyak tokoh-tokoh pendiri bangsa, yang namanya harum dan dikenang, bahkan menjadi inspirasi dan pedoman, namun yang ku tahu juga hidupnya penuh dengan api peperangan batin sampai mati meskipun kemerdekaan sudah berada di tangan. Apakah hidup itu hanyalah perjalanan menempuhi semak duri belukar?. Dimanakah jalan lurus penuh bunga bermekaran?. Kapankah aku merasakan lagi bahwa surga itu ada saat hujan datang dan tempe hangat terhidang?, padahal Tuhan, aku yakin kau mampu menciptajan surga sesederhana itu saja, tak perlu kau membuat sungai yang berasa susu dan permadani-permadani indah. Hanya cukup engkau legakan lahir batin ku dengan perasaan puas dan sudah. Seperti anak kecil yang merasa bahagia dengan bermain, dan pulang membawa lelah dan kemudian terlelap damai, dengan membayangkan esok akan ada permainan apalagi yang membahagiakan. Bukankah yang seperti itu adalah surga, bukankah inti dari surga adalah bahagia, memang benar kata orang bijak, mereka yang berbahagia adalah mereka yang tak memiliki beban.

Mati

Di dunia ini ternyata ada banyak hal yang terpendam dalam dada, mata-mata yang layu menatap dunia, bukan karena tubuh sudah tak bertenaga, tapi karena jiwa telah kehilangan rasa. Beberapa manusia merindukan kematian, seperti bocah yang kehausan, dihatinya seperti tak ada rasa ingin memiliki, karena perih rasa hidup seperti sudah terkunci, manusia-manusia itu meminta pada Tuhan, agar segera diterbangkan oleh kematian, sehingga dapat diperolehnya kebahagiaan, obat dari segala kesakitan, baik batin maupun badan. Manusia dengan kesabaran, menanti apa yang Tuhan simpan, dengan tangis dan rasa takut, dia meratap seperti dalam sekarat, sampai-sampai terdapat sebagian yang mati oleh tangannya sendiri, di cabutnya nyawanya yang paling disayangi, karena rasa putus asa pada Tuhan, ohhh betapa kasihan, sungguh aku pun ingin memeluk dan mengantar kematian seperti ini agar pintunya benar-benar terbuka karena kerinduan sudah membuat gila.

Friday, August 2, 2019

Cari kayu #1

Selama ini hal yang ku anggap tidak berharga ternyata menyimpan suatu yang sangat indah. Aku masih mencari sesuatu dari hal yang sangat aku benci, ada apa dibaliknya....

Thursday, August 1, 2019

Panggil

Terbukanya mata ku hanyalah sekedar tetesan embun, dan lenyapnya diri ku seperti awan yang dihempas angin. Aku memang akan dilahap dunia, nama ku akan segera sirna. Sayap ku yang terluka, tidak ada beda dengan mereka yang terpenjara. Setiap nafas yang ku hembuskan, aku bermimpi menjadi bagian yang ada, karena jika nama Tuhan telah membuat ku tak berdaya, maka atas nama apa aku memanggil-manggil nama mu?, penderitaan? atau kebahagiaan?.

Tuesday, July 30, 2019

Dua

Diantara awan dan tanah, dimanakah kaki ku berpijak saat ini?, kemanakah jiwa ku yang menguap itu terkumpul?. Aku, diantara para burung yang terkapar karena peluru, adalah jiwa yang terkoyak karena nafsu. Aku sambung tegakkan tulang kaki ku yang terpenggal oleh pedang pengharapan, aku ingin melucuti mata, telinga, dan batok kepala ku yang berlumuran getah, agar yang tersisa hanya mulut ku yang bernyanyi. Duhai matahari, aku ingin sirna bersama cahaya mu yang bersembunyi membelakangi tempat ku berdiri. Oh matahari yang berjarak, kenapa tak kau lahap diri ku dengan lidah api mu, kenapa engkau harus terus jauh dan selalu hendak menyenangkan ku dengan permainan rayuan cahaya mu, kapankah akan kau tunjukkan pada ku tanpa silau, sesuatu yang suci, berkecambah dari hati, yang hidup tanpa kemudian mati, tidak ada yang lain lagi, hanya satu, tanpa ragu, tanpa berusaha, terus terjaga.

Saturday, July 27, 2019

Mana

Apa kata manusia, hanya sebentuk suara. Apa yang hanya ada karena mata, adalah debu semata. Angin malam mengapa terasa dingin, dan angin pagi mengapa terasa sejuk. Manakah yang lebih engkau hayati wahai jiwa?, saat kau menatap gelap, atau saat kau berkedip menentang terang. Saat matahari mulai terbit, aku seolah hendak ingin menjadi burung yang terbang dalam kebebasan, namun saat gelap mulai datang, aku ingin menjadi air, mengalir saja. Saat air terkumpul maupun tercerai berai maka tetaplah air, sedangkan diri ku, saat tercerai berai, diri ini terasa perlahan berbeda, seperti aku hanyalah potongan demi potongan, dan jika terpecah, maka terasa bukan lagi diri ku. Namun aku bertanya pada ujung jari ku, mengapa kau dapat dikenali sebagai diri ku?. Aku kira saat kau terbakar karena api, kau tidak akan lagi mengaku sebagai diri ku bukan?.

Friday, July 19, 2019

Atas

Aku malu mengatas-namakan Tuhan, biarkan saja aku mengatas-namakan diri ku sendiri, aku tahu rentang jarak ku, dan ku tahu lebih dari manusia lain tentang diri ku sendiri.

Tuesday, July 16, 2019

Yang utama

Orang yang mengaku beriman itu sibuk mencari pahala pribadi atau menyebarkan cinta-kasih pada semesta juga?. Rasul itu diutus untuk menyuruh umatnya solat, zakat, puasa dan ritual wajib lainnya, atau yang utama adalah sebagai rahmat bagi semesta?. Jika kita buka pada surat al-anbiya ayat 107 ada tertulis "Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam". Kebanyakan orang mengatasnamakan "dolal-dalil" yang padahal intinya adalah tanda kepengecutan mengakui keegoisan. Bahasa ku "legitimasi pemenuhan kelicikan atas nama Tuhan, memperalat ayat agar selamat".
Mengutip buku dari Kyai jalal, "Imam Ali berkata, Menjauhi keburukan harus didahulukan dari melakukan kebaikan.”
Dalam hadis lain, disebutkan, “Bersungguh sungguhlah dan rajin-rajinlah beramal. Jika
tidak sanggup beramal baik, janganlah berbuat maksiat. Karena orang yang membangun dan tidak merusaknya, walaupun perlahan-lahan, bangunannya akan tinggi juga, tetapi orang-orang yang membangun sambil merusak bangunannya, ia tidak akan menjadi tinggi.”
Dengan contoh yang sangat menyentuh, Nabi Saw bersabda, “Ibadah sambil makan yang haram seperti mendirikan bangunan di atas pasir atau air.” Atau hadis lain dari Imam Ja‘far ash-Shadiq, “Akhlak yang buruk merusak amal seperti cuka merusak madu".
Bagaimanapun Pak jalal, saat ini, dengan sumbangsihnya, aku merasa ingin menyebutnya kyai.

Saturday, July 13, 2019

Lepaskan belenggu ini

Berapa kali aku mati dan hidup, namun pembunuh ku tetaplah engkau. Aku masih bernafas karena yang ku hirup adalah lelap, sehingga gerak ku terbius, agar angin yang membawa sesak, tak mampu melukai ku, namun jika pertahanan ku tercabut, kemudian aku mati, dan dihidupkan lagi oleh air suci, kemudian membusuk dan membaik lagi, berulang kali, hidup kemudian mati, mati kemudian hidup, maka aku hanya memohon, suatu saat bunga mekar dan pohon rindang menaungi ku dalam abadi. Kemana mata ku memandang, sungguh senyum mu terkadang nampak pada mereka, tapi semua itu bukanlah engkau, karena engkau hanya satu. Segala langkah dan tingkah mu terkadang terekam dalam diri mereka, namun tetap saja mereka bukanlah engkau. Ohh Tuhan, aku bersujud, mungkin saja bukan karena kebesaran mu, tapi berat punggung ku, maka lepaskan segala beban, izinkan aku dengan cinta kasih mu, menerima ku dan dan ku terima, agar aku bebas terbang mengelilingi semesta.

Thursday, July 11, 2019

Pada

Setelah mataku ku ini mengerti bahwa pelangi itu indah, jarum dari langit memintal kelopak mata ku agar terkunci, agar tidak ada yang perlu aku cari bagi diri ku sendiri, sehingga setiap waktu aku bagaikan buah yang terjatuh ke sungai, mengalir sama ke arah hilir, membusuk dan tercerai berai, apakah seperti itu harga dari keberadaan ku, saat aku ingin mengalunkan senandung syukur, aku menjadi ragu, apakah aku sedang berdusta, jika benar, maka aku malu pada dedaunan yang jatuh ke tanah ini, maka aku ingin pergi, berkaca pada kubangan air di perjalanan, agar aku tahu, benarkah mata ku telah cukup banyak kenyang dengan kenyataan, apakah yang masih diinginkannya.

Wednesday, July 10, 2019

Kau

Bagaimana kau melihat ku wahai rasul?, seperti apa kepedulian mu pada ku?, aku, ini, yang begini, apakah kau akui sebagai pengikut mu?. Layakkah diri ini kau pandang?, pantaskah kau akan sedikit saja melirikku dengan tatapan?, pantaskah aku walau satu kata mendengar suara mu?, dan sehelai rambut mu atau ujung kuku kaki mu aku sentuh?. Aku tak pernah mengaku mengenal mu, apalagi mencintai mu, dan kau pun tidak akan tertipu, sholawat salam yang ku panjatkan mungkin saja hanya karena kepentingan, lalu bagaimana aku berkata-kata tentang mu?, aku tak mau berdusta pada mu, kau dekat disisi Tuhan kita yang mengetahui segala lahir batin ku, bagaimana aku bisa bermain kata-kata tanpa rasa, sedang cinta kasih mu memasuki relung jiwa manusia-manusia yang aku yakini hidup penuh makna, sedangkan aku kosong, seperti sebuah bangunan tanpa penghuni. aku tahu kekaguman bukanlah cinta, yang hanya muncul karena melihat kelebihan, tetapi cinta selalu tumbuh dalam penerimaan dan kesadaran. segala pengakuan ku pada mu mungkin saja hanyalah sebagai tungganganku mencapai tujuan, seperti yang Tuhan kita tahu tentang diri ku, manusia durhaka dan tercela ini menatap dirinya sendiri dalam pejam mata yang tak kunjung pula sampai pada penghayatan, terus mempertanyakan kemanakah titik berpulang, aku belum jelas, apakah sebuah tempat ataukah apa?, aku tidak tahu. Tuhan mu wahai rasul, bukankah Tuhan ku juga, jadi bukankah aku juga seorang hamba, meski dengan segala hina, aku pun ingin menempuh perjalanan ke sana. Jika kau berkenan wahai Rasul, setidaknya sapalah aku agar merasakan kehadiran mu, jangan biarkan aku sedikitpun tak pernah tersentuh dalam pandangan mu, jangan engkau tak menganggapku sama sekali, aku mencari sesuatu yang menjadi hal terpenting dalam penyampaian mu pada semesta, engkau menebar cinta kasih pada seluruh hamba, maka jangan perkecualikan aku, percikilah jiwa ku agar hidup, agar pikiran ku bangkit, dan pandangan ku bersinar. Wahai Rasul, aku mempertanyankan diri ku pada mu, adakah hembusan angin yang berbaik hati mengantarkan tentang diri ku ini sehingga engkau mengenal ku?, aku takut, jikalau aku bukanlah siapapun bagi mu, aku bukanlah apapun, dan tiada kau pedulikan, maka aku memohon pada Tuhan kita, agar aku dirahmati, agar engkau berkenan tidak menolak ku, dan harapan ku tentu lebih dari pada itu.

Tuesday, July 9, 2019

Bersih

Kemana kau akan menuju wahai jiwa, pakaian mu telah kau kenakan dengan senyuman, namun adakah jiwa mu telah berangkat pada tujuan?. Bagaimana kau hidangkankan impian di ujung ubun-ubun mu, sedang jiwa mu begitu kurus tak terurus. sepotong cahaya tak nampak bersinar, kegelapan membungkus jiwa mu yang tak dikenal. Mulut hunian mu telah banyak menunjukkan keindahan, sebaran keringat mu telah menyuburkan taman, namun nafas mu begitu panas seperti jerami yang dikeringkan. Apakah yang menggerakkan pohon besar menjulang?, kekuatan tangan? Atau kelembutan angin yang menyejukkan?. Kau tak mampu melihat sosok yang menumbangkan  pepohonan besar, yang menepak ombak hingga bergelombang, dan menekan gunung hingga menghamburkan bebatuan. mata jiwa mu telah tertutup banyak debu, pendengaranya tersumbat seteru. oh jiwa ku... Bersihkan diri mu, segeralah temui Tuan mu..!!

Monday, July 8, 2019

Mata

Wahai mata ku yang penuh debu, aku membasuh mu agar engkau dapat melihat, agar aku mengetahui sesuatu dengan lebih dari sekedar penampakan jasad, agar aku memahami dengan kejernihan mu suatu hakekat. Wahai mata ku yang yang terbuka, apakah yang menjadi tujuan mu, aku menginginkan agar engkau menangkap keindahan, namun bukan sesuatu yang palsu, dapatkah kau melakukannya?. Wahai mata ku yang terpejam, nyatanya diri mu menjelma dalam fikiranku, menayang sesuatu dalam persembunyian, engkau hanya terbatasi oleh kelopak, namun jiwa mu menjalar dalam angan ku. Wahai mata ku, apakah yang dapat membuat mu bersinar?. Apakah sebuah kehadiran pemberi cahaya?, apakah kehadiran rasa dalam sunyi jiwa mu saat kau berpejam?.

Wednesday, July 3, 2019

Irit

Berusaha menggunakan waktu dengan baik sajalah, hidup enggak selalu seperti yang ada di film-film hasil imaginasi dan sosmed subjektif abal-abal, orang yang sudah dianggap jelas saja kadang bisa menipu, apalagi cuma percaya sama kata sosmed yang enggak jelas asal dan tujuannya. kalau kebanyakan main-main dengan api nanti mata bisa perih dan banyak meneteskan air mata, apalagi kalau abunya nempel dimata, bisa lama air mata tak juga berhenti mengalir. Apalagi kalau kita yang jadi api, kita bisa disiram dengan air dan akhirnya kita mati gaya. Ada banyak hal yang jauh lebih penting di umur yang masih belia, dari pada hanya sekedar mengejar kata "kekinian" yang bisa saja sebenernya malah menjerumuskan ke hal-hal yang menyedihkan.

Sunday, June 30, 2019

Takdir

Aku melihat manusia yang begitu tangguh menjalani apa yang telah ditakdirkan untuknya, tetapi aku tidak mengetahui batin seseorang, namun aku melihat senyuman yang aku yakini itu sebagai tanda kekuatan, Aku bertanya-tanya "rahasia apa ini Tuhan?"

Friday, June 7, 2019

Tempat

Bagaimana mata terbuka dengan segala anak panah yang tajam siap meggoyahkan bangunan tempat hati yang hendak bertapa.
Adakah sebuah bangunan yang tertimbun oleh awan kegelapan namun kehidupan tetap berjalan.

Iya juga..

Bagaimana aku berbicara tentang cinta, kasih sayang dan perasaan, saat aku sebagai manusia biasa juga ingin menaklukkan sebuah bentuk ketidak-adilan dan kesewenang-wenangan. Terkadang keadilan memang harus di tegakkan meskipun keadilan bukanlah sebuah bentuk keikhlasan. Adalah hal yang sulit jika kita dihadapkan pada sebuah bentuk rasa ingin mengasihi namun kita pun tidak bisa mengelakkan rasa sakitnya.

Wednesday, May 29, 2019

Ngaca

Wahai orang berilmu yang jahat, kalian telah menjadikan dunia di atas kepala kalian dan agama dibawah kaki. Ucapan kalian menawarkan obat, sedangkan amal perbuatan kalian menebarkan penyakit. Perumpamaan kalian seperti pohon yang memikat mereka yang memandang, namun membunuh orang yang memakan.
-Isa AS, qishashul anbiya-

Aku bukan mereka

Seseorang bisa dengan sangat mudah menirukan dengan lisannya apa yang dikatakan para rasul dalam kitab suci, namun ketahuilah seseorang itu bukanlah seorang rasul itu sendiri dengan segala keutamaan mereka. Seseorang bisa sangat mudah meniru apa yang dikatakan para wali, namun keadaan mereka bukanlah seorang wali dengan kedekannya pada Tuhan. Siapakah diri mu wahai diri ku yang busuk lagi tercela?. Lancang sekali lisan maupun tulisan mu bergerak, tak tahu diri kah kau wahai diri ku?. Bahkan hanya untuk memahami satu kata saja aku perlu waktu berpuluh-puluh tahun, itupun kau belum selesai dengan keyakinan mu.
Ya Alloh, aku tahu diri meskipun jauh lebih banyak lupa diri. Ya Alloh kau menyuruh ku untuk bersikap seperti mereka yang mencintai mu dan kau cintai, namun aku tahu keadaan ku tidaklah sama dengan mereka. Aku dengan begitu tersungkur tak berdaya hina mengaku, bahwa bagaimana mungkin jika hanya untuk mengingat mu, mendekati mu saja aku begitu berat. Bagaimana mungkin aku bisa menelan perkataan para pencinta mu?, bagaimana mungkin juga bisa melakukannya?.
Tapi ya Alloh aku mengharapkan mu, agar engkau menolong ku, menjadikan ku termasuk orang yang kau kasihi. Engkau maha mendengar setiap permohonan hamba. Dan engkaulah yang dikatakan bahwa yang maha penyayang diantara para penyayang.

Sunday, May 26, 2019

Hak

Hak seseorang adalah diperlakukan sesuai dengan apa yang menjadi keridhoan seseorang itu sendiri, Tuhan berbicara kemanusiaan secara umum, bukan tentang apa agamanya, bukan apa yang menjadi prinsip pribadinya. Silahkan berbicara tentang hukum syariat, tapi juga pandanglah perasaan orang lain, bagaimana pun seseorang merasa di atas kebenaran, bukan berarti dia selalu dalam jalan kebaikan, bukan berarti bebas tanpa etika, lebih-lebih jika mengabaikan kepekaan hati nurani sesama. Orang buta hati memandang perbuatan buruknya adalah hal yang remeh, sedangkan dia berfikir dampak baiknya jauh lebih dominan bagi kepentingan diri maupun tujuannya, dia ingin jadi pahlawan kesiangan, padahal bagi yang dikenai keburukannya, tanpa mau tahu sangatlah menderita. Dia seperti dua sisi koin, yang  satu bertuliskan Tuhan dan sisi lainnya bertuliskam iblis. Dia ingin jadi malaikat bagi orang yang dikehendakinya tanpa peduli dia telah jadi srigala yang mengoyak daging orang lain. Manusia amat egois menggunakan alat yang namanya agama untuk meraih kepentingan duniawi maupun akhiratnya, dia memandang bahwa itu adalah cara yang sah dipakai manusia untuk bahagia, dia memandang Tuhan layaknya dirinya yang begitu licik mensiasati keadaan untuk keegoisan. Tuhan tahu bagaimanapun baiknya cara yang kau yakini benar secara agama, tetap saja itu pelanggaran kemanusiaan. Apa kau pikir hamba Tuhan itu hanya kau saja, apa kau pikir yang benar itu kau saja?,

Friday, May 24, 2019

Akan

Cahaya di kegelapan selalu menciptakan bayang-bayang, dia bergerak sebagaimana arah angin bertiup, wayang sebagai kisah kebijaksanaan dalam memandang hidup, sekarang telah berkumandang redup, terpental jauh oleh hantaman umbaran kepalsuan.
Ku letakkan kaki ku diujung pandangan ku, tak tercapai apa yang ingin aku usik,  dikala matahari meninggi, aku bersembunyi dibalik selimut ketakutan, saat matahari tenggelam ku buka selimut ku dan ku hadirkan diri ku dibawah atap langit, saat ku yakin tak ada lagi terang yang mampu menghidupkan pikiran, aku terkecoh oleh alam yang menampakkan bintang-bintang dan rembulan.
aku segera menutup mata ku, aku diam dan mencoba tenang, ada sesuatu yang membuatku tersenyum, semilir angin mengelus kulit ku yang pucat, ia seperti memandikan ku dengan embun, dinginnya begitu damai, seperti aku hendak lupa bahwa aku belum mati.

Thursday, May 23, 2019

Terlupa

Sedikitnya ada faktor penyebab terlupa: benar-benar lupa, kurang peduli masalah, banyak masalah, dan kurang kesabaran.
Utsman an-najati

Tuesday, May 21, 2019

Tuhan!

Kita semua berjalanan menuju Tuhan, berharap Tuhan menerima kehadiran kita dalam suka-cita. Boleh jadi memang kau berjalan menujunya dengan membawa kedewasaan, harta, pengetahuan, dan pahala. Sedangkan aku berjalan menujunya dengan membawa masa pencarian diri, kebodohan, dan dosa. Tuhan selalu melihat semua hambanya, karena Dia Maha Melihat. Takdir mempertemukan kita dijalan yang sama, dan karena engkau lebih unggul dari ku, kau pukul kepalaku, kau tusuk jiwa ku dari belakang dengan tertawa mengejek menghina, terkaparlah aku yang malang tak berdaya penuh derita. Dan kau dengan senyum bangga mempercepat jalan mu menuju Tuhan, dengan percaya diri dan tak sabar kau berharap ridhoNya. aku yang tergeletak jauh dibelakang mu ingin tahu, sampai detik ini menunggu, apakah Dia menerima mu?. Apakah Dia tidak mengasihani ku, apakah aku hamba yang tertolak, bukankah aku juga ingin berada disisiNya, bukankah perjalanan ku juga hendak menemuiNya?. mengapa hamba mu itu sewenang-wenang terhadap ku yang juga hamba mu, apakah Tuhan akan diam saja dengan keadaan ku, bukankah seharusnya Tuhan sendiri yang segera berlari menolong ku, dan mengabaikan hamba itu terlebih dahulu?.

Monday, May 20, 2019

Ambil pendapat mu sendiri dan bertanggung jaeab terhadap diri sendiri adalah lebih ringan.

Jangan kau telan apa kata ku, karena tidak semua kata itu dapat dicerna. Hanya jika kau baca, ketahuilah ada banyak khayalan dalam imaginasi. Maka jangan kau anggap segala tulisan adalah fakta ku. Mungkin saja itu hanyalah keisengan pikiran yang sedang tidak memiliki kejelasan, sehingga segala apa yang ada menjadi sesuatu yang aneh. Jangan kau pikirkan kata-kata ku, buanglah, karena beberapa khayalan memang tak berguna dan tak mengandung kebenaran, jangan kau telan kata ku yang hanya malah meracuni pikiran mu. Sudah buanglah kata khayalan ku dari apa yang kau terima dari blog ku.

Kelebihan Makan Racun

Ada saatnya ketika umur membuat pikiran berkarat dan buah yang masak menjadi busuk, adakala dianggapnya mengasah hati, namun bukan malah bersinar, malah mengikis kepekaannya, seperti kain yang agak kasar dapat memberi celah pada debu dan plastik yang licin malah membuatnya sombong dan egois. ada kalanya mengasah otak bukan malah membuat bijak, tetapi malah membuat semakin licik, seperti seekor kucing yang diberikan segala jenis makanan, membuatnya menjadi seekor kucing pencuri apapun yang membuat kesal manusia.

Oke

Aku tidak sedang menasehati, kalaulah aku menasehati maka kepada diri ku sendirilah aku menasehatkan ini. Aku hanya menuliskan apa yang ada dalam benak, jika ada manfaatnya silahkan diambil, jika tidak silahkan di sia-siakan. Jika setuju semoga kita semua menjadi pribadi yang lebih berhati-hati pada sesama. Jika tidak setuju, setiap orang memang akan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Aku sama sekali tidak merasa benar sendiri, maka jika aku salah menurut mu, maka ambillah kebanaran mu sendiri.

Siap?

Tuhan mengatakan bahwa dia adalah maha pemberi maaf, iya itu jika dosa mu adalah sikap mu secara vertikal. Namun untuk sikap mu secara horizontal, sesama hamba, pemberian maaf mu tergantung kepada siapa yang telah engkau dholimi, dan ketahuilah adakah manusia yang mengatakan bahwa "aku manusia adalah orang yang pemaaf, seberapapun kedholiman yang kau perbuat?". Manusia tidak ada yang mau mengatakan bahwa dia adalah pemaaf, itu karena tak ada manusia yang mau didholimi. maka berhati-hatilah dengan berbuat dholim, karena kita tidak tahu manakah kedholiman kita yang terbesar dan mana yang termaafkan. Jika kita tidak beruntung mendapatkan ampunan dari orang yang kita dholimi, maka apakah kita siap melunasi segala penderitaannya di akhirat?.

Perasaan

Suatu saat kau akan mengerti wahai manusia, bahwa memang masing-masing dari kalian memiliki kehidupan, kebahagiaan, dan kesedihannya kalian sendiri-sendiri. Kita semua berbeda, maka apa yang ada juga pasti akan berbeda, jangan selalu meyamakan diri mu dengan orang lain, namun samakanlah diri mu dalam hal ketawadhuan bahwa tidak ada daya dan upaya tanpa pertolongan Tuhan dan kita semua adalah hambanya yang tidak boleh merasa lebih dari yang lain, kita semua tak memiliki apapun tanpanya. Apa yang membuat mu bahagia bisa saja berbeda dengan apa yang membuat orang lain bahagia, begitupun dengan kesedihan. Kau pun akan mengerti,  menertawakan orang terhadap persoalan hidup orang lain adalah sebuah bentuk penghinaan, karena yang kalian tahu hanya pucuknya, seperti gunung yang berada di laut, kalian sama sekali tak mengetahui yang tersembunyi dibalik hati. Suatu saat mungkin saja kau akan disadarkan oleh kehidupan mu sendiri, bahwa berbuat baik dan menjaga perasaan orang adalah sebuah kemuliaan yang sangat besar. Janganlah mengandalkan logika atau ilmu mu dalam memutuskan baik atau buruk, timbanglah itu semua juga dengan kacamata batin dan etika. Apa yang kau anggap perbuatan remeh jangan-jangan adalah dosa mu yang terbesar, dan sumber dari segala kehancuran mu di akhirat karena telah sewenang-wenang terhadap makhluk Tuhan yang lain. Ingatlah, permintaan maaf hanyalah sebuah kata, dan perbuatan mu adalah penderitaan baginya, bagaimana jika kelak orang yang kau dholimi tidak memaafkan mu karena terlampau menyakitkan kedholiman mu?. Ingatlah, berdoalah wahai diri ku, agar aku terhindar dari berbuat dholim dan terhindar dari mendapat kedholiman dalam sengaja maupun tidak.

Thursday, May 16, 2019

Karena

Jika aku mencintai Tuhan, dapatkah Tuhan bahagia karena ku?. Jika aku mengharapkan Tuhan, itu semata bukan karena cinta, tapi karena aku butuh kuasanya. Mungkin aku belum sampai pada Tahap pemahaman dan penghayatan yang baik, hingga aku masih dalam posisi merasakan ini, namun aku belum tahu kesalahan ku, semoga Tuhan membimbing dengan karunia bahagianya.

Kau kira apa

Apa yang kau lihat, aku juga mengetahui, namun apa yang kau tangkap, tak selalu sama dengan apa yang aku terima. Lihatlah ke dalam jiwa mu yang kau anggap manusiawi, dan aku pun juga akan menyelami jiwa ku yang penuh imaginasi. Bariskanlah kata hati mu yang kau anggap lurus, aku pun akan menyusun kata hati ku yang berserakan. Dapatkah kau bedakan apakah sebuah transaksi dengan sebuah pengorbanan?. Kau pasti tahu sebuah transaksi diikat oleh sebuah keuntungan. Dan pengorbanan dikendalikan oleh penerimaan. Dapatkah kau memilih warna saat kau buta?. Apakah yang kau dapatkan dengan memilih sesuatu yang tak kau ketahui kesesuaiannya, kau dimenangkan karena tak mengetahui perbedaan?. Atau dapatkah dengan mata mu yang tajam memastikan waktu takkan pernah memudarkan, kau ketakutan karena matamu dapat melihat banyak pilihan di didunia?. Untuk apa kau bicara panjang lebar tentang aturan, kau tahu aturan sebenarnya hanya diberlakukan bagi mereka yang memiliki kebangsatan, dalam dunia kebahagiaan aturan ada dalam perasaan bukan dalam bentuk tulisan. Tapi jika ukuran mu keamanan maka ukuran mu adalah kelihaian berstrategi, maka ukuran mu adalah mengambil Seberapa banyak kau akan mencoba, menjelajahkan hati mu pada apa yang kau harapkan dan apa yang kau dapatkan,  jika kau berkaca maka bertanyalah dimana waktu mu berada, dimana tempat mu terpampang, bukalah kejujuran mu dan aku pun akan membuka suara ku. Jika kau cipta kata-kata, maka akupun menyukai sastra, bukan berarti aku tak bisa membaca, namun karena aku sudah tahu alurnya. Jangan kau anggap kata manis mu adalah gula bagi ku, karena aku tahu gula itu memang manis, tapi lebih dari itu aku hanya merasa tahu mana yang berkalori tinggi mana yang tidak. Seperti sirup yang dikerubungi semut dan seperti manusia yang takut berjihad karena ingin menjaga, bukan karena takut dengan kematian, hanya karena takut kehilangan cinta, baginya semua dapat diserahkan kecuali apa yang ada di hati, bukan seperti kau yang mati berharap dijemput bidadari, atau kepasrahan tanpa pengorbanan, atau pengorbanan dengan melanggar aturan tulisan, semua hanyalah tentang perbedaan, bukan selalu kau pemilik kemuliaan.

Wednesday, May 15, 2019

Egoisme

Suatu saat seseorang akan mengerti dan tersadar, bahwa terkadang keegoisan diri malah akan membawa penyesalan. Selama ini berdasarkan pengalaman, prinsip seseorang dalam bersikap memiliki nilai tawar, sebuah prinsip baik yang kita yakini, saat kita tetap pegang dalam keadaan tertentu malah merusak sebuah kondisi menjadi lebih buruk, dan hal ini bagi mereka yang berkoar-koar dengan lantang tentang hitam dan putih akan menelan ludahnya sendiri.

Friday, May 10, 2019

Udara malam

Aku ingin menjadi bagian dari udara malam, agar aku tak dapat kau sentuh dengan mata mu, saat hadir ku tak lagi berwujud, saat kau hanya merasakan dingin ku.

Bagi pengunjung

Teruntuk pembaca blog ku, silahkan jika ingin memahami tulisan-tulisan ku itu semua, tapi aku bukanlah pengendali kebenaran, aku pun tidak menawarkan kebijaksanaan, aku pun tidak mengajari anda, aku pun tidak mendorong anda dalam bentuk apapun agar anda menerima semua apa yang aku tuliskan. Karena tidak semua yang tertulis itu bagian dari pengalaman, ada pula yang bagian perasaan, pemikiran, imaginasi dan lain-lain yang subjektif, jadi bagi para pembaca yang tidak setuju dengan tulisan ku ya dipersilahkan. Blog ini aku buat memang sekehendak ku, bukan seperti jurnal yang harus jelas referensinya. Jadi silahkan saja pembaca menduga-duga apa maksud atau makna sebenarnya dari tulisan ku... Baik ataupun buruk pendapat pembaca itu terserah pembaca, semoga saja pikiran pembaca sehat dan tidak kotor dalam memahami ini semua.

Monday, May 6, 2019

Beda

Kemanakah hujan, dimanakah api. Magma nampak berbentuk cair namun menghanguskan. Tak selamanya sesuatu yang berbeda tak dapat menyatu.

Api

Nyalakan api ku, sudah gelap pandangan ku, sudah patah tongkat penuntun ku, atau Padamkan api mu, bunuhlah aku, nyalakan api mu, kuburkanlah aku, tinggalkanlah aku.

Sunday, May 5, 2019

Angin

Berjalan ku di atas jembatan kayu yang menggantung diantara bukit bertumbuh pohon yang rindang, kupu-kupu yang indah bertebaran di atas bunga-bunga yang menawan, air mengalir dengan percabangan seperti sebuah lukisan, bangunan mungil beratap jerami dan berdinding bambu nampak begitu anggun, sebagai tempat berteduh di kala ingin bertiup lembut, dan terik matahari hangat menyentuh kulit. Terberkatilah alam yang menyejukkan ku, dikala pagi yang ku nanti berubah sore, dan dikala sore yang ku tunggu berubah malam, maka disitulah tempat persinggahan mengalir dalam detik waktu ku yang kosong. Terbangkanlah aku wahai angin, bawalah aku dalam perjalanan mu, sampaikanlah aku pada asal mu, agar aku dapat hidup seperti mu.

Friday, May 3, 2019

Wahai kegelapan

Ohhh... Duhai kegelapan, dapatkah kau tutupi mata ku dari Tuhan?, dapatkah kau bungkus segala air mata ku dalam sebuah kotak indah?, aku ingin memberikannya esok pada Tuhan, karena jika segala kebaikan berisi keangkuhan, biarlah segala buruk tangis ku menjadi pengakuan segala kerendahan dan ketidak-berdayaan, aku hanya ingin semua kisah ku berakhir dengan tangannya terbuka, menerima jiwa ku yang telah membiru, dan aku berharap padanya, agar aku merasakan tangannya yang kuasa, memberi ku bahagia dalam kekal.

Doa 4

Ya Tuhan ku, aku takut pada mu, maafkanlah segala kesalahan ku, segala kotor dan ketidak-sopanan ku, aku mengharapkan kasih sayang mu, semua rahasia dan rencana terbaik ada digenggaman mu, aku hanya jujur pada keadaan ku, semuanya telah aku sampaikan, semoga engkau menerima cerita ku, jangan engkau mengabaikan ku, sayangilah aku, maafkan aku menuntut mu mengasihiku, dengan segala kurangnya diri ku untuk mu, aku mohon karena engkaulah Tuhan ku, tak ada yang bisa merubah segalanya kecuali dari mu, engkaulah harapan ku.

Apa

Akulah diantara perbincangan indah itu sedetik jeda, akulah diantara segala canda tawa itu adalah jam dinding, akulah  yang tergeletak dan termangu diantara binatang jalang terluka berlari.

Bosan

Aku sudah ingin terbebas dari segala rantai dan jeruji yang telah mengurung ku di bawah tempurung kapala ini. Aku sudah tak sabar membuka dan mengepakkan sayab ku yang telah lama mengerut terhimpit beban ingatan di segala sisi. Aku ingin mengelilingi samudra dan ingin menembus cahaya yang menghalangi mata ku dari melihat mu, jika kau adalah api, maka aku akan melelehkan diri ku di dalam mu, agar aku tiada bersisa apa-apa, agar aku tak merasakan apa-apa.

Tahukah kau?

Dimanakah keberadaan ku setelah semua ini?, apakah benar sudah saatnya aku akan tergerus  angin?.
aku sudah ingin naik keatas sana, karena air penebusan sudah diatas dada, aku akan berada diantara awan-awan yang luas itu, kau tak kan mungkin dapat melihat ku lagi, namun aku akan terjatuh bersama diantara butiran gerimis yang akan datang, dan aku akan menjadi Santapan akar rumput rumah mu, aku akan menghampiri mu dalam segenggam udara, agar dapat kau hirup untuk beberapa detik nafas hidup mu, agar aku berarti, ketahuilah tetap saja rasanya sakit, jika selama ini aku tersenyum agar kau ingat, dan sekarang aku harus berarti seperti air yang tak pernah kau syukuri, sebelum selamanya aku takkan pernah tersentuh apapun kecuali tangan tuhan, aku ingin berkata, bahwa saat ini pun aku sudah lenyap, aku hanya tinggal setitik, dan menunggu matahari melenyapkan ku, maka jika kau ingin berkata-kata, maka katakanlah segera!.

Tuesday, April 30, 2019

Bukan

Bukan aku tak setia kawan, tapi bagaimana mungkin semua akan jadi sama, saat aku mengetahui kawan ku bersikap sama seperti musuhku memperlakukan ku terhadap orang lain?. Sebuah bangsa bersatu berjuangan karena senasib, karena derita yang sama. Tak mungkin bangsa terjajah yang mengecam penjajahan akan merangkul penjajah, kecuali kalau bangsa itu adalah bangsa busuk yang hanya bermanis muka menyembunyikan kepentingannya.

Aku

Aku adalah tempat kumpulan sampah berserakan mu, kau lemparkan sampah pada ku sesuka mu, menyebut ku sebagai tempat yang kotor dan bau, kau bakar sampah yang ku peluk dari mu, kemudian kau lihat jiwa ku telah menghitam, hangus, dan gersang, berkatalah bahwa aku tempat yang tandus, dan bunga tidak akan pernah lagi tumbuh diatas ku, sebutlah bahwa aku batu.

Hujan tak mampu meleburkan ku, air mata tidak bisa melunakkan ku, jiwa ku memberontak mempertanyakan mu, tentang apa salah kaki ku yang kau potong, bukankah aku sudah begitu takut pada kuasa mu, namun mengapa kau tunjukkan lagi dan lagi pada ku, bukankah setiap kali aku berdoa itu memohon pada mu, mengapa semua ini harus aku lewati, ada apa di depan sana sehingga kau membuat ku harus bertahan, dan dengan apa aku mampu melewati semua dengan segala kelemahan, kau memukuliku, tapi tangan mu pula yang menguatkan dan melindungi, kau itu mengapa begitu?

Begitukah?

Begitukah cara mu mengajari ku Tuhan?, dengan memukuli ku sehingga aku babak belur terus menerus, merasakan kesedihan yang terus berlanjut, kesakitan yang membuat ku merasa gila, air mata yang tak pernah berjeda dalam setiap harinya dan hasilnya sampai saat ini aku masih merasa jauh sangat dari mu... Apa mau mu? Kau hanya ingin menunjukkan kuasa mu?, Kau itu maha kuasa atau maha semena-mena?. Terimakasih atas semua karunia telah aku rasakan, dan memang semua yang kau beri tak sepadan dengan hanya secuil keremukan ku, namun aku hanya manusia yang lemah dan mengejar kebahagiaan yang sempurna, maklumi aku berkata-kata, aku telah banyak mencela diri ku sendiri, berbagilah dengan ku, terimalah keluh kesah ku, aku ingin bahagia!!!!!.

Saturday, April 27, 2019

Sama

Bukan aku tak setia kawan, tapi bagaimana mungkin semua akan jadi sama, saat aku mengetahui kawan ku bersikap sama seperti musuhku memperlakukan ku terhadap orang lain?. Sebuah bangsa bersatu berjuangan karena senasib, karena derita yang sama. Tak mungkin bangsa terjajah yang mengecam penjajahan akan merangkul penjajah, kecuali kalau bangsa itu adalah bangsa busuk yang hanya bermanis muka menyembunyikan kepentingannya.

Doa 3

Ya Tuhan..
obatilah kami semua dari kepayahan kami dalam melawan apa yang ada dalam diri kami sendiri.
Tenangkanlah kami dari segala kegersangan dan kejahatan emosi.
Padamkanlah api dalam diri kami yang hendak membakar tindakan, pikiran, dan hati kami sendiri.
Sejukkanlah keadaan kami yang telah terbakar oleh kedholiman, rasa bersalah, dan tidak menerima kondisi.
Ya Tuhan angkatlah kesedihan kami, siramilah sanubari kami agar kami
semua terus bersyukur bahagia.
Aamiin

Sunday, April 21, 2019

Pada Tuhan

Taburan bintang di langit itu, telah kau ciptakan nampak seperti lampu - lampu, kau bentuk rasi-rasi indah menakjubkan, matahari kau cipta untuk menyelimuti bumi dari kebekuan, kau cipta awan untuk menurunkan hujan, kau cipta benda, kau cipta nyawa, kau cipta suara, kau cipta rasa, kau cipta segala dari kehendak mu, namun bukankah kehendak mu seperti yang kau katakan pada hamba suci mu? bahwa kau mengasihi hamba-hamba mu?.

Aku wahai Tuhan, sudah cukup banyak keluar dan melihat  alam, aku melihat bumi memberikan apa yang dipunyainya sebagai sumber hidup, tapi aku tak pernah melihatnya bersedih melihat makhluk yang berada dipunggungnya menangis. Semesta mampu merangkul bintang-bintang di langitnya, namun tak pernah memberikan persetujuan atau penolakannya terhadap cara pandang manusia. Dengan segala kuasamu itu, namun mengapa aku terasa begitu berat untuk hanya menyangga rasa sakit di sebongkah hati ku ini, aku merasa lelah dan seperti mau patah, aku terus mencoba kembali kuat, aku masih berdoa berharap pada engkau Tuhan, aku menanti kasih mu Tuhan, bagaimana engkau terhadap ku Tuhan...?

Janji

Ada beberapa keadaan yang membuat sebuah janji yang tidak ditepati adalah sebuah pembunuhan  tanpa sebilah pedang, entah tentang jiwa yang terasa mati sebelum jasad tergeletak, atau sebagai racun penghancur dalam tempo beberapa lama. Setan itu selalu menjanjikan surga bagi pengikutnya, dan menakut-nakuti penentangnya, dan dua-duanya hanyalah permainan. Maka berhati-hatilah dengan janji, jika tidak diperlukan dan disituasi yang benar-benar mendesak, maka tidak usahlah berujar tentang janji.

Perang diri

Manusia memang bisa melukai dirinya sendiri dengan adanya fikiran-fikiran dan perasaan-perasaannya yang muncul. Maka ada istilah bahwa "manusia juga akan bertempur melawan dirinya sendiri". Semoga Tuhan memberikan ketenangan lahir dan batin.

Rasanya begitu

Dapatkah diri menelan kebahagiaan dengan    melubangi bendungan air mata sesama?. Bayangan akan menjadi saksi, karena terang kebenaran akan menatap tajam, tentang kepada siapa Tuhan akan memihak, dan bagaimana penghakimannya berlaku. Manusia dengan agama menjadikannya semakin peka, untuk saling membangun bahagia. Sebaliknya, jika dengan nama agama itu manusia menyakiti dan memperdaya, apa kata bangsa kera?

Tidak selalu

"Aku siap menerima cercaan, karena yang ku lakukan bukan untuk pujian. Aku siap menerima tuduhan, karena yang ku lakukan bukan untuk pencitraan. Aku siap dijauhi, sehingga aku tahu mana pecinta dan mana pembenci." Itulah sedikit utopia ideologis"

Kayaknya begitu

Ketika orang melanggar nurani, pembenaran diri atau alasan apapun tidak akan banyak memberikan ketenangan batin.

Doa 2

Tuhan, jangan biarkan aku terhenti panjang dalam gelap, sehingga kesedihan terus menjaringi butiran air mata ku dari dasar jiwa, dan membuangnya ke alam fana layaknya sampah tak berharga. Tuhan, bukankah air mata ku itu juga ada hitungannya, siapapun yang membuatnya jatuh, berarti dia telah berhutang?. Ya Tuhan, jangan biarkan ketidak-sadaran terus menjangkiti ku layaknya benalu yang menghisap kehidupan inangnya.

Tak tahu

Kalau sampai semuanya sudah diluar batas ketahanan, dimanakah ukuran toleransinya, apakah definisi dari "di luar batas kemampuan" tak akan pernah mampu didefinisikan? Dan tak akan pernah mampu dimengerti?

Degradasi

Ular yang bersisik indah itu hidup dalam keterasingan, dia tenggelam dalam sarang tanah setengah hari, dan setengah harinya dia muncul kepermukaan untuk mencari kebijaksanaan, siapapun yang melihatnya akan memuji, dikatakan bahwa sisik warnanya meneduhkan mata. Ular itu sadar bahwa dia dipuji, namun dia menyadari hakekatnya tetaplah seekor ular, dan yang dipuji bukanlah hakekatnya, namun hanyalah pakaiannya, apakah perlunya pakaian yang pasti akan usang di makan waktu, dia juga berkeyakinan bahwa siapapun yang menganggap dirinya berbisa pasti juga akan menggebuk kepalanya dikala lengah.

Waktu terus berjalan, dahulu ular itu memang berfikir hakekatnya memang adalah ular, namun tanpa sadar ternyata bumi tempat dia menyusuri jalan semakin hari semakin panas dan merubah hakekatnya dari yang semula dia seekor ular kini berubah menjadi seekor cacing, tubuhnya sangat rentan dengan matahari, dan dia benar-benar butuh bertapa panjang dalam gelap senyap dalam tanah, agar kehidupannya yang kini seperti cacing tidak merosot lagi menjadi belatung.

Apa lagi

Apa yang bisa aku berikan untuk kehidupan kalian? Aku rasa hanya kasih sayang ku, doa, dan keseluruhan dari sedikit ilmu dan pemahaman ku yang aku yakini dapat digunakan untuk kebaikan hidup.

Disana

Ditanah yang begitu banyak ditumbuhi kepolosan itu nampak tidak ada lagi keberpura-puraan.
Kehidupan tidak lagi berjalan seperti yang seharusnya menurut siapa-siapa, namun semua berjalan masing-masing apa adanya. Terkadang memang harus menahan ketidak nyamanan, namun bagaimana mungkin sikap kejujuran yang terbalut bahasa yang tidak sopan lebih buruk dari pada pencitraan. Tentu, segalanya ada batas toleransi, dan hati nurani adalah sumber dari pada segala hukum. Jika hukum malah melanggar nurani kemanusiaan, berarti semuanya hanyalah kelicikan.

Monday, April 1, 2019

Doa 1

Ya Alloh engkaulah pencipta ku, engkaulah yang menghidupkan ku, engkaulah yang menyimpan rahasia-rahasia yang akan kau berikan pada ku, aku bukanlah orang buta terhadap segala kasih sayang mu, segala karunia mu tak akan pernah dapat ternilai, memang aku banyak mengeluh dan tidak menerima, namun terimakasih ku juga tak pernah bisa disepadankan dengan kebaikan mu. Tuhan, aku adalah ciptaan mu yang tak berdaya tanpa pertolongan mu, engkau tahu tentang air mata, engkau tahu setiap manusia bukanlah seorang aktor yang menjatuhkannya hanya untuk bermain peran, engkau tahu tentang sedih dan bahagia, engkau tahu segala tentang kompleksitas manusia, engkau tahu tentang aku dan engkau, maka Tuhan, kepada engkau tetap tempat bergantung harap.

Tuesday, March 26, 2019

Condong

Gelap, sendiri, tidak selalu sepi, bukan selalu pengasingan. Terang, berkelompok, tidak selalu meriah, bukan selalu perayaan. Diam, tidak selalu hilang. Ramai, tidak selalu ada. Bahagia, bukan tanpa sedih. Sedih, bukan tanpa bahagia. Tertawa, bukan tanpa air mata. Air mata, bukan tanpa senyuman. Matahari, bumi, dan bulan. Bumi perlu matahari sekaligus bulan untuk keseimbangan, Kebesaran matahari akan sia-sia tanpa adanya bumi, Bulan tidak perlu indah jika tak ada kehidupan. Gelap, terang, pengaturan, dan keharmonisan.

Kejahatan

Sedikit luka terkena "tunggak" di telapak kaki ini nampak meng-anehkan jalanku di mata manusia. Namun  sedalam-dalam luka batinku (ada atau tidak) siapa yang tau kecuali aku dan penciptaku. Hukum manusia kebanyakan hanya akan mengadili mereka yang membuat luka seperti "tunggak", sedangkan yang melukai perasaan terbiarkan, padahal sakit yang berdarah tidak selalu lebih pedih dan lama sembuh dari pada sakit yang tidak berdarah. Seperti pepatah "terkadang bibir (perlakuan) lebih tajam dari pedang". Didunia ini, keadilan tidak selalu dapat ditegakkan, itulah salah satu sebabnya tuhan menciptakan hari penghakiman di akhirat kelak.

Menanti Sebuah Mimpi

Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...