Berjalan ku di atas jembatan kayu yang menggantung diantara bukit bertumbuh pohon yang rindang, kupu-kupu yang indah bertebaran di atas bunga-bunga yang menawan, air mengalir dengan percabangan seperti sebuah lukisan, bangunan mungil beratap jerami dan berdinding bambu nampak begitu anggun, sebagai tempat berteduh di kala ingin bertiup lembut, dan terik matahari hangat menyentuh kulit. Terberkatilah alam yang menyejukkan ku, dikala pagi yang ku nanti berubah sore, dan dikala sore yang ku tunggu berubah malam, maka disitulah tempat persinggahan mengalir dalam detik waktu ku yang kosong. Terbangkanlah aku wahai angin, bawalah aku dalam perjalanan mu, sampaikanlah aku pada asal mu, agar aku dapat hidup seperti mu.
Sunday, May 5, 2019
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Menanti Sebuah Mimpi
Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...
-
"Tangan terasa lemah, pikiran berputar lelah, perasaan berisik gundah, menjalani hidup tanpa arah. Saat segala ucapan bagai pedang, kes...
-
Hi, sahabat Sekolah Tanpa Batas, bingung nyari aplikasi/tautan yang dapat digunakan pada PID / IFP diSekolah? Selain pemanfaatan *Rumah Pen...
-
Seperti perut yang tak pernah kau tahu isinya, nasi dan udara sama-sama dapat membuatnya mengembang. Persis seperti pikiran mu itu, sulut ke...
No comments:
Post a Comment