Friday, December 27, 2019

pesta

Tanah yang ku pijak seperti mati, semua seperti angin yang terusir api, lantaran apa akar ku tercerabut pergi, hingga aku terlempar melayang-layang dan menanti. Tangan yang terangkat mulai lemah dan lebam, memerah lelah hendak terbenam. Malam dan udaranya seperti nafas yang terhembus bersama rahasia, siang seperti cawan penebusan tawa. Waktu melampaui usia ku, dan usia ku tak mengenal waktu. Ku tuding rumput tua dan aku berkata, " Hai Kau!, Tunjukkan pada ku ke mana arah berhentinya air yang mengalir itu!, jangan seperti penghianat kau berdalih bahwa ia tersebar merata ke seluruh bumi!". Tak mungkin hanya dengan sayap-sayap ini aku terjun dari bukit sunyi, jiwa yang menemani ku dalam senyum raya akan ku bawa pergi.

No comments:

Post a Comment

Menanti Sebuah Mimpi

Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...