Monday, December 16, 2019
harap
Saat mata ini mulai lelah memandang, ku tutup mata ku agar tenang, ku arahkan jiwa pada bayang-bayang, aku seperti layang-layang, terkadang tenang kemudian juga bergelombang, terkadang aku tersesakkan oleh pertanyaan dan juga keraguan, kemana ku serahkan kehidupan dan kematian, saat aku datang kau pulang, saat aku pulang kau datang, siapakah pada mu wahai kebenaran?, untaian tulang dan balutan daging ini sudah coba ku telan, namun begitu sulit untuk ku sia-siakan, ombak-ombak ini tentu membuat ku bergoyang, terkadang pula terjangan angin kuat menghadang, gerak langkah ku terasa terpenjara, mata hanya menatap dibalik jendela, menelan semua rasa yang tersuguhkan oleh nyata kehidupan, dan diakhir aku masih merasa banyak menang penuh keyakinan, tentu kemenangan semu dan tak terkonotasikan oleh hal kecil sekalipun meskipun, tentang apapun walau setetes embun yang terjatuh diantara dedaunan, suara air mungil yang menentramkan, desiran angin yang melembutkan, bintang-bintang yang berpendaran, pepohonan yang meneduhkan, suara burung-burung bernyanyian, semua nampak sempurna sebagai penglihatan, tentu aku menyembunyikan sesuatu yang tak ku sebut sebagai kekurangan, hanya karena ku tak tahu rahasia kecantikan apa yang akan kau nampakkan. Tentang keindahan-keindahan yang diperburukan, mengapa harus ku telan mangsa yang layu dihadapan keagungan ku sebut sebagai suatu kemuliaan?. Ohhhh.. Ku tanyakan pada mu wahai pencipta segala warna-warni yang menyilaukan, segala apa yang kau tumbuhkan tak pernah membuat makhluk mu tegak berdiri, semua akan tersungkur dihadapan kuasa mu, Namun semua itu apakah untuk ku? Atau kau hanya sekedar menipu?, semua nampak pemberian mu atau permainan mu?. Pantaskah kau memberikan sesuatu lalu kau ambil lagi dari ku?, segala macam dealiektika manusia membuat otak ku tak sanggup menampung, segalanya tak pernah menjadi keyakinan lagi tentang setia, lalu kau seperti mencoba melambaikan tangan mu pada ku, sambil mengejek ku, belumkah kau dewasa wahai pemuda?, untuk apa kau serahkan hati mu pada semua itu, hal apa yang kau tunggu untuk tidak segera datang dan memelukku?, aku cemburu!. Kau hamba ku, aku mengharap kau juga mengerti tentang aku, bukan hanya tentang ciptaan-ciptaan ku yang semua tergantung pada ku!.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Menanti Sebuah Mimpi
Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...
-
"Tangan terasa lemah, pikiran berputar lelah, perasaan berisik gundah, menjalani hidup tanpa arah. Saat segala ucapan bagai pedang, kes...
-
Hi, sahabat Sekolah Tanpa Batas, bingung nyari aplikasi/tautan yang dapat digunakan pada PID / IFP diSekolah? Selain pemanfaatan *Rumah Pen...
-
Seperti perut yang tak pernah kau tahu isinya, nasi dan udara sama-sama dapat membuatnya mengembang. Persis seperti pikiran mu itu, sulut ke...
No comments:
Post a Comment