Setelah mataku ku ini mengerti bahwa pelangi itu indah, jarum dari langit memintal kelopak mata ku agar terkunci, agar tidak ada yang perlu aku cari bagi diri ku sendiri, sehingga setiap waktu aku bagaikan buah yang terjatuh ke sungai, mengalir sama ke arah hilir, membusuk dan tercerai berai, apakah seperti itu harga dari keberadaan ku, saat aku ingin mengalunkan senandung syukur, aku menjadi ragu, apakah aku sedang berdusta, jika benar, maka aku malu pada dedaunan yang jatuh ke tanah ini, maka aku ingin pergi, berkaca pada kubangan air di perjalanan, agar aku tahu, benarkah mata ku telah cukup banyak kenyang dengan kenyataan, apakah yang masih diinginkannya.
Thursday, July 11, 2019
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Menanti Sebuah Mimpi
Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...
-
"Tangan terasa lemah, pikiran berputar lelah, perasaan berisik gundah, menjalani hidup tanpa arah. Saat segala ucapan bagai pedang, kes...
-
Hi, sahabat Sekolah Tanpa Batas, bingung nyari aplikasi/tautan yang dapat digunakan pada PID / IFP diSekolah? Selain pemanfaatan *Rumah Pen...
-
Seperti perut yang tak pernah kau tahu isinya, nasi dan udara sama-sama dapat membuatnya mengembang. Persis seperti pikiran mu itu, sulut ke...
No comments:
Post a Comment