Bagaimana kau melihat ku wahai rasul?, seperti apa kepedulian mu pada ku?, aku, ini, yang begini, apakah kau akui sebagai pengikut mu?. Layakkah diri ini kau pandang?, pantaskah kau akan sedikit saja melirikku dengan tatapan?, pantaskah aku walau satu kata mendengar suara mu?, dan sehelai rambut mu atau ujung kuku kaki mu aku sentuh?. Aku tak pernah mengaku mengenal mu, apalagi mencintai mu, dan kau pun tidak akan tertipu, sholawat salam yang ku panjatkan mungkin saja hanya karena kepentingan, lalu bagaimana aku berkata-kata tentang mu?, aku tak mau berdusta pada mu, kau dekat disisi Tuhan kita yang mengetahui segala lahir batin ku, bagaimana aku bisa bermain kata-kata tanpa rasa, sedang cinta kasih mu memasuki relung jiwa manusia-manusia yang aku yakini hidup penuh makna, sedangkan aku kosong, seperti sebuah bangunan tanpa penghuni. aku tahu kekaguman bukanlah cinta, yang hanya muncul karena melihat kelebihan, tetapi cinta selalu tumbuh dalam penerimaan dan kesadaran. segala pengakuan ku pada mu mungkin saja hanyalah sebagai tungganganku mencapai tujuan, seperti yang Tuhan kita tahu tentang diri ku, manusia durhaka dan tercela ini menatap dirinya sendiri dalam pejam mata yang tak kunjung pula sampai pada penghayatan, terus mempertanyakan kemanakah titik berpulang, aku belum jelas, apakah sebuah tempat ataukah apa?, aku tidak tahu. Tuhan mu wahai rasul, bukankah Tuhan ku juga, jadi bukankah aku juga seorang hamba, meski dengan segala hina, aku pun ingin menempuh perjalanan ke sana. Jika kau berkenan wahai Rasul, setidaknya sapalah aku agar merasakan kehadiran mu, jangan biarkan aku sedikitpun tak pernah tersentuh dalam pandangan mu, jangan engkau tak menganggapku sama sekali, aku mencari sesuatu yang menjadi hal terpenting dalam penyampaian mu pada semesta, engkau menebar cinta kasih pada seluruh hamba, maka jangan perkecualikan aku, percikilah jiwa ku agar hidup, agar pikiran ku bangkit, dan pandangan ku bersinar. Wahai Rasul, aku mempertanyankan diri ku pada mu, adakah hembusan angin yang berbaik hati mengantarkan tentang diri ku ini sehingga engkau mengenal ku?, aku takut, jikalau aku bukanlah siapapun bagi mu, aku bukanlah apapun, dan tiada kau pedulikan, maka aku memohon pada Tuhan kita, agar aku dirahmati, agar engkau berkenan tidak menolak ku, dan harapan ku tentu lebih dari pada itu.
Wednesday, July 10, 2019
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Menanti Sebuah Mimpi
Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...
-
"Tangan terasa lemah, pikiran berputar lelah, perasaan berisik gundah, menjalani hidup tanpa arah. Saat segala ucapan bagai pedang, kes...
-
Hi, sahabat Sekolah Tanpa Batas, bingung nyari aplikasi/tautan yang dapat digunakan pada PID / IFP diSekolah? Selain pemanfaatan *Rumah Pen...
-
Seperti perut yang tak pernah kau tahu isinya, nasi dan udara sama-sama dapat membuatnya mengembang. Persis seperti pikiran mu itu, sulut ke...
No comments:
Post a Comment