Apa kata manusia, hanya sebentuk suara. Apa yang hanya ada karena mata, adalah debu semata. Angin malam mengapa terasa dingin, dan angin pagi mengapa terasa sejuk. Manakah yang lebih engkau hayati wahai jiwa?, saat kau menatap gelap, atau saat kau berkedip menentang terang. Saat matahari mulai terbit, aku seolah hendak ingin menjadi burung yang terbang dalam kebebasan, namun saat gelap mulai datang, aku ingin menjadi air, mengalir saja. Saat air terkumpul maupun tercerai berai maka tetaplah air, sedangkan diri ku, saat tercerai berai, diri ini terasa perlahan berbeda, seperti aku hanyalah potongan demi potongan, dan jika terpecah, maka terasa bukan lagi diri ku. Namun aku bertanya pada ujung jari ku, mengapa kau dapat dikenali sebagai diri ku?. Aku kira saat kau terbakar karena api, kau tidak akan lagi mengaku sebagai diri ku bukan?.
Saturday, July 27, 2019
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Menanti Sebuah Mimpi
Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...
-
"Tangan terasa lemah, pikiran berputar lelah, perasaan berisik gundah, menjalani hidup tanpa arah. Saat segala ucapan bagai pedang, kes...
-
Hi, sahabat Sekolah Tanpa Batas, bingung nyari aplikasi/tautan yang dapat digunakan pada PID / IFP diSekolah? Selain pemanfaatan *Rumah Pen...
-
Seperti perut yang tak pernah kau tahu isinya, nasi dan udara sama-sama dapat membuatnya mengembang. Persis seperti pikiran mu itu, sulut ke...
No comments:
Post a Comment