Diantara awan dan tanah, dimanakah kaki ku berpijak saat ini?, kemanakah jiwa ku yang menguap itu terkumpul?. Aku, diantara para burung yang terkapar karena peluru, adalah jiwa yang terkoyak karena nafsu. Aku sambung tegakkan tulang kaki ku yang terpenggal oleh pedang pengharapan, aku ingin melucuti mata, telinga, dan batok kepala ku yang berlumuran getah, agar yang tersisa hanya mulut ku yang bernyanyi. Duhai matahari, aku ingin sirna bersama cahaya mu yang bersembunyi membelakangi tempat ku berdiri. Oh matahari yang berjarak, kenapa tak kau lahap diri ku dengan lidah api mu, kenapa engkau harus terus jauh dan selalu hendak menyenangkan ku dengan permainan rayuan cahaya mu, kapankah akan kau tunjukkan pada ku tanpa silau, sesuatu yang suci, berkecambah dari hati, yang hidup tanpa kemudian mati, tidak ada yang lain lagi, hanya satu, tanpa ragu, tanpa berusaha, terus terjaga.
Tuesday, July 30, 2019
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Menanti Sebuah Mimpi
Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...
-
"Tangan terasa lemah, pikiran berputar lelah, perasaan berisik gundah, menjalani hidup tanpa arah. Saat segala ucapan bagai pedang, kes...
-
Hi, sahabat Sekolah Tanpa Batas, bingung nyari aplikasi/tautan yang dapat digunakan pada PID / IFP diSekolah? Selain pemanfaatan *Rumah Pen...
-
Seperti perut yang tak pernah kau tahu isinya, nasi dan udara sama-sama dapat membuatnya mengembang. Persis seperti pikiran mu itu, sulut ke...
No comments:
Post a Comment