Tuesday, July 30, 2019

Dua

Diantara awan dan tanah, dimanakah kaki ku berpijak saat ini?, kemanakah jiwa ku yang menguap itu terkumpul?. Aku, diantara para burung yang terkapar karena peluru, adalah jiwa yang terkoyak karena nafsu. Aku sambung tegakkan tulang kaki ku yang terpenggal oleh pedang pengharapan, aku ingin melucuti mata, telinga, dan batok kepala ku yang berlumuran getah, agar yang tersisa hanya mulut ku yang bernyanyi. Duhai matahari, aku ingin sirna bersama cahaya mu yang bersembunyi membelakangi tempat ku berdiri. Oh matahari yang berjarak, kenapa tak kau lahap diri ku dengan lidah api mu, kenapa engkau harus terus jauh dan selalu hendak menyenangkan ku dengan permainan rayuan cahaya mu, kapankah akan kau tunjukkan pada ku tanpa silau, sesuatu yang suci, berkecambah dari hati, yang hidup tanpa kemudian mati, tidak ada yang lain lagi, hanya satu, tanpa ragu, tanpa berusaha, terus terjaga.

No comments:

Post a Comment

Menanti Sebuah Mimpi

Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...