Terbukanya mata ku hanyalah sekedar tetesan embun, dan lenyapnya diri ku seperti awan yang dihempas angin. Aku memang akan dilahap dunia, nama ku akan segera sirna. Sayap ku yang terluka, tidak ada beda dengan mereka yang terpenjara. Setiap nafas yang ku hembuskan, aku bermimpi menjadi bagian yang ada, karena jika nama Tuhan telah membuat ku tak berdaya, maka atas nama apa aku memanggil-manggil nama mu?, penderitaan? atau kebahagiaan?.
Thursday, August 1, 2019
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Menanti Sebuah Mimpi
Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...
-
"Tangan terasa lemah, pikiran berputar lelah, perasaan berisik gundah, menjalani hidup tanpa arah. Saat segala ucapan bagai pedang, kes...
-
Hi, sahabat Sekolah Tanpa Batas, bingung nyari aplikasi/tautan yang dapat digunakan pada PID / IFP diSekolah? Selain pemanfaatan *Rumah Pen...
-
Seperti perut yang tak pernah kau tahu isinya, nasi dan udara sama-sama dapat membuatnya mengembang. Persis seperti pikiran mu itu, sulut ke...
No comments:
Post a Comment