Seseorang meminta hidup lebih lama, dan aku merasa ingin mati sebelum pernah mengangkat senjata, untuk apa aku angkat tombak ku pada manusia, saat jiwa ku kering hampa mati rasa. Harga dari kekuatan ku adalah cinta, oleh sebab itu tak ada yang pantas untuk ku perjuangkan tanpanya. Untuk apa aku terus memeras mata, untuk apa segala tanggungan hati ini, untuk apa aku menengadahkan tangan, tempat ku berdiri terasa seperti nampan yang terpapar api. Dengan segala kesadaran dan kelemahan, dengan adanya perkataan bahwa Tuhan tahu bagaimana untuk membuat ku bahagia, aku menangis bodoh, dan biarlah kebusukan, kekufuran, dan kekonyolan ku yang telah ku akui itu sebagai zikir ku atas ketergantungan ku akan kehadiran mu dalam hidup ku wahai Tuhan.
Friday, August 9, 2019
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Menanti Sebuah Mimpi
Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...
-
"Tangan terasa lemah, pikiran berputar lelah, perasaan berisik gundah, menjalani hidup tanpa arah. Saat segala ucapan bagai pedang, kes...
-
Hi, sahabat Sekolah Tanpa Batas, bingung nyari aplikasi/tautan yang dapat digunakan pada PID / IFP diSekolah? Selain pemanfaatan *Rumah Pen...
-
Seperti perut yang tak pernah kau tahu isinya, nasi dan udara sama-sama dapat membuatnya mengembang. Persis seperti pikiran mu itu, sulut ke...
No comments:
Post a Comment