Ku pejamkan mata ku, ku lemparkan pikiran pada khayalan, terciptalah pohon indah ku. Sekarang aku dibawahnya, aku bersandar pada dahannya, akar-akarnya selembut selimut, ranting dan daunnya berombak indah tertiup angin, dan aku merasa sangat teduh, tak ada panas tak ada dingin, aku merasa sangat nyaman, bersama para sahabat yang penuh kedamaian, kucing, burung, monyet, kupu-kupu, lebah, ular, sapi, dan kuda. Aku berteman dengan mereka dan aku mendapatkan cerita yang sangat aku nikmati, air ada dihadapan ku berupa sungai kecil yang jernih dan segar, ini adalah kerangka surga, dan aku akan menyempurnakannya dengan apa yang akan diberikan Tuhan pada ku. Layakkah aku menyebut nama mu Tuhan?, saat apa yang ku sampaikan pada mu hanyalah kebutuhan demi kebutuhan?.
Thursday, October 17, 2019
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Menanti Sebuah Mimpi
Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...
-
"Tangan terasa lemah, pikiran berputar lelah, perasaan berisik gundah, menjalani hidup tanpa arah. Saat segala ucapan bagai pedang, kes...
-
Hi, sahabat Sekolah Tanpa Batas, bingung nyari aplikasi/tautan yang dapat digunakan pada PID / IFP diSekolah? Selain pemanfaatan *Rumah Pen...
-
Seperti perut yang tak pernah kau tahu isinya, nasi dan udara sama-sama dapat membuatnya mengembang. Persis seperti pikiran mu itu, sulut ke...
No comments:
Post a Comment