Thursday, October 10, 2019

Cerca

Banyak orang mencerca dengan berkata "Pikiran dan perasaan ku terasa sulit untuk memaklumi tindakan brutal para ekstrimis dengan dalih agama!", padahal mereka para mulut lintah apakah pernah untuk kebaikan diri maupun bersama meskipun hanya berdoa dengan sangat gigih?, apalagi sampai bertindak hingga mengatarkan diri di ujung siksa hukum seperti para teroris?. Semua orang harus melakukan refleksi diri, karena menjadi penonton hanya akan mampu bersorak-sorai, dan pemain selalu beresiko untuk dipuji dan dihina. Tidak ada pembenaran bagi pelaku keburukan, namun cara pandang diri pribadi harus pula dipertajam. Kebenaran adalah persoalan yang harus disimpan dan dikelola dengan baik, seseorang berkata "kebenaran itu berada di dapur!, kebaikan adalah hal yang terutama harus disuguhkan!". Semua orang dapat menerima kebaikan, tapi belum tentu kebenaran. Semua orang dapat menikmati hidangan yang lezat, namun belum tentu semua orang mampu memasak. Bukankah berbeda orang yang tahu dengan yang tidak tahu?, kitab mengingatkan. Jika terkesan orang yang mengaku menjalankan perintah Tuhan mati perasaannya dan karatan pikirannya, apakah probabilitas alasan karena terlalu sibuk dan lelah dengan aktivitas bisnis pahala terhadap Tuhan dapat dipertimbangkan?, sehingga pengasahan pikiran dan perasaan tidak menjadi jumud dan kemudian tumpul?, atau apakah karena Tuhan yang mereka pahami berdasarkan pengalaman adalah Tuhan yang maha Sangar?. Kita familiar dengan pernyataan bahwa seseorang memperoleh kebenaran dan seseorang yang lain berbuat baik. Hal tersebut tentu mengindikasikan bahwa dua hal tersebut memiliki wilayah dominannya masing masing. Mengingat kata-kata "Sebelum beragama seharusnya hewan berwujud manusia memiliki "kemanusiaan", sehinga setelah beragama, agama tidak menjadi korban dari dirinya. Agar tidak terjadi bahwa agama yang saharusnya suci dan indah menebarkan kedamaian, malah terasa culas kotor menebarkan pertentangan dan teror. Bukankah wahyu turun untuk seluruh manusia?, lalu mengapa seseorang menggunakannya hanya untuk kepentingan pribadi?, Tuhan pribadi?, surga pribadi?. Bagaimana seseorang mengaku cinta pada Tuhan, padahal yang dipikiran hanyalah bayangan surga?. Mata Qais dipenuhi laila, bukan rumahnya. Untuk ukuran kebaikan dan perbaikan, pemakluman dalam arti pengusahaan, pembenaran terhadap hal yang tidak benar menjadi kadang perlu.

No comments:

Post a Comment

Menanti Sebuah Mimpi

Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...