Friday, October 18, 2019

Hiduplah kembali

Sudah dan masih juga debu ini diterpa angin yang tak mengenal arah, kesana-kemari berputar melingkari masa demi masa, terbanting di atas tanah, terlempar keras pada dinding, dan melayang-layang terhempas ke tempat yang asing. Debu yang tak pernah dilahirkan hanya mengaku sebagai serpihan batu, anak manusia yang tak mengerti cinta hanya akan mengenal Tuhan dengan jari-jemarinya. Betapapun kering korantangnya diri mu wahai debu, meskipun tak ada air yang tersimpan, walau rintikan hujan hanya akan menyapa mu dan akan jatuh pada hati bumi, tegarlah!, atau anggaplah saja engkau adalah burung yang percikan darahnya pernah menyentuh mu, ingatlah..., tak apa saat ini memang malam dan gelap, besok pagi tegaklah kembali, carilah senyuman meski hanya dari tarian seekor ulat. Oh debu... Kuatlah saat hembusan nafas menyingkirkan mu, bertahanlah  saat diri mu terusir dan terbuang. Lihatlah..!, banyak mata telah buta, namun pikiran banyak menduga dan mulut sangat fasih berbicara, pahamilah... Ohh debu..., namun ketiadaan apapun dari diri mu tak selalu lebih murni dari mereka, semua itu bukanlah kemenangan mu, hanya harapan pada pandangan mu agar tercerahkan kembali, tenanglah... hiduplah kembali esok, atau lebih-lebih nanti, jika sekarang mati, hiduplah kembali, mati, hiduplah kembali!.

No comments:

Post a Comment

Menanti Sebuah Mimpi

Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...