Sudah dan masih juga debu ini diterpa angin yang tak mengenal arah, kesana-kemari berputar melingkari masa demi masa, terbanting di atas tanah, terlempar keras pada dinding, dan melayang-layang terhempas ke tempat yang asing. Debu yang tak pernah dilahirkan hanya mengaku sebagai serpihan batu, anak manusia yang tak mengerti cinta hanya akan mengenal Tuhan dengan jari-jemarinya. Betapapun kering korantangnya diri mu wahai debu, meskipun tak ada air yang tersimpan, walau rintikan hujan hanya akan menyapa mu dan akan jatuh pada hati bumi, tegarlah!, atau anggaplah saja engkau adalah burung yang percikan darahnya pernah menyentuh mu, ingatlah..., tak apa saat ini memang malam dan gelap, besok pagi tegaklah kembali, carilah senyuman meski hanya dari tarian seekor ulat. Oh debu... Kuatlah saat hembusan nafas menyingkirkan mu, bertahanlah saat diri mu terusir dan terbuang. Lihatlah..!, banyak mata telah buta, namun pikiran banyak menduga dan mulut sangat fasih berbicara, pahamilah... Ohh debu..., namun ketiadaan apapun dari diri mu tak selalu lebih murni dari mereka, semua itu bukanlah kemenangan mu, hanya harapan pada pandangan mu agar tercerahkan kembali, tenanglah... hiduplah kembali esok, atau lebih-lebih nanti, jika sekarang mati, hiduplah kembali, mati, hiduplah kembali!.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Menanti Sebuah Mimpi
Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...
-
"Tangan terasa lemah, pikiran berputar lelah, perasaan berisik gundah, menjalani hidup tanpa arah. Saat segala ucapan bagai pedang, kes...
-
Hi, sahabat Sekolah Tanpa Batas, bingung nyari aplikasi/tautan yang dapat digunakan pada PID / IFP diSekolah? Selain pemanfaatan *Rumah Pen...
-
Seperti perut yang tak pernah kau tahu isinya, nasi dan udara sama-sama dapat membuatnya mengembang. Persis seperti pikiran mu itu, sulut ke...
No comments:
Post a Comment