Wednesday, September 4, 2019

Darah

Seperti kau pernah melihat burung yang tulang sayapnya patah penuh darah, kau tangkap burung itu, kau lihat burung itu meronta tak ingin kau pandang lemah, meskipun dia tak lagi bisa terbang, dia sendiri, temannya hanyalah rumput yang dipijaknya, namun kau lihat dia terus mencoba menjalani dan menanti hingga mati tanpa harus berserah diri di ujung maut tanpa perang di tangan mu, dia membawa luka perih sampai akhir atau sembuh oleh waktu, dan dia tahu bahwa dia tak pernah tahu tantang waktu.

No comments:

Post a Comment

Menanti Sebuah Mimpi

Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...