Monday, September 30, 2019

Dialog

Matahari bertanya pada bumi, "wahai planet yang paling ku kasihi, engkau yang terindah diantara 7 planet lainnya, apakah kau merasa unggul dan bahagia?. Bumi menjawab, "wahai Raja Bima Sakti, aku tak pernah mampu menjawab pertanyaan mu itu, aku dicipta untuk menopang langkah manusia, yang ku saksikan bukan hanya tawanya, tapi juga tangisnya. Bukan hanya madunya, tapi juga darahnya. Hal apakah yang membuat ku bahagia, kemudian membutakan mata ku dari ratapan yang ada?". Bumi berkata "wahai sang perkasa di galaksi, engkau memang memberikan ku terang, tapi kelelawar adalah bagian dari penghuni ku, cahaya mu baginya adalah panah-panah yang menusuk mata. Surya berkata, "aku tak mampu menembuskan api pada awan-awan yang berkumpul kokoh pada atmosfer mu, aku tak mampu menguapkan hujan sebelum jatuh di pelataran tubuh mu, aku hanya melakukan sebatas kemampuan ku". Bumi berkata, "demikian pula aku menyediakan ikan-ikan pada lautan yang luas, sumber mata air yang segar, aku juga menumbuhkan berbagai pepohonan di atas tubuh ku. Semua itu hanyalah sebatas kemampuan ku memenuhi penghidupan mereka para penghuni ku. Segala apa yang aku berikan, belum tentu membuat mereka lepas dari tangis". Matahari bertanya, "bagaimanakah manusia yang hanya seukuran debu itu bagi ku?, mengapa memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar dari kita?. Padahal kau tahu, hanya setitik saja ku ludahi kepalanya, maka tengkoraknya tak akan bersisa". Bumi berkata, "aku tahu itu, dengan hanya cambukan sehelai rambut kilat ku, manusia juga akan tercabut nyawanya". Matahari bertanya "lalu, wahai Bumi yang selama ini menjadi ibu bagi rumah-rumah manusia, siapakah menurut mu manusia itu?". Bumi menjawab "aku juga memiliki penghuni, yaitu semut, aku melihatnya mampu memikul beban yang lebih besar dari tubuhnya sendiri. Ada lebah yang mengepakkan sayap dengan sangat cepat dalam satu detiknya, namun sayapnya tidak pernah terbakar. Ada ulat yang berubah menjadi kupu-kupu, dan ada jauh lebih banyak lainnya, aku sendiri tak mampu menghitungnya, aku hanya mampu melihat sedikit hal dari apa yang ada di atas pelataran ku, Tuhan sangat berkuasa atas segalanya, aku menyerah. Wahai sang surya, Aku menduga bahwa manusia lebih kuat dibanding kita karena mereka memiliki sesuatu yang tidak kita miliki, yaitu perasaan yang mampu berkorban demi cinta kasih, berlaga demi kebajikan, dan berjuang memperoleh kebenaran. Mereka diuji dengan beban tubuh, pikiran, dan hati. Mereka terus bergulat meskipun seandainya tidak memiliki musuh, karena setiap hari mereka harus menahan atau melawan serangan yang muncul dari dalam diri mereka sendiri yang tak nampak. Wahai Sang Surya, kita hanya dapat melihat air mata yang mengalir, darah yang berjatuhan, dan terikan yang memekakkan telinga, namun kita tak pernah tahu, sedalam dan sekelam apa sumber dari semua itu muncul dari luasan jiwanya. Lebih baik kita melakukan Tugas kita apa adanya, karena yang ku tahu dari sedikit rahasia tentang mereka, bahkan hanya sedikit di antara mereka yang mengetahui makna-makna yang ada terhadap sesamanya, apalagi kita yang hanya menyaksikan tanpa pernah menjadi manusia".

No comments:

Post a Comment

Menanti Sebuah Mimpi

Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...