Friday, November 22, 2019

kedua

Tuhan, aku bertanya tentang cangkir yang kedua, sahabat dari kekasih mu menyembunyikannya pada ku, mengapa dia boleh meneguknya, sedang bagi ku mengangkat cangkir pertama saja tak mampu?, mengapa tangan ku terasa lemah?, apakah aku ini hanyalah sebagian dari sebaran kerikil hitam biasa?, layaknya binatang ternak yang begitu taat karena ancaman pukulan?. Mengapa saat aku bertanya jawabannya selalu rahasia?, apakah jika aku tahu maka akan ku hancurkan dunia?. Atau mereka menyembunyikan semua itu dari ku karena kedewasaan ku setingkat balita?. Yang saat diberi sendok hendak mencongkel matanya sendiri untuk dimakan?. Aku hanya bertanya pada mu, ku tahu kehidupan ku sendiri yang akan berjalan, suara mu tak mampu ku dengar, tapi cahaya mu ku harap menuntun ku. Karena aku hanyalah hamba mu yang biasa, menjadi budak dan dewa dalam buta.

No comments:

Post a Comment

Menanti Sebuah Mimpi

Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...