Tuhan, jangan biarkan aku terhenti panjang dalam gelap, sehingga kesedihan terus menjaringi butiran air mata ku dari dasar jiwa, dan membuangnya ke alam fana layaknya sampah tak berharga. Tuhan, bukankah air mata ku itu juga ada hitungannya, siapapun yang membuatnya jatuh, berarti dia telah berhutang?. Ya Tuhan, jangan biarkan ketidak-sadaran terus menjangkiti ku layaknya benalu yang menghisap kehidupan inangnya.
Sunday, April 21, 2019
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Menanti Sebuah Mimpi
Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...
-
"Tangan terasa lemah, pikiran berputar lelah, perasaan berisik gundah, menjalani hidup tanpa arah. Saat segala ucapan bagai pedang, kes...
-
Hi, sahabat Sekolah Tanpa Batas, bingung nyari aplikasi/tautan yang dapat digunakan pada PID / IFP diSekolah? Selain pemanfaatan *Rumah Pen...
-
Seperti perut yang tak pernah kau tahu isinya, nasi dan udara sama-sama dapat membuatnya mengembang. Persis seperti pikiran mu itu, sulut ke...
No comments:
Post a Comment