Terceritakan pada masa lalu, seorang anak kecil yang banyak takut dan menangis. Dia salah seorang anak yang diberikan Tuhan untuk belajar arti kesabaran dan keberanian dalam hidup sejak dini.
Penulis akan menceritakan satu sisi kehidupan anak kecil itu, karena sudah pasti dari banyak sudut galian yang membangun karakternya, maka satu alasan tidak cukup memenuhi kelengkapan, namun sedikit ini semoga bermakna.
Selamat membaca, semoga ada kebaikan...
Pada sebuah dusun yang masyarakatnya masih cukup konservatif, tentu semakin banyak anggota berarti semakin kuat, maka sudah menjadi budaya jika penduduknya berperilaku mencari pendukung untuk menjaga eksistensi diri. Tidak terkecuali anak-anak dalam dusun tersebut, seperti pohon pisang memperanak tunas yang tak jauh jarak dan sifat dari induknya, mereka hidup dalam kelompok-kelompok untuk dapat terjaga dari gersang keterasingan. Tidak urusan pemimpinnya siapa, baik atau buruk tidaklah penting, tujuannya adalah untuk aman, dari pada terancam. Hidup menjadi budak pengusa, diyakininya lebih berharga dibanding merdeka berlawan para penganiaya.
Diantara keceriaan permainan tradisional saat itu, dia cukup dikenal menggemaskan, anak yang sering mengeluhkan sulitnya untuk belajar, jarang bicara tentang banyak usaha yang telah dilakukan, tetapi sepertinya "ketidak mampuan" terus melekat dalam anggapannya. Diperparah dengan sifat polos kekanakannya yang murni, mengikuti angin kemanapun pergi, telah membuatnya semakin mudah dipermainkan oleh "kelicikan kekanakan" kawan-kawannya. Dia dikenal "kurang", lemah, dan dapat dipermainkan. Anak yang menyedihkan itu sebut saja "putih", karena dia banyak bermimpi setinggi awan, memiliki dunia yang ia ciptakan dalam imaginasi.
Persahabatan telah dicobanya untuk mengobati kesendirian, dibinanya dengan baik hubungan itu. Namun pada suatu ketika, semua itu tidak berlangsung lama, sahabat-sahabat yang disenanginya itu seperti juga hendak menjaga gengsi, bersahabat dengan putih dipikirnya hanya akan menciptakan kerugian, putih adalah anak yang suka diganggu dan tidak mampu membela diri, lebih baik ikut kelompok yang mendholiminya dari pada terdholimi jika bersamanya, berakhirlah putih yang sebenarnya baik dan menyenangkan itu dijauhi sahabat-sahabatnya, mereka takut jika nasibnya sama dengan putih yang suka dijadikan bahan tawa.
Tercerabutlah satu per satu teman-teman yang dianggapnya sudah cukup dekat dan dapat dipercaya, putih merasa kecewa, dia semakin merasa rendah diri, hidupnya seperti tiada yang mengharapkan. Dia tidak suka sekolah, bukan hanya karena ia merasa tidak pintar, tetapi juga karena kawan-kawannya yang suka memukuli kepalanya tanpa alasan. Diperlakukan dia layaknya barang yang tak punya perasaan, seperti tubuh kebal tanpa kesakitan, padahal dia banyak sedih dan lebam.
Hari berganti bulan kemudian tahun, lelah keadaan mengharuskannya mengambil keputusan, dia harus melawan, sudah tidak perlu ada lagi yang ditakuti, disadarinya hidup punya harga diri. Ditaklukkannya ketakutan yang selama ini membayangi, dia hendak merubah hidup, menghabisi segala sakit hati, yang ditunggunya adalah kesempatan, menanti pemantik untuk dia dapat membakar, membalas segala dendam yang menghantui, melepas segala sesak yang selama ini tertahan.
Suatu hari, didapatkannya kesempatan itu, hendak dijadikan gendang lagi kepalanya, seperti payung bertemu hujan, layaknya cahaya menelan gelap, berbaliklah anak kecil itu membalas, seperti kadal jadi buaya, dijadikan musuhnya diam tak berani bersuara, inilah hari kemenangan baginya, semua kawan-kawan yang biasa mendholimi dan telah menghianatinya ditantangnya, semua hanya melongo tidak menyangka, mulai saat itu, tidak ada lagi yang berani menggangu, setiap kali ada yang hendak mengganggunya tak sadar karena kebiasaan dulu, ditatapkannya mata padanya, tak perlu kata terlontar sudah menyingkir, dia sudah berhasil melawan dan menang.
Kemenangan yang memuncak itu tidak membuat hidupnya lepas dari kesepian, masih belum ada sahabat yang dapat dirangkulnya, sendiri tak ada lawan maupun kawan, memang dunia tidak banyak menawarkan pilihan, dia merasa cukup melakukan sesuai dengan keadaan yang ada, semoga pada saatnya semua berubah lebih bahagia.
Hiduplah dia dengan pemikiran bebas, karena ia terbiasa berotonomi, sikap kemerdekaannya terlihat jelas dari gaya bahasa saat menanggapi persoalan.
Kalau diambil cermin dari kisah itu, maka bisa dikatakan beberapa hal yang tersirat, diantaranya:
Jangan mudah menghakimi anak kecil yang tidak pandai bergaul, karena mungkin saja pergaulan itu sendiri yang membuatnya seperti itu.
Dunia pendidikan itu untuk belajar, bukan untuk melabeli pintar. Pengawasan guru sangat diperlukan, untuk menjaga kesehatan mental muridnya.
Siapapun berhak tetap memiliki semangat , karena potensi positif ada pada masing-masing anak. Hanya saja sistem penyeragaman itu yang sebenarnya malah menimbulkan kesan pembeda-bedaan.
"Semuanya punya kebaikan", kata bijak seorang bocah lain yang penuh keyakinan berkata pada ku.