Tuesday, December 29, 2020

Membasahi Hati

Dengan cara apa aku dapat  mengairi hati, agar ia terus basah dan tak menumbuhkan api, tetapi seakan hati ku terbuat dari ranting-ranting kering, mata dan telingaku adalah pintu masuk angin-angin. 

Aku menolak menyimpan segala dalam genggaman, tetapi ruang gelap jiwa ku ternyata masih sempit. Aku salah memandang dengan mata pongah, berkeyakinan tempat itu seluas mimpi, kepercayaan ku melayu terhembusi musim panas, lemah dan hendak menyerahkan harapannya.

Seperti panci meluapkan sebagian air yang mendidih, aku hanya ingin mengandung segala apa yang menjadi bagian ku, tetapi apalah yang ku tahu dari semua yang terjadi, aku hanyalah pecahan batu yang tak mengerti apa itu satu, dan kehidupan ku tak lebih seperti binatang yang mengendus lumuran darah.

Penjilat yang bertahta di atas awan, teriak makian membangunkan sadar. 

Monday, December 21, 2020

Cacing dan Petani

Berkata tidak benar, memang berarti dusta. Tetapi siapa yang membelenggu manusia karena kata, itu semua bukanlah cara kerja cinta. Bebaskanlah manusia atas nama Tuhan, karena hakekat cinta adalah memberi, bukan menerima. 

Kau terlalu sering menganggap mempunyai sesuatu, kau berkata tentang diri mu bahwa ini dan itu milik mu, hingga saat semua rusak dan hilang, kau baru sadar, kau memang tak bisa benar-benar menggenggam, bahkan diri mu yang kau aku-aku itu, bukankah tak mampu kau jaga untuk dapat hidup selamanya?.

Berhati-hatilah dengan rasa memiliki, karena saat sesuatu pergi artinya kau kehilangan.
Kesedihan banyak timbul karena rasa kepemilikan, tetapi kesadaran bahwa semua ini adalah kesementaraan, ketergantungan mu pada Tuhan, keimanan itu harus dikedepankan. Agar kejatuhan mu tak membuat putus asa, dan keberhasilan mu tak menyombongkan mu berbuat aniaya.

Kau diuji dengan keimanan, karena penyaksian tidak memerlukan keyakinan. Kerendah-hatian mu pada ketidak-tahuan, seharusnya mengantarkan mu pada penyimpulan kelemahan.

Apa yang telah ternyatakan dan kau buktikan sebagai kebenaran, bukankah sudah semestinya menjadi pedoman. Tetapi mengapa kau bersikap lebih rendah dari cacing sawah?. Saat kebenaran itu tak menambah keyakinan, dan pedoman tak kau gunakan sebagai petunjuk.

Aku telah melihat, cacing itu terus meronta tidak menerima, seakan menggeliat ketakutan di atas penggorengan, memaki dan mengutuk, tubuhnya yang terpotong cangkul petani yang hendak menggali parit itu, tidak mampu diam dan bersabar. 

Katanya sambil menjerit, "Tubuh ku telah menjadi bagian dari diri ku, jika bentuk ku hanya tinggal sebagian, sama halnya jiwa ku telah tanggal separuh. Bagaimana mungkin aku baik-baik saja, aku dalam sekarat, aku kesakitan dan akan segera mati!."

Aku tak bisa memalingkan wajah ku, hendak ku satukan kembali tubuhnya yang terpisah, tetapi aku hanya bisa menungguinya untuk mati atau tidak lagi bergerak. Siapa yang dapat aku persalahkan, ku anggap petani itu tidak punya niat, aku meyakini pula jika kesakitan itu memang takdirnya.

Cacing hanyalah makhluk yang terus bersembunyi di balik tanah, meskipun cahaya telah datang, tetapi seharusnya kita sadar, kegelapan memang rumahnya. 

Berbeda dengan Petani, ia adalah makhluk besar, apa urusannya dengan seekor cacing, meskipun ia nampak di permukaan?, dia hanyalah binatang kecil tak berdaya, hanyalah umpan untuk pancing ikan manusia.

Aku bergeleng kepala, tak mampu lagi berbagaimana, kisah ini tiada akhir, dan apa pentingnya bagi ku melihat semuanya. Jika aku punya cerita, aku pun tak perlu banyak peduli, untuk mempertanyakan semuanya.

keharuman dan kemerduan

Menulis hanyalah pengejawantahan dari kemampuan membaca, karena tujuan menulis adalah menciptakan bacaan. Sebagian orang tidak menyukai karangan, karena dianggapnya itu adalah tuangan emosi semata, tidak menyimpan pengetahuan dan kebijaksanaan yang bermanfaat. Seperti lagu yang dinyanyikan artis dengan nada merdu, tetapi berlirik busuk dan tak berharga. Berbeda dengan nyanyian, kekuatan sastra terletak pada kata dan makna, pada jiwa, bukan tubuh.

Saturday, December 19, 2020

Tulisan

Dahulu, aku tidak tahu harus kemana saat aku sendiri, ketika rasa kosong menjangkiti dan terasa sakit. Tetapi aku bersyukur beberapa waktu terakhir dalam hidup diberi kesempatan untuk belajar beberapa hal, semua itu memberi ku bantuan untuk dapat mengendalikan. Jika semua cabaran itu datang, aku biasa menuju kepada lembaran-lembaran yang tersimpan. 

Iya... Buku, memang sebuah objek, tetapi bagi ku mereka adalah sosok, dengan karakternya masing-masing. Meski semua itu hanyalah sebuah abstraksi, tetapi bagiku penting untuk hidup ditanah mimpi, karena ujung realitas pun akan terasosiasi, manusia lebih banyak bicara dari hatinya, dari pada dengan suara yang keluar dari mulutnya. Dengan begitu, bukankah manusia lebih sibuk dengan urusan psikologisnya, ketimbang dengan hal tubuh dan diluar dirinya.

Tuesday, December 15, 2020

Nama

"Terkadang terjadi, banyak manusia lupa sama sekali, bahwa yang merendahkan harga dirinya, tiada lain adalah dirinya sendiri. Banyak manusia tidak sadar, sehingga mencari kambing hitam, atas kerusakan yang diperbuat tangannya sendiri, mereka mencari pembenaran, melempar kotorannya sendiri ke belakang punggung orang lain".

Anak kecil yang bernama Putih itu, telah tumbuh menjadi remaja yang tampan, dunia kehidupannya semakin lebar, tempatnya sekarang telah berganti wilayah, keceriaannya menyimpan harapan, untuk dapat berubah kepribadian, dia akan berada di lingkungan yang baru, mengenal manusia-manusia yang  belum dikenal, tak lama waktu dapat menciptakan jalinan teman, sebagiannya menjadi sangat dekat, ia sudah dapat percaya untuk bicara lebih dalam, dari sebelumnya ia selalu menyimpan pembicaraan.

Remang adalah nama kawan terdekatnya, sesuai namanya, ia tidak suka konflik, dia tidak menyukai penghakiman, ia suka keakraban, kelembutan, dan guyonan. Terbukti saat putih dan dia mengendarai sepeda bersama, ketika terdapat pemuda desa bermulut kotor mengendarai motor, pemuda itu menghentak mereka karena tidak memberikan aba-aba melambaikan tangan saat hendak menyeberangi jalan, putih terbawa emosi dengan menjawab "maaf", namun dengan nada kasar pula, putih tahu jarak antara pemuda itu dan diri mereka sama sekali tidak berpengaruh bahaya, tetapi pemuda emosional itu hanya hendak mencari gara-gara, Putih memang tidak suka kekasaran, tetapi ia akan bersikap reflek sebagaimana ia diperlakukan.

Remang hanya diam, tetapi kemudian berkata membela pemuda pemaki tersebut dengan lembut, "kamu memang lupa memberi aba-aba". Putih hanya diam dan agak kesal pada Remang karena tidak mendukung emosinya.

Manusia dapat dengan sangat sombong memikul harga dirinya sendiri, sampai-sampai lupa perbuatannya telah merendahkan orang lain. Beberapa manusia hanya peduli dengan harga dirinya sendiri, melupakan orang lain punya perasaan sama seperti dirinya. Sangat perasa jika harga dirinya dicubit, melupakan harga diri orang lain sedang diinjaknya.


Kenetralan terkadang dianggap sebagai jalan tengah, menyakini antara hitam dan putih memang tiada, tetapi jika dengan cara demikian berharap keuntungan di kedua bilah pihak, ia melupakan bahwa sebenarnya sedang dimangsa di kedua sisi.

Semacam ada tembok yang membatasi jalan pengetahuan dengan kebijaksanaan.
Saat banyak kata yang tak termaknai dengan hati, saat ucapan kasih sayang tiada beda dengan transaksi, segalanya seakan berarah sendiri-sendiri, menunggu detik saling berpaling dan menonjolkan pribadi, saat waktu kesabaran datang menempati.

Tuhan, semoga kehidupan lebih damai.
Aamiin.

Sunday, December 13, 2020

Mendung

Mendung !
Terkadang datang mu seakan membawa kegembiraan, terkadang pula hadir mu menyimpan kemuraman.
Apakah engkau satu ?
atau kalian tak berhingga?
Harus ku panggil engkau atau kalian?
Dapatkah aku melihat kesatuan mu saja?
Tetapi saat jatuh mengapa kau menjadi kalian?
Bahkan saat hanya setetes saja yang menyentuh jalan, kau berpercikan  sehingga berbilang!.

Hendak kau perkenalkan sebagai apa diri mu?.
Penting bagi ku untuk tahu tentang diri mu atau kalian. Agar aku mengetahui status keberadaan mu atau kalian. Agar aku tahu untuk berbisik atau berisik saat mendung datang.

Jika hujan adalah tujuan mu, maka keterpecahan mu adalah perayaan, engkau berasal dari kalian, dan kalian berasal dari engkau, seakan engkau dan kalian adalah satu yang berjarak, dari air terbawa sungai kelautan, dari asap melayang menuju kebersatuan, turun dan kemudian naik, berpisah kemudian bertemu, bukankah selalu begitu, apakah perbedaan mendung dengan diri ku?.

Seakan kau hendak berkata:
"Aku dapat menjadi berapapun yang kau mau, tetapi aku adalah yang diperlukan seluruh makhluk, jangan tanya sosok ku, tetapi pahamilah hakekat ku, karena setiap sosok hujan atau awan, memiliki kesadaran yang sama, berpeluk kemudian bertebar, bertebar kemudian berpeluk, untuk satu tujuan, menjadi tanda bagi mu, tentang adanya rancangan, bagi yang tak percaya, ragu, dan percaya. Bagi yang bermata tapi buta, atau buta tapi berkesadaran.

Semoga selamat, hidup lebih bermakna dan bahagia.
Aamiin

Saturday, December 12, 2020

Niat dan langkah

Aku ingin bertemu untuk bicara, setidaknya sekedar mengirim pesan, tetapi seakan keberadaan ku saat melihat mu, aku ada dalam lembah yang mendongak memandangi mu di atas bukit, apa salahnya dengan diam ku jika itu karena aku merasa tahu diri, apa bodohnya aku jika memang aku merasa belum setingkat, aku melihat mu dengan penuh kesempurnaan, dan ku pandang diri ku dengan banyak kelemahan, pemaksaan diri ku sendiri untuk melangkah menuju mu, ku takut itu adalah kejahatan, keberanian tanpa perhitungan adalah perendahan terhadap diri mu, bagi ku engkau dimuliakan Tuhan, aku tak ingin meredupkan sinar mu, melayukan akar-akar tegak mu, bagi ku engkau berharga, kau pun harus berada dalam kotak yang baik, sebilah pedang kenangan pahlawan tak pantas untuk memotong dahan pepohonan, permata disimpan dalam keadaan aman, sedangkan sesuatu yang biasa memiliki tempat pada umumnya.
Apakah yang harus ku lakukan dengan keadaan ku, seakan niat kuat namun tangan tak sanggup mengikat.

Berikan aku petunjuk Mu Tuhan, bukankah saat menghadap mu segala makhluk berada dalam kuasa Mu, apakah aku sedang menggantungkan kebahagiaan kepada sesuatu yang juga bergantung pada Mu. Bukankah aku sudah melakukan banyak kekonyolan, maka jadikanlah apa yang terjadi pada hidup ku ini, menjadi stabil karena kebenaran Mu, rahmatilah aku dengan kelembutan Mu.
Aamiin.

Thursday, December 10, 2020

Bersama waktu

Apakah yang mengakar dalam hati mu, yang terus mencari kesejukan saat kering meretakkan jiwa mu, yang dari sana tumbuh  kekuatan kelembutan mu, yang dari sana setiap kematian terhidupkan kembali di hati, ku tanya apa itu?. Kau hanya berkata, "teruslah berjalan bersama waktu, jika takdir menghendaki mu, kau akan mendapat jawaban".

Topeng Indah

Kau sendiri tahu, kau telah lelah dengan kepura-puraan, topeng telah membuat wajah mu semakin pucat, rasa sakit telah kau letakkan dalam kerahasiaan sekian lama. Kau berlagak ringan menanggung napas, kau telah memaksa diri untuk tertawa ke hadapan cermin buram itu, tetapi tak perlu melupa bahwa kau memang manusia biasa, dalam kegelapan ini jangan malu dan menangislah, letakkan diri mu dalam kejujuran tentang diri mu sendiri apa adanya. 

Esok saat pagi datang, tetap siapkan topeng di atas meja mu, karena memang begitulah yang seharusnya, kau harus pergi dengan mengenakan topeng itu.

Tuesday, December 1, 2020

Angin Tuhan

Rahmatilah hidup ku dengan kelembutan Mu, sapalah aku dengan kesejukan Mu, naungilah aku dengan kepedulian Mu, temanilah aku dengan kesetiaan Mu, sayangilah aku, Engkau Tuhan, aku meminta kepada Mu.

Angin yang berhembus ini begitu lembut ku rasakan, menyentuh jiwa dengan penuh kesejukan, tak pernah aku meminta ia datang, tetapi kebaikannya selalu memberikan sapaan, seakan tak mau lepas dari kebersamaan, begitu sayang pada ku, tetapi aku masih menolak sadar.

Aku membelakangi angin itu, seakan semua itu kekosongan, tetapi tetap ia selalu berhembus, tak pernah malu untuk bersabar.

Kau adalah angin, dapatkah kau tunjukkan pada ku, dimana tempat istirahat mu, aku ingin memandangi mu saat kau terlelap, mendoakan diri ku sendiri agar selamat.

Sunday, November 29, 2020

Terbentur

Kekecewaan manusia terhadap dunia dan penghuninya, yang menyebabkan manusia kembali ingin mendekat kepada Tuhannya, tidak selalu dapat dikatakan sebagai pengalihan pandangan semata, bukan sekedar pelampiasan keberpalingan belaka, tetapi semua itu adalah pertunjukan yang sebenarnya, dari apa yang selama ini dipercaya, dari berhala-berhala yang lebih dicinta.

Saat muka-muka terkelupas, maka yang tertinggal adalah kebenarannya, dari rasa kengerian dan terbakar itulah, manusia mendapat petunjuk keselamatan.

Dimensi dari kekuatan sangatlah beragam, keindahan adalah kekuatan untuk menarik,
Keburukan adalah kekuatan untuk menolak,
Keharuman memiliki kekuatan agar bertahan,
Kebusukan memiliki kekuatan agar meninggalkan.

Kehidupan manusia tidak hanya dapat terganggu oleh keburukan dan kebusukan, tetapi juga dengan keindahan dan keharuman. Keseimbangan adalah bagaimana mengelola semua itu secara baik, agar roda hidup dapat sampai dengan selamat. Semoga hidup semakin damai, aamiin.

Kesabaran

Para bijak telah banyak tersakiti oleh manusia yang terliputi ketidak-tahuan, tetapi para bijak tetap mengedepankan harapan kebaikan bagi mereka di kemudian hari. Kesabaran adalah bukti dari pengetahuan mereka, sedangkan sumbu pendek terdapat pada genangan yang dangkal.

Saturday, November 28, 2020

Kasih

Banyak waktu telah kau habiskan, hanya untuk menentukan siapa yang salah dan pantas dilenyapkan. Satu hal yang dapat dipelajari dari kesombongan, karenanya adalah kehinaan. Tetapi kebencian dan dendam selalu membawa bibit penyakit pula, membutakan mata hati dan kesadaran, membusukkan kekeringan dari penderitaan, namun lihatlah pada pemilih cinta dan belas kasih itu!, mereka akan selalu menawarkan kedamaian, karena di atas tangga keadilan terdapat pemberian maaf, posisi yang lebih terhormat.

Hidup dalam arena benar salah tak akan mencapai penyelesaian, hidup dalam status menang dan kalah selalu menimbulkan kebanggaan dan kerendahan. Permusuhan yang tak ada hentinya, hanya akan menciptakan kemunduran, pengetahuan yang digunakan hanya untuk saling serang, menjadikan kemajuan itu tak bermakna, menimbulkan lebih banyak kecurigaan dan kesedihan.

Prinsip dan keyakinan hanyalah ranting dari sebuah pohon kebenaran, kasih sayang adalah akar yang menghidupi dan menegakkannya. Tak apa jika kau merelakan sebagian atau seluruh ranting itu terpotong, tetapi jika akar telah lapuk teracuni, maka kebenaran akan segera mati.
Manusia selalu melihat kebenaran dari matanya, melupakan apa yang tersembunyi di balik tanah. Tidak pernah sabar untuk berprasangka buruk, lemah menahan untuk kepentingan pribadi, penderitaan manusia yang sesungguhnya adalah hilangnya kasih sayang, karena itulah satu-satunya alasan murni kerelaan manusia untuk dapat melanjutkan hidup. Tak ada kehidupan, jika dalam diri manusia tak ada kasih sayang, kasih sayang lah yang mengikat semua makhluk, agar terus dapat bertahan dan berkembang. Keserakahanlah yang telah menguliti muka manusia, menampakkan kelicikan dengan terang benderang, mengharap dapat menutupi bumi dari cahaya matahari, dapatkah adalah kesia-siaan?.

Monday, November 23, 2020

Terimakasih

Terimakasih untuk bumi dan langit yang Kau atur, selama ini belum terlalu buruk aku rasakan. Bertahun-tahun aku masih hidup, memiliki harapan untuk kebahagiaan. Lebih jauh banyak waktu aku tertawa, dari pada menangis karena derita. Jatuh tak sampai membuat kakiku patah, terbanting tak sampai membuat kepalaku pecah, syukur ini aku haturkan dengan kesadaran, kebaikan ini memang tak mampu ku hitung, meskipun masih tersimpan banyak tuntutan, kepada Mu permintaan banyak terus akan ku sampaikan.

Aneka Soal Perut

Ketepatan dalam membahasakan sesuatu adalah salah satu wujud kecerdasan. Semakin banyak apa yang tersajikan maka kemungkinan kesalahan akan berbanding lurus. Apabila kesalahan
tersebut tidak terjadi, itulah ketelitian.

Sakit dan Rahmat

Mungkin, kesedihan itu salah satu cara Tuhan mengajari kamu sesuatu yang hanya dengan kesedihan itulah kamu dapat memahami, tidak dapat dengan cara lain. Gembiralah dengan kesedihan itu, karena kesedihan itulah rahmatnya.
ÙˆَاللَّÙ‡ُ ÙŠُØ­ِبُّ الصَّابِرِينَ

Segar

Apakah hendak kau mewartakan kata hati, tempat yang sesak penuh kobaran api, tetaplah menjadi kuat dan terkendali, seperti puisi "luka akan kau bawa berlari-lari".
Jangan kau beri celah pada tumpahnya emosi, kau harus lebih tegar dan percaya diri. Beberapa jalan telah kau lewatkan, banyak waktu sudah kau habiskan, apakah kejatuhan itu akhir pemberhentian?. Teruslah melangkah kaki, menuju apa yang kau cari, selama ini, hakiki.

Jatuh

Saat kamu berfikir "hitam" terhadap orang lain, mungkin saja kamu sendiri yang telah menghalangi penampakannya.
Bagaimana mungkin kamu mencari sesuatu
dengan cara membelakangi arah cahaya.
Naik sedikit sudah "nggeblak", turun sedikit malah "kejlungup".

Sunday, November 8, 2020

Putih Waktu Kecil

Terceritakan pada masa lalu, seorang anak kecil yang banyak takut dan menangis. Dia salah seorang anak yang diberikan Tuhan untuk belajar arti kesabaran dan keberanian dalam hidup sejak dini. 
Penulis akan menceritakan satu sisi kehidupan anak kecil itu, karena sudah pasti dari banyak sudut galian yang membangun karakternya, maka satu alasan tidak cukup memenuhi kelengkapan, namun sedikit ini semoga bermakna.

Selamat membaca, semoga ada kebaikan...

Pada sebuah dusun yang masyarakatnya masih cukup konservatif, tentu semakin banyak anggota berarti semakin kuat, maka sudah menjadi budaya jika penduduknya berperilaku mencari pendukung untuk menjaga eksistensi diri. Tidak terkecuali anak-anak dalam dusun tersebut, seperti pohon pisang memperanak tunas yang tak jauh jarak dan sifat dari induknya, mereka hidup dalam kelompok-kelompok untuk dapat terjaga dari gersang keterasingan. Tidak urusan pemimpinnya siapa, baik atau buruk tidaklah penting, tujuannya adalah untuk aman, dari pada terancam. Hidup menjadi budak pengusa, diyakininya lebih berharga dibanding merdeka berlawan para penganiaya.

Diantara keceriaan permainan tradisional saat itu, dia cukup dikenal menggemaskan, anak yang sering mengeluhkan sulitnya untuk belajar, jarang bicara tentang banyak usaha yang telah dilakukan, tetapi sepertinya "ketidak mampuan" terus melekat dalam anggapannya. Diperparah dengan sifat polos kekanakannya yang murni, mengikuti angin kemanapun pergi, telah membuatnya semakin mudah dipermainkan oleh "kelicikan kekanakan" kawan-kawannya. Dia dikenal "kurang", lemah, dan dapat dipermainkan. Anak yang menyedihkan itu sebut saja "putih", karena dia banyak bermimpi setinggi awan, memiliki dunia yang ia ciptakan dalam imaginasi.

Persahabatan telah dicobanya untuk mengobati kesendirian, dibinanya dengan baik hubungan itu. Namun pada suatu ketika, semua itu tidak berlangsung lama, sahabat-sahabat yang disenanginya itu seperti juga hendak menjaga gengsi, bersahabat dengan putih dipikirnya hanya akan menciptakan kerugian, putih adalah anak yang suka diganggu dan tidak mampu membela diri, lebih baik ikut kelompok yang mendholiminya dari pada terdholimi jika bersamanya, berakhirlah putih yang sebenarnya baik dan menyenangkan itu dijauhi sahabat-sahabatnya, mereka takut jika nasibnya sama dengan putih yang suka dijadikan bahan tawa. 

Tercerabutlah satu per satu teman-teman yang dianggapnya sudah cukup dekat dan dapat dipercaya, putih merasa kecewa, dia semakin merasa rendah diri, hidupnya seperti tiada yang mengharapkan. Dia tidak suka sekolah, bukan hanya karena ia merasa tidak pintar, tetapi juga karena kawan-kawannya yang suka memukuli kepalanya tanpa alasan. Diperlakukan dia layaknya barang yang tak punya perasaan, seperti tubuh kebal tanpa kesakitan, padahal dia banyak sedih dan lebam.

Hari berganti bulan kemudian tahun, lelah keadaan mengharuskannya mengambil keputusan, dia harus melawan, sudah tidak perlu ada lagi yang ditakuti, disadarinya hidup punya harga diri. Ditaklukkannya ketakutan yang selama ini membayangi, dia hendak merubah hidup, menghabisi segala sakit hati, yang ditunggunya adalah kesempatan, menanti pemantik untuk dia dapat membakar, membalas segala dendam yang menghantui, melepas segala sesak yang selama ini tertahan.

Suatu hari, didapatkannya kesempatan itu, hendak dijadikan gendang lagi kepalanya, seperti payung bertemu hujan, layaknya cahaya menelan gelap, berbaliklah anak kecil itu membalas, seperti kadal jadi buaya,  dijadikan musuhnya diam tak berani bersuara, inilah hari kemenangan baginya, semua kawan-kawan yang biasa mendholimi dan telah menghianatinya ditantangnya, semua hanya melongo tidak menyangka, mulai saat itu, tidak ada lagi yang berani menggangu, setiap kali ada yang hendak mengganggunya tak sadar karena kebiasaan dulu, ditatapkannya mata padanya, tak perlu kata terlontar sudah menyingkir, dia sudah berhasil melawan dan menang.

Kemenangan yang memuncak itu tidak membuat hidupnya lepas dari kesepian, masih belum ada sahabat yang dapat dirangkulnya, sendiri tak ada lawan maupun kawan, memang dunia tidak banyak menawarkan pilihan, dia merasa cukup melakukan sesuai dengan keadaan yang ada, semoga pada saatnya semua berubah lebih bahagia.

Hiduplah dia dengan pemikiran bebas, karena ia terbiasa berotonomi, sikap kemerdekaannya terlihat jelas dari gaya bahasa saat menanggapi persoalan.

Kalau diambil cermin dari kisah itu, maka bisa dikatakan beberapa hal yang tersirat, diantaranya:
Jangan mudah menghakimi anak kecil yang tidak pandai bergaul, karena mungkin saja pergaulan itu sendiri yang membuatnya seperti itu.
Dunia pendidikan itu untuk belajar, bukan untuk melabeli pintar. Pengawasan guru sangat diperlukan, untuk menjaga kesehatan mental muridnya.
Siapapun berhak tetap memiliki semangat , karena potensi positif ada pada masing-masing anak. Hanya saja sistem penyeragaman itu yang sebenarnya malah menimbulkan kesan pembeda-bedaan.

"Semuanya punya kebaikan", kata bijak seorang bocah lain yang penuh keyakinan berkata pada ku.

Wednesday, November 4, 2020

Tuah keikhlasan

Pada saatnya nanti, sepertinya sedikit yang mampu bertahan, lebih banyak yang akan menyerah, terjatuh lelah menggenggam prinsip, kemudahan langkah yang belum tersapa "sihir dunia" , hanya kehormatan palsu yang tak teruji.

Saat ini, boleh manusia tersenyum dengan keteguhannya, tetapi masa depan dapat diluar rencana, selama di sini tiada kata selesai, hidup selalu bergerak dan tiada yang tahu akhirnya.

Semakin hari, api itu bukan semakin redup, tetapi lebih berkobar, didorong angin agar menyebar, menyakiti dinding-dinding kesabaran.

Dengan apa lagi kepala dapat tegak, hati menunduk rendah terperosok kesombongan. Apa yang pernah terlontar, menumbuk balik kepala pelempar.

Sosok itu memang hebat, perkataannya seakan bertuah, menyerang dengan halus kepada yang tak percaya, merobek-robek mulut para pencela. Hingga pada saatnya,  kebijaksanaannya merombak hati pendengki, karmanya menusuk jiwa para pembenci, mengembalikan mata sadar para durjana.

Saat ini, tidak lagi, jangan lagi, menentang apa yang diucapkan, ketakutan juga berguna bagi keselamatan, cukup diam dan berperasaan baik, tidak berlebihan.

Sunday, November 1, 2020

Ukuran

Semua ini tidak untuk menjadi suatu ketegasan, apalagi sebuah keteguhan, sudut pandang dari berbagai sisi, sudah semestinya menghasilkan bayangan yang beraneka, maka jangan terlalu kau tinggikan, tidak perlu pula begitu direndahkan, ukurannya terletak dalam suatu kebijaksanaan, tidak melulu tentang "penghakiman", bukan dengan telapak kaki berada di atas bumi yang selalu berbeda, tetapi dalam waktu yang tak pernah juga sama. Menghargai dan selalu mengoreksi diri.

Dua

Kemajuan pengetahuan dan teknologi, seharusnya menambah penguatan iman, bukan hanya dalam arti "institusi formal", tetapi juga yang fitrah. Namun nyatanya bukan selalu begitu adanya, sajian tantangan kontra juga muncul, sesuai dengan kondisi yang ditawarkan.
Selagi ada terang, semacam membutuhkan gelap untuk meneguhkan arti cahaya. Mengapa mesti membuat keputusan ada dan tiada?.

Kesan zaman awal hingga detik ini, pencapaian olah panca indra dan akal selalu menumbuk dinding pembatas yang tak mampu dilewati.
Jejak sejarah yang diperlihatkan Tuhan untuk manusia saat ini, apalagi tentang warna pemujaan kepadaNya, seharusnya membuka mata dari pentingnya makna kemanusiaan. Kepercayaan yang bertumbuh, berkembang berdasarkan keadaan hidup, bermetamorfosis menuju bentuknya yang lebih sempurna. Kebenaran yang diusahakan murni dengan potensi kemanusiaan adalah sudah suatu cahaya, menumbuhkan kesegaran nurani dari sumber yang digali kemanusiaan itu sendiri.
Semua itu adalah cara Tuhan, untuk menyatakan kepada kita, Dia menghargai perjalanan manusia, menghormati segala bentuk pendekatan yang ditujukan untuk mencari jawaban. Tuhan menciptakan kemanusiaan, Tuhan memberikan kemerdekaan. Dia tidak hendak menciptakan tatanan hidup secara mekanis, tetapi membentuk kesadaran kebaikan hidup, bukan hanya dari hujan yang turun dari langit "seperti kata mu", tetapi juga dari mata air kemanusiaan. Bukan subtitusi, tetapi komplementer!.

Sunday, October 25, 2020

Post-truth

Post-truth adalah fenomena dikaburkannya publik dari fakta-fakta objektif. Itulah zaman kita hidup saat ini, dukungan alat untuk menyampaiakan segala hal tanpa dibatasi aturan, menciptakan tatanan baru kehidupan. 

Teknologi memang barang netral, tergantung pengguna yang memfungsikannya untuk tujuan apa. Masalahnya adalah siapakah yang menguasainya?, sehingga dapat merebut opini masyarakat yang pasif?. 
Kebudayaan literasi yang rendah dan akses referensi yang terbatasi kemampuan, semakin menggugah "pengisi media" itu untuk mempermainkan kebodohan publik.

Panggung yang semula terkesan hanya diisi oleh "pewaris otoriter" berbagai bidang kehidupan yang dimaksud untuk mewujudkan manusia seutuhnya, telah berhadapan dengan "makhluk sejenis" yang tidak selalu sama bawaannya dengan menempati kursi tanpa beda tinggi, yaitu teknologi.

Filter untuk mengolah ledakan informasi seperti upaya membangun benteng dari serangan hoax secara terus-menerus. Tebaran informasi berkemungkinan hoax harus dapat diletakkan pada folder diri yang tepat, jika tidak, dikhawatirkan mengganggu akal sehat sehingga merusak diri sendiri dan mengacaukan masyarakat.

Sebagai manusia yang tak mengerti banyak tentang kompleksitas dunia, bahkan dalam lingkup yang lebih sempit, kita harus memposisikan diri lebih berhati-hati, tidak tertawan oleh arus yang dihidangkan dari berbagai media.
Tetapi satu hal, saat ini, dunia seperti ingin menampilkan dirinya yang berisi berbagai macam wajah, mudah-mudahan tetap waras menghadapi kekuatannya.
Hahahahaha

Tujuan yang keliru

Ketidak-sukaan mu pada "kengawuran ku" telah menjadi rindu untuk terus memupuk kebencian dalam jiwa mu.
Segala kesakitan itu muncul karena tanggapan mu sendiri yang seolah semua ini tentang mu.
Aku katakan "padahal bukan!".

Mereka merasakan, sehingga mengetahui.
Sebagian lainnya berusaha mencari secara filosofis, hasilnya?.

Mempelajari berarti menjadikan-Nya sebagai objek.
Mendekati-Nya berarti memposisikannya sebagai apa adanya yaitu subjek.

Belajar tentang-Nya bukan untuk mengetahui bagaimana, tetapi agar kita dapat dipeluknya, lalu semestinya dari kita itu bagaimana?.

Saturday, October 24, 2020

Tingkat

*Sebuah tuduhan*

Cahaya yang menampakkan segala ini adalah tanda, menundukkan manusia yang pandai "berkaca". Tetapi ironi, mereka yang mengaku telah menelisik lebih teliti dari berbagai sisi, malah berkeyakinan bahwa pengakuan terhadap "kepastian" adalah tanda kepengecutan.

Dua sisi yang seakan saling memelototkan mata, telah merayakan kembali dialog yang selama ini tandus dan beku, terlelap dikurung ketakutan dan kebodohan.

Memang kekuatan kata tak dapat dipungkiri, dari "kata" itulah segala tercipta, bahasa tetap berwujud meskipun dalam diam, sebelum sebuah kata tertulis dan terucap, dia bagaikan aliran roh yang berkesadaran penuh.

Pembahasan tentang mereka yang berdalih atas nama "Tuhan", adalah karena tak berkeinginan lain sebagai alasan. Keamanan lebih memenuhi keinginan dari pada penerimaan terhadap kesalahan. Lebih mudah menyalahkan dibanding berbuat pengakuan.

Kerinduan pada "Yang Mutlak", mencerminkan balitanya jiwa yang menolak realitas dunia, kepastian adalah senjata manusia untuk mendapat kemenangan dan menerima kekalahan secara kerdil.

Kebebasan adalah kata yang sangat ditakuti oleh kalangan manusia yang berjiwa budak. Mereka tak memiliki keberanian untuk bertarung dengan ketidak-pastian. Mereka menghindari  angin yang dihembuskan bumi, khawatir lebih sejuk dibanding kipas angin murahan yang ia peroleh dari ucapan sosok figuran.

Naif juga, saat dunia "kadung" terisi ratusan jenih tumbuhan, pembicaraan hanya terbatas tentang mawar dan rumput. Maka bijaksana mereka yang berkata, "kebebasan hanya dapat diterima oleh nampan kelembutan". Saat egoisme berkedok "Yang Mutlak" berada dalam ucapan, saat itu pula ronta kebenaran terus berlangsung dalam dialektika kelucuan manusia, dinamika yang terjadi bahkan dalam sekala detik, bermain-main dalam bentuk "potensi" di setiap arus percabangan sungai.

Pertobatan sejati adalah saat jiwa mengakui adanya tangga lain yang ternyata baru saja dinaiki, setiap kenaikan satu derajat adalah peningkatan pengakuan kelemahan diri, berapa kali bertobat dalam satu hari?.

Bersambung...

Pemangsa

Sejarah mengajari kita untuk mempelajari kemungkinan alasan sebuah kejadian, tidak harus tegas, bukan selalu jawaban pilihan ganda, tetapi mendorong kerendah-hatian melalui metodologi penelusuran yang baik.

Keadaan sosial manusia, terkadang mencoba menggali kedalaman motif pemeran, melalui biji-biji rantai yang berserak, tidak harus jelas untuk mengetahui mana awal mana akhir, penentuan yang hitam atau putih, tetapi bagaimana lingkaran probabilitas penyatuan rantai itu dapat menggerakkan kehidupan dengan lebih bijaksana.

Sejarah akan terus menjadi catatan, untuk menimbang masa depan, bukan sebagai dasar penentu, tetapi sebagai bahan ter-adu.

Seperti keinginan mu diperlakukan, jika kamu ingin disayangi, maka kamu tidak suka ada orang yang dibenci.
Jika kamu ingin kenyang, engkau tidak suka ada orang lain lapar.
Jika kamu ingin bahagia, maka kamu pun akan mengusahakan orang lain juga bahagia.

Tetapi beberapa kepentingan manusia dalam sejarah terkadang telah menjadikan bertolak belakang dengan refleksi dirinya sendiri, mereka mengejar sejahtera dengan merugikan orang lain, mereka ingin pandai dengan memperdayai orang awam, mereka ingin menikmati surga dengan memasukkan yang lain ke neraka. 

Cermin-cermin monyet yang kelaparan materi, intelektual, emosi, dan spiritual.
Binatang buas yang bercita-cita menguasai dunia dan akhirat, cakar harta, kulit keturunan, tanduk kepandaian, dan taring "iman" membuat jebakan untuk menjatuhkan yang tidak sesuai dengan kepentingan. Omnivora pemuja gagasan pribadi eksklusif!.

Friday, October 23, 2020

Sore tadi

Aku tak pernah hendak memangkas kebebasan sebuah pohon, tetapi jalanan memang begitu sempit, pikulan ku tak cukup ringan melewatinya.
Kepada napas yang telah ku hembuskan, ku larang kau berlari sembarangan, kau punya janji yang harus diingat, kau adalah saksi atas debu yang menyelimuti dedauan, tempat yang dibawahnya aku berlindung, dari hujan sore tadi.

Istirahat malam

Ada yang tak ku sadari, ada pula yang tak kau mengerti. Kau membicarakan orang lain, dengan cermin keadaan pribadi mu sendiri. Bukankah itu bodoh dan tidak adil?.
Api yang menyala tak pantas mencerca air yang tergenang. Api merambat dengan angin dan air mengalir dengan perbedaan ketinggian tempat. Segala sesuatu memiliki alasan berdasarkan keadaan dirinya masing-masing.

Penghinaan mu pada kegagalan seseorang, bukanlah penyimpulan dari seluruh hidupnya, ratusan dimensi yang menyusun kehidupan, beberapa mungkin dalam gelap, tetapi sisi lainnya dalam terang.

Cahaya lilin memang tak mampu menerangi luas pandangan mu, tetapi ia mampu mengistirahatkan buas pencarian mu yang berkecambuk resah. Ada saatnya, jiwa yang kelelahan memburu, membutuhkan malam yang lembut, gelap yang menutup cahaya, sumber henti kerja indra.

Selamat malam.

Thursday, October 22, 2020

Mati santai

Pandangan mu pada langit hitam yang berbintang dan berbulan, telah mengetuk hati mu yang selama ini keras bagai karang yang meskipun berada dalam lautan.
Apakah cinta mu pada kedamaian, terkalahkan oleh sifat kehewanan.

Ku lihat seeokor anak ayam mati kaku dalam keadaan duduk tenang. Seakan kematian membuatnya bagai pahatan yang terposisikan. Seperti tiada apapun yang terjadi, hal biasa bahwa subuh akan disusul pagi.

Bertumbuh

Seperti perut yang tak pernah kau tahu isinya, nasi dan udara sama-sama dapat membuatnya mengembang. Persis seperti pikiran mu itu, sulut kekenyangan dan kepulasan mungkin telah membakar otak mu, gas itu memang seperti tahanan yang berontak, tetapi demi menghargai manusia dan menghindari rasa malu, kau berhasil menahannya, kau tidak banyak menceritakan tentang sampai kapan kau akan kuat, kau hanya terus diam dalam ketangguhan, hingga pada situasi yang tepat, kau akan merasa sungguh bersyukur, kau melepas segala keterikatan, dan kau semakin indah, tersenyum, dan tertawa. Hahaahahaha

Lihat dari

Duhai burung kecil, bagaimana kabar mu, apakah Tuhan telah menjumpai mu?.
Atau apakah kau masih seperti dulu, berjuang?, untuk hal yang sama?. 

Saat kehidupan adalah takdir yang harus dilanjutkan dan diselesaikan oleh mu, manusia malah sebaliknya, bersikut-sikutan merealisasikan kepentingannya masing-masing. Apakah itu kekayaan, keindahan, percintaan. pengetahuan, kehormatan dan lainnya.
Apakah karena sudah terlalu sadar atau hanya bertambah  banyak lupa?.

Duhai burung kecil, keindahan dan perjuangan mu terkadang mengisi hati saat gundah. Kau adalah Guru yang tak pernah berkata. Darah yang mengalir dan tulang-tulang mu yang patah, adalah pahatan yang tergores dalam, untuk memantik nyala hidup ku kembali.

Apakah sampai saat ini kau sendiri?, seperti dulu ku lihat sendiri. Lincah dan indah mu saat berjalan, tak ku sadari adalah karena engkau tak mampu lagi terbang.
Andai engkau meminta kepada ku, tetapi kau adalah lebih dari sekedar segenggam kepalan tangan. Keperkasaan dan ketegaran mu telah menipu penduduk dunia. Nyanyian mu yang merdu adalah simbol kedamaian, tanpa manusia tahu apa yang kau simpan di balik sayap mu, bahkan suara mu.

Tiada air mata saat ku lihat dari mata mu, meski peluru dari senapan pemburu telah menembus tubuh mu.
Tiada teriakan dari paruh mu, meski kau kesakitan dan tak lagi bisa terbang. Ohhh burung kecil, manakah keluarga mu?, manakah sahabat mu?.
Apakah mereka semua lari tak ingin mati menemani.
Tak ingin bersama sunyi dalam kesetiaan yang membosankan.
Atau apakah disetiap diri dari kalian punya iman, bahwa Pencipta adalah sandaran dalam pertolongan dan kasih sayang, kalian menyerahkan semua kepada yang segala urusan berakhir kepadanya.
Apakah itu yang engkau dan mereka percaya?.

Ohhh burung kecil, semoga Tuhan semakin merahmati mu.

Terkadang aku berfikir, apakah tekanan-tekanan yang membuat hidup manusia penuh pertengkaran?, apakah akar yang menumbuhkan kebencian dan menjatuhkan kesedihan?. Apakah seekor burung juga akan mematikan burung lainnya? Seperti manusia?. Hahahahaha

Ohh betapa burung kecil itu membuat ku tahu diri, manusia memperlakukan hewan seakan makhluk rendahan, seakan benda mati yang tak tahu kesakitan.

Dua anak kucing dari induk yang berbeda pada awal waktu adalah sebagai musuh, tetapi atap yang sama telah membuat mereka berdua saling mengerti, kasih sayang tumbuh di antara mereka, saudara yang dipersatukan takdir, setidaknya rasa kasihan saat salah satunya terjatuh.

Dengan cara apa aku ini melebihkan diri dari sisi burung kecil dan kedua kucing itu, ah waktunya istirahat dari mengaca di atas ember air bekas cucian tangan, kenyang.

Sudut

Inilah aku dan itulah mereka.

Mari kita semua membuka hati, meletakkan bongkahan yang tersembunyi, ke hadapan Sang Ilahi.

Apakah pantas seorang diri, kepada Hakim Tertinggi untuk mengadili, setiap hamba  semuanya yang dikasihi.

Siapakah yang berani, meminta semua kejujuran, apa yang dibisikkan hati, semua lepas terperdengarkan.

Apakah yang diinginkan dari segala hubungan, jika kesadaran tentang kefanaan telah tertancap dalam. Apakah yang masih ingin diperjuangkan, jika yang dituju berada dalam teka-teki yang malam.

Teriakan mu pada hunusan pedang, nyaring mengusik kedamaian binatang. Persaudaraan dan permusuhan di bumi, bagai bunga dan rumput yang sama-sama subur.

Apakah perbedaan antara bunga dan rumput, bunga memberi mu rasa keindahan dan kehormatan, tetapi rumput seakan tak berguna bagi mu, kau cabik-cabik, "bras bres bras bres", sambil mengeluh kau lemparkan pada ternak mu, kau lupa, dari rumput itulah ternak mu makan, kau berdagang, kau dapat makan dan menyisihkan uang. 

Dari rumput kau dapat membeli bunga, dari bunga pula kau dapat memperoleh rumput.

Lalu kau masih berpura-pura bodoh, tetap saja kau tak ingin kalah dihadapan buih yang akan lenyap.

Saturday, October 10, 2020

Tidak suka

Jangan kau merasa iri dengki pada mereka yang kau lihat seakan bahagia, banyak tertawa, seakan hidup mudah dan menyenangkan. Bersyukurlah, karena mungkin saja engkau tidak lebih suka kalau mereka menampakkan kejujuran kepedihannya, kenyataannya mungkin saja mereka lebih banyak menangis dari pada diri mu, hanya saja yang kau lihat adalah penampakan luarnya, bukan hatinya, bahagia itu di sini, bukan di sana.

Nurani

Seharusnya engkau malu, bukan menghina pada mereka yang sedang sedih dan menderita. Sepatutnya engkau merendahkan suara kegembiraan, tetapi engkau malah tertawa, menari, dan berpesta.
Engkau buta atau memang karena sangat bodoh, engkau tuli atau karena tak punya hati.
Seekor kucing akan belajar menghargai sahabatnya, saat ada tangis dia bergegas hendak menolongnya.
Tetapi engkau!, seenaknya saja melempar batu ke belakang kepala manusia.
Aku punya belas kasih, tetapi aku punya keberanian, aku tak pernah takut berhadapan dengan manusia.

Wednesday, October 7, 2020

Hidangan

Seperti cara mu dalam penasaran dan kecurigaan, tetapi aku hanya melihat, mendengar, dan tersenyum.
Hitam yang bagi mu kegelapan, adalah suci yang sengaja aku bingkai, agar segala yang datang adalah dengan kemurnian. Putih yang bagi mu kesyukuran, adalah nampan untuk menerima kebaikan mu sendiri, yang akan aku hidangkan, untuk menambah senyuman mu.

Kerja

Kata kerja operasional mungkin saja telah menggembosi kebermaknaan pendidikan hidup yang sesungguhnya. Bahwa kebenaran hidup tidak dapat diukur melalui instrumen tertentu, tetapi melalui gejala-gejala yang bersifat lebih abstrak, namun apa daya, kehidupan berlomba-lomba mengisi kolom penilaian yang berupa huruf dan angka.

Membaca

Susunan tulisan itu tidak mampu menyajikan kebenaran ekspresif, saat cerita sedih tergores, kertas akan tetap kering, saat membahas tentang cahaya, tinta akan tetap hitam, isinya hanya menguji pengolahan fikiran dan hati, penelusuran berbagai sudut pandang pemaknaan, pengayaan imaginasi, dan penerimaan subjektif pun akan memupuk perbedaan, karena itulah tidak ada yang benar-benar tahu tujuan kecuali pengarangnya sendiri.

Seperti tujuan hidup manusia yang "diberi tahu Tuhan" saja, manusia akan mengerti. Selama Dia diam, seribu dugaan manusia tak bisa memenuhi keyakinan.

Menulis adalah satu dari beberapa ruang sunyi ku, tentu memang tidak sesuai dengan unsur-unsur formalnya, semua ini hanya apa yang ku sebut  "versi ku", "kemerdekaan ku".

Untuk apa mengikuti jalan raya, saat melalui jalan setapak tetap sampai pada tujuan. Mengikuti ramai kesamaan mulut manusia, terkadang malah mati terinjak kerumunannya.

Tulisan tak akan mampu mengatur kehidupan manusia seluruhnya.
Tetapi akal dan hati akan terus berperan, menimbang segala catatan dan membijaksanai keputusan.

Bukan watak budak yang selalu mengacu kata ini dan itu. Setiap orang berhak berpedoman pada kebenaran pribadinya masing-masing, jika itu baik semoga angin menebarkan kedamaiannya, jika itu kebusukan, biarlah keberanian setiap makhluk terlepas dari pelabuhannya.

Tuesday, October 6, 2020

Ayam vs Manusia

Seeokor ayam yang anaknya kamu ganggu, tak peduli bahwa kamu manusia, dia akan tetap melawan mu, meskipun sebenar dia tidak berdaya. 

Tetapi saat kamu tidak beruntung, mata mu bisa buta "tercucuk" paruhnya. Hahahahaha

Semua makhluk pemberani, setidaknya saat disakiti.

Jaga

Segala jenis tawa dan tangis yang bercita rasa beda itu, mungkin saja adalah kepingan puzzle yang turun dari langit, agar kita susun formulasinya dengan sabar, untuk membentuk tangga bermakna ke arah kebenaran. Mungkin saja pelangi itu adalah peringatan, jangan sampai terlekat pada kefanaan, agar tidak tertipu mata, oleh rayuan fatamorgana, sehingga kita hanya semakin lelah, mengejar sesuatu yang ternyata telah punah.

Sunday, October 4, 2020

Motto

Kalau masih diniati belajar, sepertinya akan lebih teringankan.
Kalau masih berkeyakinan belum waktunya, sepertinya akan tambah sabar.

Untuk besok, berarti nanti.
*Sadar benar sabar*

Saturday, October 3, 2020

sesaku

Air bersih yang terjaga itu, telah beberapa hari disimpan manusia, tetapi air sungai yang kotor itu tertawa dan berkata "Aku memang tak diinginkan, tetapi aku tidak akan berakhir menjadi urin!." hahahahaha.
Biarlah sesuatu itu kau sebut dengan apapun, tetapi bagi ku, aku tetaplah aku!.
Keras sudah rasa hati mengetahui kelembutan terpanggang matahari.
Aku sudah berserah, jika hari esok semakin berani, aku akan seperti sekarang, tidak ada yang bisa aku lakukan, menerima, begitu saja, dirasa, titik.

Mencari payung untuk menutup segala ruang dari kobaran hujan, seperti hujan itu sendiri yang tak pernah aku tahu, untuk apa aku melakukan semua itu, memang tidak ada kata sia-sia, aku hanya mencoba bercanda, hahahaha.

Jika belum sampai, masih ada nyawa di saku badan, berhati-hatilah, semoga selamat, engkau bahagia!.

Burung kecil yang cantik

Aku ingin bercerita, tentang burung kecil yang terluka.

Dahulu, saat pagi menebarkan kesegaran, aku begitu bersemangat menyambut sapaannya, bukan seperti sekarang, membuka mata adalah melihat tanya, apa yang harus dilakukan. Kosong!, hahahaha.

Dahulu, aku suka rindu melihat tanaman disana, meski semua itu bukan milik ku, tetapi aku jatuh cinta pada cantik hijaunya. Sebelum kewibawaan matahari memuncak saat berjalan naik ke ujung kepala, langkah ku begitu ringan beriring senyuman, meski bukan milik ku, aku suka melihat pemiliknya bahagia.

Tak sengaja, aku melihat burung kecil cantik, berjalan entah mencari apa, tidak seperti biasanya. Aku fikir itu adalah keberuntungan ku, aku akan menangkapnya, tetapi tanpa bertanya untuk apa.

Singkat cerita, aku telah menangkapnya, bahagia sekali, tanpa sadar seakan aku adalah hewan buas yang berhasil menerkam mangsanya, tetapi tanpa berniat sok hewani, aku tak pernah bercita-cita memiliki seekor burung, aku tidak suka sangkar. Burung kecil itu masih ada digenggaman, berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari genggaman ku, tentu perbuatannya sia-sia, burung kecil itu tetap tak berdaya.

Ku tatap matanya, mencoba melihat ekspresinya, tetap saja, tiada air mata, tiada tanda sedih, tiada tanda takut, hanya tekanan meronta hendak lepas.

Beberapa saat kemudian, ada yang terasa hangat menyentuh kulit ku, ku kira dia baru saja mengotori ku, ku pindahkan dia dari kanan ke kiri, ternyata darah!, kehangatan itu dari darah. Ku balik tubuhnya, ternyata, ku lihat patah tulang sayapnya, tatanan tulang yang tak tersambung, terlihat banyak darah dibalik sayap cantik yang ku genggam erat itu!.

Ternyata tetap saja manusia seperti ku, yang mengaku memiliki rasa kasih di hatinya, tak mau mengantarkan burung kecil itu ke dokter, saat itu aku merasa, ternyata hanya sebatas ini kepedulian ku terhadap sesama, aku berbuat pilih kasih terhadap sesama makhluk.

Aku tak mau berfikir berlebihan, atau karena aku tak punya kepedulian. Tetapi tetap saja, ada rasa ingin menyembuhkan yang tak bertemu kenyataan.

Aku lelah mendengar semua itu, "Kamu buruk!, atau kamu benar-benar tak mampu!"
Aku tak tahu, aku melepasnya, hanya membaca doa dan sholawat, agar dia tidak merasa sakit lagi, dapat terbang tinggi, meramaikan langit, menyadarkan kelemahan manusia dan kebesaran Tuhannya.

Biji

Jika kamu sayang, kamu akan menanam. Jika kamu hanya ingin memetik, berarti kamu lapar.

Wednesday, September 30, 2020

Terimakasih

Terimakasih, memang seharusnya kepala ku ini perlu kau bongkar, agar aku tahu hingga sadar, didalamnya hanya sekumpulan jaringan otak yang tak laku dijual.
Mohon setelah itu kau susun lagi bentuk kepala ku, bagaimanapun semua itu lucu, aku ada sayang terhadap diri ku.

Diperjalanan

"Berbajulah yang rapi, cerahkan wajah mu, agar wanita tertarik pada mu!." Nasehat seorang Tua yang melihat ku biasa-biasa saja, mungkin dia melihat ku apa adanya dan diri ku sendiri melihat semua ini sudah cukup untuk menghargai sesama. 
Apakah aku perlu mendengarkan mereka, aku sudah berusaha berpakaian selayaknya. Tersenyum semenyenangkannya, semampu ku, tetapi jika semua itu tidak berhasil aku lakukan, aku terima tuduhan, biarlah kelemahan ku ini menjadi inilah aku.

Dunia manusia ini memang sangat lucu, andai aku tak pernah khawatir ada orang yang tersakiti oleh sikap ku, aku pasti hanya akan tertawa melihat semuanya, semua indah. Hahahaha.

Apabila waktu kedepan memberiku cahaya yang membinarkan mata ku, kerinduan tuntas saat bertemu Sang Raja, ku rasa semua akan lepas dalam kemerdekaan.

Aku ingin, tetapi tidak penting, aku berharap, tapi tidak membutuhkan.

Aku tak mau hidup ku tersiksa, oleh cita-cita tak berguna, oleh pandangan manusia. Aku tak mau terpenjara, oleh tanggung jawab pilihan hidup, tuntutan yang dianggap berpahala, tidak menjalani takdir, hanya penjagaan kehormatan diri, omong kosong, tiada yang benar-benar mengerti, menyerahkan semua bisik pada yang Maha Mendengar.

Betapa rindunya aku, aku rindu, tetapi aku harus hidup, sampai Dia sendiri menjemput. Kau pasti melihat, tetapi doa ku semoga engkau melihat, betapa aku takut, seandainya ternyata engkau tak menolehkan wajah mu pada Ku, pada akhirnya aku harus kembali mencela diri ku sendiri, tetapi sampai saat ini aku hidup, menanggung janji untuk setia melangkah, hati yang bersujud dan terkadang berontak melangkah pada Mu, Tuhan.

Tuesday, September 29, 2020

Bantulah

Dengan cara apa aku dapat menjumpai Mu, saat kedekatan ini tiada batas, saat bahkan Kau yang menciptakan diri ku sendiri Tuhan.
Selama ini kau diam dengan rencana Mu, atau membiarkan ku berjalan tanpa keyakinan?. Keputusan yang dihadapkan dipersimpangan, manusia tak berpengalanan ini haruskah berserah, itukah maksud Kau membiarkan?. Agar aku tak menyalahkan siapapun kecuali diri ku sendiri, agar aku tak takut dengan kesalahan, agar aku berani dengan kesakitan.
Sekarang aku ingin Kau melihat ku, membantu ku agar semua berjalan damai. Maaf, aku telah takut, tetapi Kau tahu bahwa semua ini juga bukan tentang ku saja Tuhan.

Karena Bukan

Dengan cara apa aku dapat menjumpai Mu, saat kedekatan ini tiada batas, saat bahkan Kau yang menciptakan diri ku sendiri Tuhan.
Selama ini kau diam dengan rencana Mu, atau membiarkan ku berjalan tanpa keyakinan?. Keputusan yang dihadapkan dipersimpangan, manusia tak berpengalanan ini haruskan berserah, itukah maksud Kau membiarkan?. Agar aku tak menyalahkan siapapun kecuali diri ku sendiri, agar aku tak takut dengan kesalahan, agar aku berani dengan kesakitan.
Sekarang aku ingin Kau melihat ku, membantu ku agar semua berjalan damai. Maaf, aku telah takut, tetapi Kau tahu bahwa semua ini juga bukan tentang ku saja Tuhan.

Monday, September 28, 2020

Meminta Cinta atau Cinta Meminta

Entah kata apa yang tepat, "rindu" tentu terhadap sesuatu yang telah dikenal, tetapi kepada yang memberikan segalanya ini, "terimakasih" apakah itu kata yang pantas?.
Dia yang tersembunyi atau yang terlalu nyata, seperti mata yang tak mampu melihat dirinya sendiri, cermin yang tak sanggup memuat semesta, jiwa yang mengaku hanya mampu menerima tanda-tanda, tetapi karena tak terjangkau, semuanya juga terasa tidak terbatas.

Siapakah yang Tuan, pelayan yang hanya meminta-minta kepada majikan, harus menerima kesadaran, kesakitan terkadang memang harus diobati dengan kepahitan.
Siapakah yang dicinta, siapakah yang cinta, cinta menutup cela, benci menutup mata, tetapi kepada siapakah semestinya?.

Kepada Tuhan yang tak mampu kau peluk tetapi memberikan mu pada suatu saat nanti pelukan dari utusannya, atau dari ciptaannya kau berikan seluruh hati mu dan hanya menyisakan rasa "terimakasih" saja tanpa cinta lebih hebat pada pemberi itu?.


Berbicara tentang proporsional kelekatan hati, dari sisi penghayatan memang dari Tuhan, selayaknya Tuhan adalah nomer satu, karena Dialah sumber utamanya, tetapi pada realitasnya, yang bisa kita sadari adalah keberadaan manusia, sehingga kita melayani manusia yang kita cinta, manusia menjadi Tuhan, sedangkan dibalik itu Tuhan menjadi pelayan, yang hanya dimintai tanpa dicintai.

"kasihan sekali nasib mu Tuhan", guyonan manusia lucu ini, hahahahaha.

Ya Tuhan, semua ini ciptaan mu, jika Kau membenci, untuk apa Kau menciptakannya, karena itu, aku yakin Kau mengasihi semuanya, jika kasih mu pada semuanya. Mengapa cinta ku hanya sekedarnya saja, memandang kehidupan diluar sebagai suatu ancaman, aku malu.

Tuhan kita sama, semua diri kita dari Tuhan, Tuhan sayang kita semua, maka jangan mengatas-namakan Tuhan kita bersama untuk berlaku sewenang-wenang, kita semua saudara yang dapat saling mengerti, seharusnya kita semua saling mengasihi.

Ada Pencipta

Aku ingin menulis tentang ini, agar aku dan semua ingat, ada Tuhan sebagai sandaran harapan.

Hidup itu bukan tentang kamu nomer 1 atau 100, bukan tentang mendapat 100 atau 1, tetapi lebih pada penerimaan diri, yaitu sekarang kamu ada dan hidup, menjalaninya dengan apa adanya, berusaha baik, tidak mengganggu hidup makhluk yang lain, itu semua sudah cukup.

Tentang kamu banyak salah dan berbuat aniaya, jika harus menerima pembalasan dan peradilan Tuhan, mengapa tidak jika semua itu untuk permaafan?.
Bukankah dari jahatnya diri mu, tersimpan kelembutan yang masih bertirai, kerinduan mu untuk menyatakannya, terhalang waktu yang masih malam. Perhatikanlah ucapan ku, "kamu itu orang baik, karena keburukan yang kamu perbuat kau pandang sebagai gelap dan telah membuat hati mu sendiri juga sakit."

Perkara bahwa kamu begini dan begitu, ingin diakui ini dan itu, lagi pula tidak semua dapat kamu lakukan sendiri, tidak semua dapat kamu capai, ini bukan tentang putus asa, tetapi melihat kebelakang ada realita, bukan dari orang lain, tetapi dari diri mu sendiri.

bagaimanapun hebatnya diri mu, terbang dengan pesawat melintasi angkasa, kamu tetap perlu nasi dari padi yang ditanam petani di tanah. Saat kamu mati, penggali kubur yang menyiapkan tempat pembaringan mu, meskipun saat lahir kamu dibantu dokter profesional.

Tetapi manusia banyak takut dan khawatir, besok belum tentu hidup, tetapi berpandangan jauh seakan pasti akan melewatinya.

Kekhawatiran dan ketakutan yang dibisikkan masa depan dan pengaruh orang lain, membuat langkah mu terbatas, keyakinan menjadi ragu, mungkin itu memang pembelajaran, tetapi labih mungkin karena kamu mengidap kepengecutan.

Kamu telah banyak melihat diri mu sendiri, ke hadapan cermin kamu lihat, kamu sendiri sosok yang kamu benci atau sayangi?.
Terhadap diri sendiri kamu terlalu banyak membanding-bandingkan, saat orang lain berbuat sama kamu cela perbuatannya. Sudahlah, kamu sudah indah, jika bukan dari perkataan mu sendiri, dengarkan bahwa aku telah mengucapkan itu, "memang indah."

Sekarang yakinlah, bahwa hidup setiap manusia yang berbeda, bukan sebagai ukuran hina mulia, kemuliaan batu tersimpan di dalam tembok rumah mu, kemuliaan mutiara terletak dari nilai tukarnya. Sungai untuk menghidupi tanaman mu, ice cream untuk memperminkan lidah mu.

Tidak ada hitam dan juga putih, semua itu warna, agar kita mengenali fungsinya, menghargai semua, memuji penciptanya.

Sajian guyonan Tuhan

Perjalanan ini adalah aliran sungai, aku bukan ke arah tujuan, tetapi mengekor lempengan bumi. Harapan adalah tidak bertemu batas, berhenti sendiri tak mengenal siapapun, tetapi aku tidak takut, selama tidak ada yang bersama ku.
Cinta itu mengajarkan pengorbanan, dalam hati sebagai sifat, tetapi banyak yang tak mampu mencintai walaupun cinta telah menenggelamkan, karena rasa tak pernah sama dengan ucapan apalagi tindakan, biarlah bahasa yang tak tersentuh itu mengisi atau menguap, menjadi bagian dari sajian alam.
Biarlah rasa itu menyentuh tubuh pepohonan, agar mereka terus menari walau berpeluk angin.
Hanya dengan menulis, pendek kalimat tersusun, aku tak mau semua tiada arti, aku tak pernah takut, ku lanjutkan perjalanan hidup.

Sunday, September 27, 2020

Nalar permainan prasangka

Manusia tangguh, terkadang bukan dari ukuran waktu, tetapi dari masalah yang telah terlalui. Kesedihan atau kegembiraan, warna-warni itu menyatu membuka mata lebih lebar, meskipun bukan dengan penyelesaian, rasa berserah pun akan membawa pada kehidupan yang lebih bermakna.
Jauh ku dengar dari arah kanan, mereka terkekeh-kekeh mendengar kata itu, mereka menganggap tiada arti dari semua ini, hidup hanyalah persoalan harapan dan ketakutan, untuk apa mengejar kesimpulan, perjalanan ini tiada ujung, berhenti bukanlah tentang sampai, hanya titik dari peristirahatan untuk bermetamorfosis ulang, memang tidak ada kata berpuas.
Setelah itu terdengar bisik-bisik dari arah kiri, sosok itu tersenyum tajam, katanya " Aku heran pada mereka, akulah yang telah berhenti, dari ujung sana aku turun, aku telah berada pada ujung, berurusan dengan makhluk baru yang berada jauh dari telapak kaki ku, puncak pengetahuan telah aku raih, tetapi aku tidak mampu melepas kelekatan, aku tahu sosok kuasa, tetapi aku tidak mengetahui kasih-sayangnya, hanya dengan aku tak mau bersujud karena aku merasa dicinta, tetapi aku malah terusir dari pandangannya, apakah aku tidak tahu Dia Penyayang?, kemudian mereka mengutuk ku, mereka tak sadar tentang siapa aku, mengapa mereka tidak berfikir tentang pengujian nalar, aku telah menyelam langit, tetapi mereka hanya menyusun rupa untuk lubang dari dalamnya kebodohan, siapa yang berkata aku adalah api, mereka adalah matahari.

Sunday, September 20, 2020

Tambah Bahagia

Siapapun yang membaca, semoga kalian bahagia.
Aamiin, 
yang menulis juga, tambah bahagia.. Hahaha

Tidur Dulu

Karangan kata, bukan karangan bunga, adalah sandiwara, bukan yang nyata.
Nyala dari jiwa yang terbangun, bukan dari api yang membakar. Selamat malam manusia, semoga tedur nyenyak, esok semua bisa terhindar dari hal-hal buruk, melakukan hal yang berguna dan berbahagia.
Aamiin

Kemuliaan

Jebakan yang tak pernah aku duga adalah waktu, dia membuat jerat diujung perjalanan ku, lubang penuh batu agar aku bisu, agar suara ku bahkan tak terdengar oleh hati ku sendiri, supaya aku sendiri yang bersalah, sehingga dia bebas dari peradilan alam, bahkan dari penyaksian Tuhan.
Kehinaan dan kemuliaan, akan membawa mu mengerti, jarak antara gelap dan terang hanyalah sekedipan mata, setipis kedekatan antara udara dengan napas mu, inilah dunia. Maka jangan ganggu aku dengan senyuman, karena aku telah melihat neraka bertopeng kelembutan, tidak perlu pula kau menjaga ku dari keganasan singa, karena aku telah mati meskipun tetap bernyawa.

Wednesday, September 16, 2020

Teriakan sebarang pohon

Tepat di pojok rumah saudara itu, aku begitu asyik mendengarkan, dari ujung ke ujung begitu mengalir, mengisi ruang dengan kegembiraan. Tak lupa seperti biasa, berkata satu dua kata, hanya sekedar menambahi, tak pernah memulai. Aku terheran-heran, betapa hebat mereka menyusun suasana, bukan seperti manusia goa, takut cahaya, selalu bersembunyi dibalik malam, berkata sekeras pohon yang hendah dipotong dahannya.

Raja

Sastra, tak pernah ku selami maknanya, seperti seorang gadis menawan, tak pernah ku belajar untuk memuji kuasanya. 
Berhenti atau bergerak, setetes air seperti ku hanya akan meresap, terjepak diantara santapan akar rumput, menggenapi lingkaran alam.
Memang aku tak pernah berharap, singa adalah pemangsa, tak pernah ia belajar keberanian, memang dia bukanlah raja.
Tetapi, akulah, akulah penantang  gelombang api Tuhan itu, api kecil dari panas napas, bertahan, bertarung untuk menundukkannya.

Kisah Duga

Malam itu seperti biasa, tetapi ada dua gelas teh hangat di meja dan sebuah buku, sebelum membuka dunia abstraksi pada halaman yang telah ku tandai, selalu saja aku tersenyum, sambil berkata dalam hati "memang tidak ada kata bosan dari mengingat, seperti rasa lapar menanti manna dan salwa saja hahahaha", ya beginilah cara ku, untuk setidaknya lebih sadar menerima takdir, terus memaksakan diri untuk berkata, "memang takdir!, inilah yang terbaik!", kata yang cukup berat.

Tak menunggu lama, seruputan pertama diikuti suara motor dihalaman rumah, lelaki yang ku kagumi, sahabat sebangku saat sekolah, telah menepati janji bertemu.
Raut muka yang awet muda, namun ku tahu jiwanya telah teruji, telah ku saksikan kesabarannya, rasa iri dari dulu karena aku belum mampu menjadi sepertinya. Entah mengapa, selama bertahun-tahun, aku seperti hanya memiliki seorang teman, lelaki yang pandai bertopeng untuk menertawai dunia itu, hahaha aneh...

Pembicaraan manusia memang biasa dimulai dengan hal-hal ringan, tetapi kedatangan kawan seperti dia harus ada waktu pada ruang sunyi, dialog dari hati, luapan api atau salju harus membumbui saat pertemuan.

Aku menghadapkan sebuah tulisan yang telah ku susun untuk proyek amatiran, diam-diam sebenarnya tulisan itu adalah buah elaborasi pada cerita kesedihan yang pernah diceritakannya dulu pada ku.

Matanya telah menatap kertas, terlihat sambil tersenyum menyaksikan deretan kata berbunyi:
"Aku ingin mengisahkan pula perjalanan ku, karena dari mata mu itu aku mengerti, setiap kali angin menyapa mu waktu pagi, selalu saja membuat mu bertanya, anehnya... Mengapa harus pertanyaan satu itu yang selalu sama?."

Hanya beberapa detik dan belum selesai membaca, lalu dia menoleh pada ku, sambil berkata, "kau memang pandai mengolah kata dalam kertas, tapi sangat buruk dalam berbicara hahahaha, dia tertawa lepas mengejek ku".

Anehnya dia meletakkan kertas yang masih menyisakan banyak paragraf, dia melanjutkan perkataannya, "aku merasa telah mengalami hidup seperti yang kau tuliskan, tetapi aku akan melanjutkan semua sampai selesai. Katanya "ada keharuman dalam hati ku yang tak pernah berbuah puisi, terdapat pula bau busuk dari luka jiwa ini, dan tulisan mu seakan hendak menasehati ku. Terimakasih, tetapi dengarkanlah ucapan ku, sebelum kau menasehati ku, aku telah mengabil nasehat dari diri ku sendiri dan seribu para bijak, dan pada akhirnya memang beginilah yang harus aku jalani", setelah dari sini, seakan waktu menjadi hening, dan kesadaran membuat kami berdua tertawa... Hahahaha.
Dalam hati aku mengerti "betapa pekanya manusia".




Bunga

Aku tak pernah ingin menyentuh, apalagi memetik setangkai bunga, aku hanya ingin memberi akarnya pupuk, menyiraminya dengan air, agar ia dapat tumbuh dengan baik, supaya aku tenteram melihatnya, hati ku tenang terisi keharuman.
Setelah beberapa waktu, aku harus menerima kelakuan alam, tiada bunga yang tak layu, bahkan aku harus melihatnya membusuk, jatuh bagai sampah yang berantakan, digenggam angin menuju surga.

Sekarang kau pohon tanpa bunga, tetapi aku mencintai mu bukan karena itu, setiap awan menjatuhkan rintiknya pada bumi, aku bukan matahari yang menguapkan , bukan pula angin yang menggiring, aku hanya melihat mu sebagai nyala juang hidup ku, titik.

Monday, September 14, 2020

Manusia

Sekali lagi, sisa waktu ini memberi ku kesempatan, untuk melihat lagi warna hidup manusia, memang aku lelah untuk melihat segala pertunjukan ini.
Entah apa yang ku nanti, dari segala apa yang ku jalani, aku hanya punya harapan, semua ini begitu apa akan aku sebut, hanya iman.
Kau!, yang bersembunyi, dari balik segala yang ku lihat dan ku rasa, kapan kau akan memeluk ku?.

Kaki

Ku tahu, air itu akan mengalir, jika tidak tergenang. Ku tahu, api itu akan membakar, jika menyulut daun yang kering. Begitu pun pada ku, aku tahu banyak tentang diriku, apa yang dapat membuatku berjalan, apa yang dapat membuatku berhenti.
Lama nyawa terkandung badan, singkat makna mengisi hidup. Aku telah banyak bertanya, tetapi menunda hunusan jawab,  simpanan yang menggelayuti pundak, beban  merantai langkah batas. Usia dekat Ketenangan tanah, selimut harap dingin nyata, maya fana buta ini, detik mati lepas tawa.
Seperti kata ku, bersabarlah, jika iman menolongmu, setelah mati, semoga selamat.

Dari mana?

Setelah turun dan merasakan apa yang terjadi, dengan sedikit waktu, meskipun aku hanya bertemu dengan segelintir manusia, aku sudah mengaku bahwa aku tertipu prasangka, tidak akan aku ulangi berbuat menghakimi, lebih-lebih menyimpulkan. Betapa berwarna dan saling melengkapinya suatu perbedaan, melengkapi secara fisik, pemikiran, perasaan, dan sebagainya.
Andai saja tiada perbedaan, mungkin akan tiada kajian, tidak ada hubungan, abstraksi tidak akan muncul mewarnai gelombang pencarian.
Aku bersyukur dapat bertemu dengan mereka, dunia terasa lebih berarti, mengisi kehendak-kehendak yang bersembunyi dengan banyak senyuman dan tawa, tetapi tidak lepas uluran tali dari langit, menyenangkan ternyata.
Aku tidak hanya ingin menerima segala keramahan penghuni dunia ini, aku juga ingin menumbuhkan biji apel yang ku bawa dari surga, agar mereka ingat, cita rasa kebahagian di sana juga beraneka, meskipun hanya sekedar ini, mereka akan memiliki harapan yang melengkapi kebahagiaan yang sudah ada.
Karena mereka akan mati, aku ingin mengingatkan bahwa jika rasa sakit datang, di sana ada harapan, agar jangan terlalu khawatir.

Sunday, September 6, 2020

Tolong!

Tanganku selalu terbuka, kepada Mu selalu meminta, dalam doa maupun selainnya, ruang jantungku masih hampa, ku sebut nama Mu, berulang kali lamanya, tetapi aku masih menanti, kehadiran mu terus sebagai harapan, tetapi sampai kapan?.
Bukankah kau tahu bahwa aku telah lelah, mataku sudah tak bisa jeli mengamati, aku merasa bosan dan aku takut akan lebih sakit, tolonglah aku.
Aku membutuhkan kehadiran mu.
Aku mohon.

Saturday, September 5, 2020

Pukulan

Apakah aku sedang mencari, angin yang telah menyentuh kulit ku, sebenarnya untuk apa semua rasa, jika aku berontak untuk persembunyian mu?.
Apakah kau lihat terlalu banyak gelap, dari terang yang kau pancarkan, apakah matahari tak mampu menyentuh, semua sisi bagian bumi?. Setidaknya, berikan aku rintik kehangatan itu, aku telah kering!, pelukan kebodohan yang selama ini menyelimuti, mengamankan ku untuk terus menjadi seekor domba. Setiap kali aku mencoba membuka jendela yang selama ini tak pernah terbuka, hembusan angin begitu marah memaki kesadaran ku, aku berkata "aku tak pernah berniat lancang, mengapa kau memukuli ku?".

Apa

"Tangan terasa lemah, pikiran berputar lelah, perasaan berisik gundah, menjalani hidup tanpa arah. Saat segala ucapan bagai pedang, kesakitan jerit penjara memantul tanpa lubang, kapan segala perubahan datang, kesabaran menghentak menunggu tenang. Sampai kapan semua berakhir, aku tak sanggup lagi berfikir, tancapan panah-panah ini sungguh beracun , kesedihan yang tak pernah memanggil siapapun." Siapakah yang dapat mendengar, adakah yang mampu melihat, cucuran air mata telah terpancar, menahan api melumat karat. Apa yang harus dilakukan, semua nampak tergenang, apakah harus bertahan, jiwa menjadi medan perang.
Apakah harus mati dulu?
Apakah harus, aku mati dulu?, agar kau datang?.

Friday, September 4, 2020

Mereka mengingat ku

Engkau jangtungku, engkau darahku, engkau napasku, mengapa kau tak melupakanku, saat aku tak mengingat mu, saat aku tak menghiraukanmu, saat aku tak pernah tahu tentang mu, mengapa engkau masih saja ada bersama ku.

Ada banyak hal dalam hidup yang berada diluar kendali sadar, banyak hal itu selalu mengingat diri kita, melakukan semua pekerjakan dalam hidup kita.

Dalam batas waktu, mereka mempertahankan hidup mu.

Tuesday, September 1, 2020

Kontraisme

Langkah pikiran yang lelah, layu terhanyut genggaman angin, aku bergerak tanpa arah, menelan gula berasa asin.

Bicara

Bertahan melihat setan berbicara tentang keagungan kebenaran. Air jernih yang tersimpan dalam buah kelapa, berwujud kekerasan yang tak mampu terbelah dengan tangan manusia.

Monday, August 31, 2020

Satu Detik

Dalam satu detik, hal apa sajakah yang terjadi?, jelaskan berdasarkan apa yang kamu tahu!.
Jawab:
Untuk menjelaskan jawaban yang saya tahu dari apa yang terjadi dalam satu detik, membutuhkan waktu lebih dari seumur hidup ku sendiri. Karena tidak mungkin menjelaskan keseluruhan, pertanyaan itu bukanlah untuk dijawab dengan kata, tetapi untuk dirasakan dengan hati.

Saturday, August 29, 2020

Esok Setelah Kematian

Akan kau penuhi dengan apa, rasa hatimu yang tak sempurna. Sebuah celah yang terasa sepi, dengan apa akan kau isi. Kerinduan rasa napas mu, tebaran gelisah menyelimuti, pencarian yang belum bertemu, bersabar langkah menanti.
Cinta tidak hanya terlihat, oleh tegap kata syariat. Cinta dapat juga ditemui, pada halusnya perasaan hati. Banyak hal berinti sama, terlindung baju berbeda. Kau banyak peduli orang berkata, biarlah nanti terurai hakekatnya. Walapun dipandang cela, bahagia siapa yang rasa.
Disaat waktu itu tiba, ku yakin akan menjadi nyata, berjaraknya diri seorang hamba, kembali pulang bersambut cinta, perjalanan kotor penuh duka, berhenti sampai jadi permata, mulia.
Apakah mengenal Mu tiada senang, siapakah yang berkata gampang, seakan sungai bercabang harus ku selam, mata memejam menjadi malam.

Friday, August 28, 2020

Tiada Pemberian untuk Tuhan

Ya Allah, apa yang telah aku cari dan telah aku temukan, bukanlah sesuatu pada mu untuk aku berikan.
Segala kesehatan, kemakmuran, keturunan, pengetahuan adalah kekosongan bagi mu, tetapi itulah kebanggan dari kebanyakan hamba mu.
Ya Allah, seolah-olah aku membanggakan sampah, aku beratap kotoran dari luapan kegilaan.

Asyura

Diantara peristiwa istimewa yang dialami beberapa Nabi terjadi pada bulan 10 Muharram, hari Assyura, dengan keutamaan ini, dalam hadits kita disunnahkan untuk berpuasa. 

Namun tidak lupa, meskipun tidak ada kaitannya dengan kesunnahan puasa, pada hari itu pula terjadi peristiwa kesyahidan di tanah Karbala, sehingga menjadi ingatan bagi mereka yang menghormati sejarah.

Berdasarkan tragedi itu, maka orang jawa  memperingatinya dengan tidak melakukan perayaan pernikahan sebagai bentuk simpati, membuat bubur syura berwarna merah dan putih sebagai simbol darah yang tumpah dalam membela kebenaran, dan menyantuni anak yatim karena mengingat banyak dari laki-laki keluarga Nabi yang terbunuh meninggalkan anak keturunannya.

Pada malam ini, pada saat itu, Sayyid Husain bin Fatimah bin Nabi Muhammad SAW berkata kepada pengikutnya, "Malam ini, aku mengizinkan kalian untuk pulang, kembali ketengah keluarga kalian masing-masing". Tetapi mereka menjawab, "Apakah engkau ingin kami ini tetap hidup tanpa mu?, apa yang akan kami katakan pada orang-orang, bahwa kami meninggalkan pemimpin, guru, dan keturunan paman-paman kami yang terbaik?. Kami tidak melesatkan panah, tidak menikam tombak, dan tidak menebaskan pedang bersama mu?, tidak!, kami tidak akan meninggalkan engkau!".

Sayyid Husain pun berkata kepada Zainab untuk menghiburnya, "Adik ku, jangan biarkan syaitan menghilangkan kesabaranmu. Semua penghuni bumi pasti mati".

Kita dapat belajar, terkadang kita diberikan ujian kebahagiaan dan kesedihan dalam waktu yang bersamaan.

Harga diri seseorang dihadapan kepongahan dan kesewenang-wenangan memunculkan perlawanan, pembelaan terhadap mereka yang tertindas dan dikasihi adalah kesetiaan. Penggerak kekuatan yang besar terkadang muncul dari kesedihan.

Wednesday, August 26, 2020

Benci tapi Tuli

Mengapa benci terhadap orang yang membuat iri.
Mengapa tidak menyukai terhadap kenyataan diri.
Mungkin saja semua itu pada hakekatnya adalah yang benar dan baik, apa yang membuat sedih pada hari ini, mungkin saja esok malah menjadi hal yang disyukuri. Hal yang sama pada waktu yang berbeda, mungkin saja juga akan berbeda.
Prasangka yang terasa begitu menyedihkan, saat membandingkan keadaan, terhadap orang yang berkelebihan.
Apabila kebenaran muncul dari pihak musuh, bukankah itu yang terbaik, karena ketinggian tumbuh tanaman, bertahan dari akar yang dalam.
Menahan telinga yang memerah, karena kebaikan muncul dari bocah.
Bersabar dengan keadaan diri, menerima putaran posisi.
Mencoba agar jangan sampai ketidak-sukaan diri terhadap sesuatu, membuat diri menjadi buta tuli bisu, bahwa mungkin saja itu, sebab tebalnya karat jiwa, penghalang cahaya.
Menerima kebenaran dan kebaikan dari siapa saja, walaupun dari diri yang dibenci. Meskipun dari musuh yang ingin kau bunuh.

Semoga semua diberi tambahan rahmat olehNya. Aamiin

Sia

Budaya muda ala percuma hanya dunia maya belaka

Bersambung

Bagaimana seseorang berkata, bahwa Dia hanyalah pengisi kekosongan dari perkembangan ilmu pengetahuan, Dia hanyalah sebuah objek yang ditanam karena ketiadaan jawaban.
Setiap kali disodorkan padanya sebuah pandangan, mereka selalu mengedepankan kebodohan, mereka selalu mempertahankan prasangka yang tak berakar. Alasan kemungkinan yang meniadakan, seharusnya pula memungkinkan keberadaan, tetapi dalam kenetralan logika, ada hati yang merasa, definisi percaya bagi mereka seharusnya adalah sebuah kerendahan diri, mengakui, bahwa mereka tidak mengerti.
Dari awal itulah, titik nol, seharusnya mulai terbuka, langkah dimulai, klaim-klaim seharusnya diuji, bukan dihindari.
Mereka membanggakan indra, alat uji material, jika mereka pernah bahagia, tunjukkan alat ukurnya, nyatakan dalam angka, jika dalam pengukuran panas, tunjukkan hingga desimal ke sepuluh, seratus, seribu, atau sebanyak jumlah yang mereka tahu.
Mereka menganggap semua hal yang menyangkut permasalahan asal-usul sama sekali tak berguna, seakan hidupnya di dunia setiap detik begitu bernilai. Seberharganya penganggapan kehidupan mereka, kematian pasti tetap datang.
Mereka bertanya, apa pentingnya membahas akar kehidupan, apa untungnya mengetahui pucuk kehidupan.
Cobalah engkau jawab, apa pentingnya kehidupan mu sendiri, saat bahkan kau juga akan mati.
Mereka memperbandingkan antara menjalani kehidupan dengan mempersiapkan kematian, padahal diantara keduanya terdapat jalan yang bersambung, bukan jalan yang terputus.

Penempuhan Jejak

Sampai kapan engkau berjalan, melewati taman, bebatuan, dan hutan. Apakah masih belum engkau temukan, kerinduan mu pada kebenaran.
Apakah hendak kau paksakan, mata yang penuh keterbatasan, melihat semesta dalam keutuhan, memerinci bagian atom dalam ketelitian, dan menangkap hembusan napas mu dalam genggaman.
Apakah ingin engkau tenggelam, hanyut dalam lamunan malam. Memikirkan kehadiran, Dia Sang Pemberi kehidupan.
Tiada kata memiliki, satupun tiada dalam kendali, kemunculan sehelai rambut, bahkan hadir tanpa engkau sambut.
"Beriman", kau bertanya, "kata itu berarti keyakinan atau kesaksian?".
Jika setiap manusia menggunakan kata itu, wilayah diri manakah yang mampu menerjemahkan, indra, logika, atau rasa?.
Mengapa kita selalu membahasakan bahwa kita mempercayai, mengapa kita tidak bersaksi dengan menemui?.
Apakah makna syahadat sebenarnya?.
Apakah Dia bersembunyi setelah memberi, untuk menguji, apakah manusia tahu diri, apakah dengan alasan itu, dosa terbesar adalah kesombongan?. Kerinduan manusia pada akar penciptaan, memunculkan perjuangan untuk perjumpaan.
Tanah yang tersentuh cinta akan subur dan memunculkan beragam tumbuhan, sedangkan lumpur yang terbiarkan tetap sendiri dalam kegersangan. Manusia memberi kehormatan pada cinta, seharga seserahan nyawa. Mereka meneguk rasa, seolah itulah surga. Pada dunia kesementaraan, seakan terdapat percontohan, bahagianya surga, dan deritanya neraka. Tetapi, apakah itu hubungan seorang hamba dengan Tuhannya. Hubungan yang hanya berputar pada arena kenikmatan dan kesakitan, sesempit itukah akhir segalanya, bukankah bumi sudah begitu berwarna. Bukankah diri manusia begitu luas dan dalam, mengapa seolah yang terdengar, Dia hanyalah Penguasa, tiada cinta kepada hamba, manusia hanyalah budak, "tidak patuh akan aku bakar, patuh akan ku beri kenikmatan". Semua itu terasa seperti engkau bekerja untuk merasakan kelezatan makanan, tetapi disamping mu tiada siapapun, tidak ada yang engkau sayangi dan cintai, tidak pula engkau disayangi dan dicintai, bukankah tidak hanya lidah yang merasa, tetapi hati juga sungguh begitu peka. Segala pemberian yang berasal dari transaksi, tanpa bumbu kasih sayang, seperti ketandusan gurun, tanpa kelembutan hujan.
Tetapi engkau telah melihat, perwujudan dirimu, segala hewan, tetumbuhan, air, udara, gelombang, cahaya, cinta, kebencian, pengorbanan, keputus-asaan, kehidupan dan kematian. Sekarang engkau belajar Al-quran, jika dengan alam membuat mata dan pikiran mu terbang penuh ketakjuban akan kebaikan dan keindahan, rasakanlah pula bahasa cinta Tuhan yang mungkin berwujud lain itu, bukankah seharusnya hal tersebut juga menjadikan mu bersujud penuh rasa pengakuan.
Andaikan dengan melihat bulan dan merasai kelembutan angin itu begitu tenang, mengapa Al-quran diacuhkan, cara apakah untuk menjawab segala keganjilan. Tetapi, mungkin saja rasa itu tidak untuk ditanyakan, tetapi memerlukan langkah agar dialami. Seperti balita yang tak mengerti cinta, tetapi setelah dewasa tenggelam didalamnya.
Mungkin saja ini adalah sebuah bangunan tembok, yang dari dasarnya sudah tersusun. Sekarang, kuatkan pijakan kesabaran mu, dalam menata bagian yang menyempurnakan, yaitu internalisasi mu pada hamparan, semoga engkau bahagia, semangat, merasakan perjalanan dengan keceriaan. Aamiin

Wednesday, August 19, 2020

Sama saja

Seekor monyet telah membuka mata, dari telah lamanya ia melihat, semua terlihat sama, dari Mu, dan itu...

Lapar

Ketika perut lapar dan mengingkan segala macam makanan memenuhi meja, sebenarnya yang melakukan semua itu bukan perut mu, tetapi mata mu, nafsu mu.

Turun

Dari mana sebaiknya aku berbicara, terang matahari telah menjelaskan segalanya, apakah mungkin harus ku dustai, mata ku sendiri sebagai saksi. Terompet takdir telah turun, tetapi aku masih saja tertegun. Duhai keharuman, engkaulah kehormatan. Untuk apa aku masih bertanya, semua manusia telah menjawabnya, untuk apa aku disini, semua hanya datang dan pergi.
Apakah perjalanan ini masih panjang, aku bosan untuk berjuang, aku ingin meletakkan gemuruh jiwa, aku ingin sirna dari angkasa.

Sunday, August 16, 2020

Hilang akal

Mengapa sih manusia susah berfikir sehat, saat dirinya terancam dipandang buruk, kemudian mulailah ia membela diri menunjukkan kebenaran agar tidak disalahkan. Padahal situasinya juga belum tentu kalau dipandang buruk, hanya negatif thinking terhadap thinkingnya orang lain.

Saturday, August 15, 2020

Komentar

Membiarkan segala prasangka muncul dari dalam benak, tak kuasa terlontar ekspresi melalui lisan. Siapa yang tahu tentang niat, yang dugaan telah menjadi keyakinannya, mungkin saja mereka adalah para sahabat malaikat, atau seorang yang tidak suka selain dirinya yang hebat, atau...

Friday, August 14, 2020

Tertipu kesombongan

Setiap manusia berasal dari Sang Pencipta yang sama, tetapi mengapa seolah kau memperlakukan yang lain sebagai makhluk asing.
Jika kau tidak menyukai seseorang, jangan lupa siapa yang menciptakan dirinya, jangan lupa dimana dia hidup, memakan makanan yang sama, semuanya berasal dari Pencipta mu dan juga Pencipta mereka, sama.
Apakah engkau sungguh bernafsu, mengaku-aku bahwa Tuhan adalah milik mu sendiri?, dekat dengan diri mu dan jauh dari manusia lain?, siapa diri mu itu?. Tuhan adalah pemilik segalanya!, kau tak memiliki kuasa apapun juga.

Makan

Merasa belum tidur dengan cukup, padahal rasa kantuk ada dengan sendirinya. Merasa belum puas jika belum kenyang, begitulah jika sesuatu yang bersifat materi, jika sudah terpenuhi, tidak akan meminta lagi. Terlalu banyak berbicara segala sesuatu, padahal sebaris kalimat dari ilmu belum terlahap dan tercerna dengan baik.

Tuesday, August 11, 2020

Tanda

Panggillah aku meski dari kejauhan, lambaikan tangan mu agar aku tahu.
Pada tempat yang baru itu, aku ingin mendirikan tenda, bersama Mu membangun susunan batu, mengangkut gulungan jerami, menyemai benih, dan menunggui kolam ikan kita. Aku selalu menanti ajakan itu, seakan sejak dari lahir aku telah menunggu.
Di sini, dalam hati aku terus bertanya, kapan, di mana, tetapi angin terus berlalu, tak memberikan pesan apapun juga.
Apakah aku harus berdiri sendiri, memutuskan segala hal tanpa dukungan, berjalan tanpa teman, terus dalam keterasingan?. Lama, terasa tak terbayang, kelupaan telah membius, meringankan beban belenggu, tatapan yang menengadah lelah, menganggap segala air mata masih untuk menyentuhi batu.
Ku tunggu, semoga aku mendapatkan rahmat Mu, Tuhan.

Dengki

"Provokasi", kalaulah dapat disebut. 
Jadilah seperti ini, jangan seperti itu.
Seharus begini, bukan begitu.
Kamu masih begini, mereka sudah begitu.
Kamu masih di sini, mereka sudah disana.
Membanding-bandingkan diri terhadap keadaan orang lain, seolah apa yang tidak sama adalah sebuah keburukan, seolah keterlambatan, seolah kesalahan, seolah ketertinggalan, seolah kekalahan.
Standar-standar hidup yang diacukan pada keadaan orang lain. Padahal setiap orang, memiliki cara bahagianya masing-masing. Kamu boleh makan ini makan itu, tetapi setiap orang dapat kenyang. Kamu boleh punya sepeda, tetapi setiap orang dapat hadir tepat waktu. Kamu boleh punya rumah besar, tetapi setiap orang memiliki tempat pembaringannya masing-masing. Standar-standar kelebihan yang dimiliki orang lain, tak perlu harus kita tiru, tetapi setiap orang memiliki kemampuannya masing-masing yang tidak sama. Menyamakan sesuatu yang memang tidak sama hanyalah kekonyolan yang layak ditertawakan, memaksa monyet agar dapat berbicara.

Monday, August 10, 2020

Sapa Raja

Wahai Tuan Raja, engkau penguasa semua alam, pemilik segala zaman. Kehinaan ku, tak mengizinkan ku memperkenalkan diri, siapakah diri ku, diatas segala kehormatan Mu. 
Wahai Tuan Raja, apakah aku yang datang, atau Engkau yang mengundang?. Kau telah memberikan jalan pada kedua kaki ku, cahaya pada kedua mata ku.
Wahai Tuan Raja, aku telah mendengar, mereka berkata, "Aku berbicara pada Mu saat membaca surat mu". Tetapi, aku merasa hanya berdialog dengan pecahan diri ku sendiri. Ketinggian mu terasa begitu jauh, hingga setiap waktu, satiap satu kalimat, melahirkan kesadaran baru. Bagaimana mungkin kedekatan itu, membuat ku lupa keberadaan Mu, berani menentang Mu, sehingga aku banyak menyesal dan memohon belas kasih pada Mu?.
Wahai Tuan, apakah aku ini penjilat, munafik penuh tipu, pendusta yang banyak berkata, sehingga Kau tak melihat ku?. Apakah harus ku benamkan wajah ku, agar aku mencium akar-akar jerami Mu?.
Wahai Tuan Raja, aku tak bisa menunggu di luar kerajaan Mu, biarlah aku disini dan Engkau kemana, aku tetap menunggu sapa.

Laptop

Saat malam menenggelamkan suara riuh kesibukan, mata-mata yang masih sadar namun bertutup selimut itu, membuka seribu simpanan dalam gudang pikiran, diambilnya sedikit demi sedikit suara, didengarnya kembali, apa yang tertuang dalam tarikan napas kehidupannya.
Harapan yang seakan hilang, ketakutan yang semakin menekan, kepercayaan itu telah menjadi tipis, setebal lapisan kulit yang membajui otot dan pembuluh darah. Penipu kesementaraan, kejujuran yang tak berguna, adalah kehangatan yang menunggu mati tertelan angin, makanan kelelawar busuk, bangkai yang menjijikkan.
Kala cendikiawan, sastrawan, politikus, naik mimbar kehormatan, berkata seakan udara adalah batu penghalus bawang, malaikat hanyalah para budak, dan kehormatan berada dalam kedudukan, aku mendengar diluar gedung itu, membawa gorengan untuk ku makan dihadapan laptop kesayangan ku.

Garam

Kesenangan yang sejati ada pada tatanan pikiran dan hati. Pergi ke tempat-tempat indah, makan makanan yang bermacam-macam, jika hanya untuk memperturutkan nafsu, hanyalah bius sementara kepedihan, semua itu hanya akan menambah penderitaan, luka yang hendak diobati dengan menaburinya garam?.

Macam sabar

Sabar terhadap aturan Tuhan, sabar terhadap takdir, dan sabar terhadap kedholiman. Apakah surga hanyalah terisi oleh orang-orang yang sabar?.
Apa pentingnya aku bertanya apakah, bukankah yang ku cari adalah siapakah?.

Sunday, August 2, 2020

Pandangan

Aku bukanlah siapapun untuk memiliki apapun, putus asa dan rasa bangga melebur menyempurnakan kesirnaan ku. Dari ujung tanah, kembali ku bangun harapan atas dasar keimanan. Cinta kasih adalah bahasa yang diketahui seluruh manusia yang punya rasa dan pengaruhnya tidak menuntut peradilan.

Saturday, August 1, 2020

Gubuk yang tersapu angin

Dimanakah letak ucapan ku, kala waktu sejuk hadir dalam hati. Segala sesuatu menjadi berubah, aku menyalahkan dunia yang tak lagi sama.
Akulah yang lekat oleh perkara fana, betapa ini bukan diri ku, aku merasa malu, kepada langit dulu aku pernah menatap, berharap, diri ini dikenal di atas sana, sekarang, sebelum kepala ku muncul, tangga ku patah, entah, sudah berapa banyak yang terbuang, aku merasa terusir, oleh diri ku sendiri yang tak pantas. 
Setelah aku jatuh dengan kekecewaan, aku telah mencari segala alasan, agar senyum ku nampak pada cermin, tetapi karena sayatan kekalahan ku, kehinaan ku, cermin pun telah menjadi musuh bagi ku.
Dahulu, aku merasa di atas angin, terbang seakan punya sayap, langkah ku terasa ringan, saat beberapa waktu, aku banyak menang dari tipu daya, ku pikir, akulah orangnya.
Setelah banyak cobaan, ku sadar, sepertinya, pertahanan ku lebih layak disebut gubuk, bukan benteng yang dihantami batu pasukan musuh, melainkan dienyahkan rintik hujan dan sedikit kekasaran angin, begitu lemah.
Tetapi, aku belum berselimut tanah, bukankah masih ada waktu, setidaknya, kesadaran ku masih ada, rencana ku masih hidup, dan kaki ku masih melangkah, meski kepercayaan ku telah melemah.
Mungkin, sebaiknya memang begitu, kekerdilan ini, mencela senyum ku.

Thursday, July 30, 2020

Cambah

Biji yang berkecambah, telah tumbuh menghadap matahari, angin lembut menampakkan keramahan dedaunannya, dan badai menguji kedalaman akarnya.
Biji yang terpisah dari tubuh sang induk, tetap akan hidup, diam menerima kehendak Tuannya. Mengapa kita tidak bertanya pada sebutir biji tentang kehidupan, bahasa apakah yang dipergunakannya, bagaimana dia menjalani segala.
Saat telinga hanya disibukkan oleh kemerduan yang menggiring jiwa pada kekeringan, perasaan sesaat muncul dan pergantian hari menelan segala duga.
Diam, dan tenang, terus berjalan, sampai tujuan.

Korban

Mungkin, salah satu yang disebut sebagai puncak dari perjuangan adalah, mengantarkan diri di hadapan Tuhan, dan menyerahkan nyawa.
pada saat segala kesenangan menyelimuti, tiada sedikitpun rasa ingin mati karena sedih, tetapi diri itu rela dengan kehendak Ilahi.
Pertunjukan iman dari kisah Nabi Ibrahim dan anaknya Nabi Ismail, membuat setiap diri menduga, bagaimana mereka mampu menghadapi semua itu. 
Sedangkan dengan sedikit cobaan yang menimpa, kita sudah banyak memberontak penuh cela kepada Tuhan.
Somaga Allah menyertai kita semua.
Aamiin

Wednesday, July 29, 2020

Tentang Perang bag. 1

Tentang peperangan, seorang pemuda berkata, "Aku telah lemah menghadapi dunia, bagaimana mungkin aku pergi meninggalkan semua. Dahulu, banyak manusia di seberang pulau berperang, mereka membeli pedang dengan harga keputus-asaan. Tiada harapan kebahagiaan, pertumpahan darah adalah pilihan, sedangkan aku masih banyak pandangan, mimpi ku masih panjang, mengapa aku harus menantang kematian, saat banyak kenikmatan dalam penantian. 

Ku tahu, Bangsa akan tegak dengan kedaulatan, pemimpin adalah penyala keharuman, dan perajurit yang setia adalah angin yang mengobarkan.

Kebenaran dan kebaikan adalah pemersatu, layaknya angin dan api yang berpadu.

Kejahatan hanya bertalikan dengan kepentingan terselubung yang tipis, setiap manusia yang dipandang memiliki hati adalah gonggongan anjing disetiap malam mereka.

Sebelum kau mengajak ku berangkat, seharusnya kau terangkan pada ku terlebih dahulu tentang arti benar dan baik.".

Belajar

Belajar dari membaca, belajar dari menulis, belajar dari mengalami, dan masih banyak lagi.

Biji yang terbuang

 "Anak pohon yang tumbuh dari biji, terkadang tak pernah mengenal siapa induknya. Air hujan yang jatuh ke bumi, tidak selalu bergerak menelusuri sungai, diantaranya menggenang diluasan danau.".
Semoga selamat.
Aamiin.

Sunday, July 26, 2020

Lebih sadar

Menyabari diri sendiri rasanya lebih sadar.
Semoga semuanya selamat.
Aamiin

Friday, July 24, 2020

Ada

"Saat seluruh manusia Kau cipta bahagia, siapakah Engkau dalam diri mereka?.
Apa perlunya mereka mengenal Mu, pemberian yang mereka inginkan, bukan siapa diri Mu. 
Engkau terlalu dekat, Engkau tak terlihat, seperti aliran darah dalam tubuh, Engkau tak dapat disentuh. 
Bukankah Engkau ada namun seperti tiada, lalu mengapa Kau memaksa cinta!.
Cinta ku, untuk manusia!.".

Sebagian hamba mu yang lain berkata, "Pencarian dan ketaatan adalah buah dari ketakutan  kepala kemungkinan. Saat mereka mengemis karena membutuhkan, apakah Kau datang?. Kau banyak alasan, seperti hamba membuat kesalahan."

Perkataan seperti ini nampak keluar dari pikiran yang dipenuhi kegelapan, setan yang bernama seandainya telah menggerogoti bangunan akal. Mereka hanya terus bertanya, tetapi tidak butuh pada jawaban. Mereka hanya berkata, tanpa membawa makna. Mereka mencari, untuk memaki. Mereka diadakan untuk meniadakan?, Bagaimana mungkin!.

Arah teduh

Harus menghadap kemana arah ku, setiap kali aku membuka pintu, angin merdu terus merayu. Genggaman ku telah penuh dan gunung itu tak akan runtuh. Waktu telah mempercepat perjalanan dan merantai ku dengan lamunan. Setiap kali pagi datang, aku ingin bermimpi lagi, terbang, dan lari.

Tuesday, July 21, 2020

Tanah

Perkataan seorang pujangga seperti menyibak suara jiwa yang terkurung.
Mereka mengikat kata dari ganasnya api yang tak bersuara, melerai kebekuan dari sombongnya rayuan angin malam. Kerendahan hati mereka seperti daratan luas yang membuat pandangan kagum. Saat susunan bunga tertata rapi di taman kota, mereka menebar keharuman melalui rasa. Diantaranya ada dengan suara, dan yang lain dengan pena. Desir dingin subuh adalah sang guru, dan tumpukan buku adalah papan tulisnya. Diantaranya pula bersembunyi, bertopeng sentuhan-sentuhan manis dan juga pahit, berbaju tisu dan juga besi, keindahan bunga memang terletak pada paduan warna, dan kepekatan rindu selalu menjadi keharuman bunga di tanah cinta.

Friday, July 17, 2020

Tangan Pendek

Mengalirnya pikiran dan kaki yang berjalan telah menumpuk banyak catatan.
Diantaranya seperti pilihan dan yang lain nampak lebih pada kebenaran.
Pintu gerbang telah terbuka sejak lama dan mata masih terkurung deretan tinta. Kebosanan penyaksian telah menarik kehampaan. Mereka telah lelah menelan makanan dan mengemis untuk hidangan perasaan. Pemuda yang tak punya nama itu masih mencari huruf yang mungkin tersisa. Dia hendak merangkainya menjadi kata. Tetapi dia lupa meskipun satu huruf adalah satu suara.
Dia bertanya "apakah aku ini hidup?" saat perut hanya kenyang menampung buih.
Dia menggerutu karena tak mampu memeluk Tuhan, lalu dia hanya menciumi batu, menggenggam ranting pohon, dan berbicara dengan udara. Cerita yang ia bicarakan sebelum pagi sungguh menyapa hati. Dia banyak menangis dan bertanya, "Apakah aku sudah gila?"

Monday, July 13, 2020

Tinta

Tinta yang melekat pada lembaran kertas ini akan menjadi saksi kehidupan, bahwa aku telah melangkah untuk menjadi lebih baik. Meskipun hanya sebaris, ini adalah biji yang besok akan bercabang.

Sunday, July 12, 2020

Sunyi

Kaki terasa ringan menginjak tanah, jiwa terasa melayang terbawa angin, bukan karena bahagia, tetapi seperti gila. kapan langit menurunkan hujan, apakah musim kemarau masih panjang.
Dalam diam sejuta lamunan tertangkap, saat secuil kata tak berarti dalam sunyi.
Pada siapakah tempat bicara, saat gelombang laut membayangi. Kemana tujuan akan terarah, dunia menawarkan kelembutan, tetapi api yang tak tersentuh juga membakar.

Tuesday, June 30, 2020

Kucing dan Kaca

Menghadapi macan dengan memelihara kucing yang menagih hutang, tidak dapat kau katakan sebagai pembelajaran.
Kau belajar dari hal yang semisal, hanya pada sisi lahir, padahal dalam sifat sangat bertentangan. 
Kau melihat sehelai bulu mata yang tersangkut di kerah baju, hanya dengan pernah melihat sebelumnya kau mampu menentukan, tetapi kau pernah melihat bulu yang membalut tubuh tikus. Kau yakin hanya karena tak pernah tahu. Seekor tikus mampu melintas di atap-atap kayu rumah mu. Angin dan air tidaklah sama.
Apakah yang benar dari peperangan diantara para pembela kebenaran?.
Seperti engkau dari bawah melihat angka 6 dan musuh mu dari atas melihat angka 9.
Hidup jauh lebih luas dari sekedar bentuk.
Bumi tidak sekedar bulat, tidak sekedar laut. Bumi telah lahir, seperti manusia, ia tumbuh dan berjalan.
Penduduk bumi menyangka, matahari telah mendahului bulan, terlihat dari kekuatan apinya. Tetapi mereka telah sadar, terkecoh oleh persaingan, padahal setiap sesuatu, melalui garis edarnya masing-masing.
Tetapi, tertidurnya kesadaran, juga telah membuka rahasia alam. Kau lihat, air telah dapat berjalan menaiki tangga. Mereka yang tertidur akan terbangun, dan menerima kesegaran melebihi tubuh yang telah takjub hanya dari menyentuh air. Kematian, jeritan tangis, dan teriakan perang sudah menjadi pertunjukan dari dahulu. Lihatlah, karena kau tidak mampu menutup mata mu.
Seluas dan sedalam apa kau gali isi diri mu, semua akan lenyap tertelan penyaksian kuasanya. Kau tak akan mampu berkata, tetapi berkatalah, karena aku hendak bercanda juga dengan mu.

Monday, June 29, 2020

Bersama Debu

Bagaimana satu makhluk semacam ini terlalu banyak berkata, padahal ia adalah binatang yang tak mengenal wajahnya saat bercermin. Memalukan, makhluk ini ternyata tak sadar bahwa ia sudah hampir mati, sudah tercecer, terlihat isi otaknya mulai berhambur jatuh karena terhantam kesombongannya sendiri, dia akan segera kehilangan akal, dan terbaring di bawah tanah. Lihatlah, memang dia hendak terus membunuh diri, mencebur untuk membungkam napas dilautan dalam yang bernama kesalahan.
Makhluk ini memang hendak mati, tetapi ada yang melihatnya, sosok tersebut berkata " kasihanilah manusia yang celaka, tangannya telah tertebas capitan mulut seekor semut, biarlah kakinya juga terpotong, tunggulah ia terhantam sisi tajam sebutir daun yang kering!". Ia tenggelam, tetapi tubuhnya terusir karang oleh rasa kasihan, dia hanya diam, merasakan kemerdekaan dari penyesalan yang masih menjadi lamunan seekor ulat yang terbang.
Sampai kapan tiada kesadaran menghinggapi kesalahan yang bersimut kebaikan, atau kebaikan yang melupakan kebenaran, sampai kapan makhluk itu dapat menemui mu dengan senyuman, Tuhan?.
Apakah kau hendak mensejajarkan diri ku layaknya debu, saat aku menebarkannya agar semua menjadi gelap meskipun terdapat cahaya?.
Aku menyerah, aku kalah, ini batang leher ku, tetapi aku meminta kemurahan mu.

Kawulo

Jare mu, kowe iku hamba ku. Jare mu, Aku pengeran mu. La nyapo terus wedi kowe iku?, Jare kabeh wes mok pasrahne neng kuoso ku, nyapo kok jek kuater?.
Kowe yo wes tak kandani, nek aku iku ono terus neng urep mu, aku nguasi, aku ngrungokno kabeh opo sing neng ati mu, tapi kok jek ngunu kowe ng aku to kawulo ku?.

Sunday, June 28, 2020

Kandang

Apakah kau ingin  menjadikan ku sebagai binatang ternak?, makanan yang kau suguhkan hanyalah rerumputan yang kau potong.
Mengapa kau tutup mata ku, agar aku hanya dapat tumbuh dari racikan tangan mu?.
Kau mungkin akan lebih dulu mati, maka aku akan masih hidup dan mencari.
Jika aku mati terlebih dahulu dari mu, maka aku akan malu menghadap Tuhan, jika dalam hidup ini ternyata aku tak lebih dari seekor anak ayam yang mengikuti taburan beras menuju suatu kandang.
Aku punya kaki dan hati, aku mencari dan juga memahami.
Selama ini aku menanggung hukuman tanpa seorang teman, dalam gelap diam aku tercekam, dan kau hanya melihat kehadiran ku dalam kepalsuan.
Selama ini pula aku banyak tertawa, dalam keliaran dikurung penjara, seorang diri juga, tiada yang ikut berbahagia.
Ketakutan mu adalah pembodohan bagi ku, kau tutup kepala ku dengan kain lusuh yang bahkan telah aku tanggalkan dahulu.
Kau tak pernah tahu tentang diri ku, karena setiap rahasia menjadi sumber alasan yang tersembunyi, sedangkan apa yang ku tampakkan hanyalah asap-asap sebagaimana api yang membebaskan kekerasan kayu. Kau tak pernah tahu, hal apakah yang menyalakan ku.

Saturday, June 27, 2020

Luas

Seseorang ingin menempati sebuah pulau terpencil, berharap dapat hidup sendiri, berteman dengan alam, menjauhi manusia.
Dia sibuk menggali alasan, terpejam mencari tempat, hingga waktu semakin sedikit, dan yang terpenting dalam hidup terabaikan.
Mengapa tidak dia luaskan saja jiwanya, hingga menggembung menelan pulau itu?.
Karena dia adalah sekedar barang-barang yang mengharap tempat. 
Tuhan hendak membangun hubungan dengan manusia agar mereka mampu menampung isi kehidupan.
Kau bukan barang, jadilah ruang!.

Seruan mu

Bukankah kau berkata bahwa Aku adalah Tuhan mu?
Bukankah kau berkata tiada yang selain Aku, segalanya dari Ku, Akulah yang berkuasa, Aku yang menciptakan mu dan semesta?.
Sudah ku beri kabar bahwa di dunia kau akan tertawa, tetapi Aku juga akan memberi mu coba. Bahasa Ku adalah cobaan, bukan kejahatan, kau lihat bukan?.
Tetapi kau marah, mencela, dan mengutuk Aku saat cobaan Ku datang, saat bahagia kau sombong, seakan segala pencapaian mu lepas dari kasih sayang ku, saat derita kau menyalahkan ku, seakan Aku adalah musuh mu.
Mengapa?
Bukankah Aku tetap Tuhan mu disaat tertawa atau menangis?, bukankah tetap kepada Ku tempat kembali sejati mu.
Saat kau sedih, apakah kau berkata bahwa Aku tidak lagi mengasihi mu wahai Hamba ku?, sedangkan sudah Ku kabarkan pada mu, Aku selalu bersama mu, tak pernah meninggalkan mu. Saat kau sadar, saat kau terlelap, saat kau ingat, saat kau lupa, saat kau baik, saat kau buruk, saat kau bersih, saat kau kotor, saat lalu, sekarang, esok, kapan pun, dimanapun, apapun, bagaimana pun. Aku hadir bersama-sama dengan mu. 

Monday, June 22, 2020

Sabar atas dosa

Mungkin, bahasa masalah itu kurang pantas, yang benar itu cobaan.
Cobaan terjadi dengan adanya masalah, maka masalah itu adalah bentuk dari cobaan.
Menghukum diri sendiri memang pekerjaan orang yang yang masih memiliki rasa bertanggung jawab atas kesalahan.
Tetapi dengan berlarut-larut air mata mengalir, manusia seperti hendak menjadi malaikat, padahal Tuhan mentakdirkan dirinya sebagai manausia yang bisa salah, lupa, takluk pada nafsu, dendam, putus asa dan sebagainya.
Jikalau tidak, mengapa Tuhan menurunkan kitab yang membahas juga tentang sifat-sifat manusia?.

Sunday, June 21, 2020

Terulang Lagi

Ku tahu, sudah banyak hitam yang terlempar pada dinding putih, buangan sampah yang berserak, melelahkan mata meski terpejam.
Tetapi kesempatan bagai hujan arak, kesadaran melemah, bagai anjing melihat buangan tulang, kesalahan manusia itu masih terulang.
Ku dengar suara geram mengancam cambukan, tetapi darah tak mengagetkan diri yang tenggelam pada keindahan.
Seperti jari-jari perempuan yang melihat Yusuf, bagaimana kau bandingkan dengan sepucuk duri?.
Setelah berulang kali hujan deras dan guntur menguatkan kepalan, binatang ini masih kehilangan akal.
Mengapa dengan sekian hantaman tak membuat mu berhenti berhadap-hadapan?. Apakah menunggu goresan melukis wajah mu yang menawan?
Apakah kau rela terpanggang, saat tertusuk waktu pemberhentian, kau akan sadar kesejatian?.
Awal menggebu, akhir melayu.
Setelah kesempurnaan, tersisa kelemahan.
Oh, dunia, engkaulah surga!.
Seperti seorang pemuda kekar, mengusut kulit melemah badan, dia berkata, "aku telah tergerus senja", kemudian ia berkata pada cermin, "Benar, Setelah semua ini apa lagi?".
Apakah hanya saat di ujung maut kau baru datang pada ku, Tuhan?.
Kemana aku hendak menuju?.

Menanti Sebuah Mimpi

Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...