Susunan tulisan itu tidak mampu menyajikan kebenaran ekspresif, saat cerita sedih tergores, kertas akan tetap kering, saat membahas tentang cahaya, tinta akan tetap hitam, isinya hanya menguji pengolahan fikiran dan hati, penelusuran berbagai sudut pandang pemaknaan, pengayaan imaginasi, dan penerimaan subjektif pun akan memupuk perbedaan, karena itulah tidak ada yang benar-benar tahu tujuan kecuali pengarangnya sendiri.
Seperti tujuan hidup manusia yang "diberi tahu Tuhan" saja, manusia akan mengerti. Selama Dia diam, seribu dugaan manusia tak bisa memenuhi keyakinan.
Menulis adalah satu dari beberapa ruang sunyi ku, tentu memang tidak sesuai dengan unsur-unsur formalnya, semua ini hanya apa yang ku sebut "versi ku", "kemerdekaan ku".
Untuk apa mengikuti jalan raya, saat melalui jalan setapak tetap sampai pada tujuan. Mengikuti ramai kesamaan mulut manusia, terkadang malah mati terinjak kerumunannya.
Tulisan tak akan mampu mengatur kehidupan manusia seluruhnya.
Tetapi akal dan hati akan terus berperan, menimbang segala catatan dan membijaksanai keputusan.
Bukan watak budak yang selalu mengacu kata ini dan itu. Setiap orang berhak berpedoman pada kebenaran pribadinya masing-masing, jika itu baik semoga angin menebarkan kedamaiannya, jika itu kebusukan, biarlah keberanian setiap makhluk terlepas dari pelabuhannya.
No comments:
Post a Comment