Sejarah mengajari kita untuk mempelajari kemungkinan alasan sebuah kejadian, tidak harus tegas, bukan selalu jawaban pilihan ganda, tetapi mendorong kerendah-hatian melalui metodologi penelusuran yang baik.
Keadaan sosial manusia, terkadang mencoba menggali kedalaman motif pemeran, melalui biji-biji rantai yang berserak, tidak harus jelas untuk mengetahui mana awal mana akhir, penentuan yang hitam atau putih, tetapi bagaimana lingkaran probabilitas penyatuan rantai itu dapat menggerakkan kehidupan dengan lebih bijaksana.
Sejarah akan terus menjadi catatan, untuk menimbang masa depan, bukan sebagai dasar penentu, tetapi sebagai bahan ter-adu.
Seperti keinginan mu diperlakukan, jika kamu ingin disayangi, maka kamu tidak suka ada orang yang dibenci.
Jika kamu ingin kenyang, engkau tidak suka ada orang lain lapar.
Jika kamu ingin bahagia, maka kamu pun akan mengusahakan orang lain juga bahagia.
Tetapi beberapa kepentingan manusia dalam sejarah terkadang telah menjadikan bertolak belakang dengan refleksi dirinya sendiri, mereka mengejar sejahtera dengan merugikan orang lain, mereka ingin pandai dengan memperdayai orang awam, mereka ingin menikmati surga dengan memasukkan yang lain ke neraka.
Cermin-cermin monyet yang kelaparan materi, intelektual, emosi, dan spiritual.
Binatang buas yang bercita-cita menguasai dunia dan akhirat, cakar harta, kulit keturunan, tanduk kepandaian, dan taring "iman" membuat jebakan untuk menjatuhkan yang tidak sesuai dengan kepentingan. Omnivora pemuja gagasan pribadi eksklusif!.
No comments:
Post a Comment