*Sebuah tuduhan*
Cahaya yang menampakkan segala ini adalah tanda, menundukkan manusia yang pandai "berkaca". Tetapi ironi, mereka yang mengaku telah menelisik lebih teliti dari berbagai sisi, malah berkeyakinan bahwa pengakuan terhadap "kepastian" adalah tanda kepengecutan.
Dua sisi yang seakan saling memelototkan mata, telah merayakan kembali dialog yang selama ini tandus dan beku, terlelap dikurung ketakutan dan kebodohan.
Memang kekuatan kata tak dapat dipungkiri, dari "kata" itulah segala tercipta, bahasa tetap berwujud meskipun dalam diam, sebelum sebuah kata tertulis dan terucap, dia bagaikan aliran roh yang berkesadaran penuh.
Pembahasan tentang mereka yang berdalih atas nama "Tuhan", adalah karena tak berkeinginan lain sebagai alasan. Keamanan lebih memenuhi keinginan dari pada penerimaan terhadap kesalahan. Lebih mudah menyalahkan dibanding berbuat pengakuan.
Kerinduan pada "Yang Mutlak", mencerminkan balitanya jiwa yang menolak realitas dunia, kepastian adalah senjata manusia untuk mendapat kemenangan dan menerima kekalahan secara kerdil.
Kebebasan adalah kata yang sangat ditakuti oleh kalangan manusia yang berjiwa budak. Mereka tak memiliki keberanian untuk bertarung dengan ketidak-pastian. Mereka menghindari angin yang dihembuskan bumi, khawatir lebih sejuk dibanding kipas angin murahan yang ia peroleh dari ucapan sosok figuran.
Naif juga, saat dunia "kadung" terisi ratusan jenih tumbuhan, pembicaraan hanya terbatas tentang mawar dan rumput. Maka bijaksana mereka yang berkata, "kebebasan hanya dapat diterima oleh nampan kelembutan". Saat egoisme berkedok "Yang Mutlak" berada dalam ucapan, saat itu pula ronta kebenaran terus berlangsung dalam dialektika kelucuan manusia, dinamika yang terjadi bahkan dalam sekala detik, bermain-main dalam bentuk "potensi" di setiap arus percabangan sungai.
Pertobatan sejati adalah saat jiwa mengakui adanya tangga lain yang ternyata baru saja dinaiki, setiap kenaikan satu derajat adalah peningkatan pengakuan kelemahan diri, berapa kali bertobat dalam satu hari?.
Bersambung...
No comments:
Post a Comment