Thursday, October 22, 2020

Sudut

Inilah aku dan itulah mereka.

Mari kita semua membuka hati, meletakkan bongkahan yang tersembunyi, ke hadapan Sang Ilahi.

Apakah pantas seorang diri, kepada Hakim Tertinggi untuk mengadili, setiap hamba  semuanya yang dikasihi.

Siapakah yang berani, meminta semua kejujuran, apa yang dibisikkan hati, semua lepas terperdengarkan.

Apakah yang diinginkan dari segala hubungan, jika kesadaran tentang kefanaan telah tertancap dalam. Apakah yang masih ingin diperjuangkan, jika yang dituju berada dalam teka-teki yang malam.

Teriakan mu pada hunusan pedang, nyaring mengusik kedamaian binatang. Persaudaraan dan permusuhan di bumi, bagai bunga dan rumput yang sama-sama subur.

Apakah perbedaan antara bunga dan rumput, bunga memberi mu rasa keindahan dan kehormatan, tetapi rumput seakan tak berguna bagi mu, kau cabik-cabik, "bras bres bras bres", sambil mengeluh kau lemparkan pada ternak mu, kau lupa, dari rumput itulah ternak mu makan, kau berdagang, kau dapat makan dan menyisihkan uang. 

Dari rumput kau dapat membeli bunga, dari bunga pula kau dapat memperoleh rumput.

Lalu kau masih berpura-pura bodoh, tetap saja kau tak ingin kalah dihadapan buih yang akan lenyap.

No comments:

Post a Comment

Menanti Sebuah Mimpi

Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...