Saturday, October 3, 2020

Burung kecil yang cantik

Aku ingin bercerita, tentang burung kecil yang terluka.

Dahulu, saat pagi menebarkan kesegaran, aku begitu bersemangat menyambut sapaannya, bukan seperti sekarang, membuka mata adalah melihat tanya, apa yang harus dilakukan. Kosong!, hahahaha.

Dahulu, aku suka rindu melihat tanaman disana, meski semua itu bukan milik ku, tetapi aku jatuh cinta pada cantik hijaunya. Sebelum kewibawaan matahari memuncak saat berjalan naik ke ujung kepala, langkah ku begitu ringan beriring senyuman, meski bukan milik ku, aku suka melihat pemiliknya bahagia.

Tak sengaja, aku melihat burung kecil cantik, berjalan entah mencari apa, tidak seperti biasanya. Aku fikir itu adalah keberuntungan ku, aku akan menangkapnya, tetapi tanpa bertanya untuk apa.

Singkat cerita, aku telah menangkapnya, bahagia sekali, tanpa sadar seakan aku adalah hewan buas yang berhasil menerkam mangsanya, tetapi tanpa berniat sok hewani, aku tak pernah bercita-cita memiliki seekor burung, aku tidak suka sangkar. Burung kecil itu masih ada digenggaman, berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari genggaman ku, tentu perbuatannya sia-sia, burung kecil itu tetap tak berdaya.

Ku tatap matanya, mencoba melihat ekspresinya, tetap saja, tiada air mata, tiada tanda sedih, tiada tanda takut, hanya tekanan meronta hendak lepas.

Beberapa saat kemudian, ada yang terasa hangat menyentuh kulit ku, ku kira dia baru saja mengotori ku, ku pindahkan dia dari kanan ke kiri, ternyata darah!, kehangatan itu dari darah. Ku balik tubuhnya, ternyata, ku lihat patah tulang sayapnya, tatanan tulang yang tak tersambung, terlihat banyak darah dibalik sayap cantik yang ku genggam erat itu!.

Ternyata tetap saja manusia seperti ku, yang mengaku memiliki rasa kasih di hatinya, tak mau mengantarkan burung kecil itu ke dokter, saat itu aku merasa, ternyata hanya sebatas ini kepedulian ku terhadap sesama, aku berbuat pilih kasih terhadap sesama makhluk.

Aku tak mau berfikir berlebihan, atau karena aku tak punya kepedulian. Tetapi tetap saja, ada rasa ingin menyembuhkan yang tak bertemu kenyataan.

Aku lelah mendengar semua itu, "Kamu buruk!, atau kamu benar-benar tak mampu!"
Aku tak tahu, aku melepasnya, hanya membaca doa dan sholawat, agar dia tidak merasa sakit lagi, dapat terbang tinggi, meramaikan langit, menyadarkan kelemahan manusia dan kebesaran Tuhannya.

No comments:

Post a Comment

Menanti Sebuah Mimpi

Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...