Tuesday, December 15, 2020

Nama

"Terkadang terjadi, banyak manusia lupa sama sekali, bahwa yang merendahkan harga dirinya, tiada lain adalah dirinya sendiri. Banyak manusia tidak sadar, sehingga mencari kambing hitam, atas kerusakan yang diperbuat tangannya sendiri, mereka mencari pembenaran, melempar kotorannya sendiri ke belakang punggung orang lain".

Anak kecil yang bernama Putih itu, telah tumbuh menjadi remaja yang tampan, dunia kehidupannya semakin lebar, tempatnya sekarang telah berganti wilayah, keceriaannya menyimpan harapan, untuk dapat berubah kepribadian, dia akan berada di lingkungan yang baru, mengenal manusia-manusia yang  belum dikenal, tak lama waktu dapat menciptakan jalinan teman, sebagiannya menjadi sangat dekat, ia sudah dapat percaya untuk bicara lebih dalam, dari sebelumnya ia selalu menyimpan pembicaraan.

Remang adalah nama kawan terdekatnya, sesuai namanya, ia tidak suka konflik, dia tidak menyukai penghakiman, ia suka keakraban, kelembutan, dan guyonan. Terbukti saat putih dan dia mengendarai sepeda bersama, ketika terdapat pemuda desa bermulut kotor mengendarai motor, pemuda itu menghentak mereka karena tidak memberikan aba-aba melambaikan tangan saat hendak menyeberangi jalan, putih terbawa emosi dengan menjawab "maaf", namun dengan nada kasar pula, putih tahu jarak antara pemuda itu dan diri mereka sama sekali tidak berpengaruh bahaya, tetapi pemuda emosional itu hanya hendak mencari gara-gara, Putih memang tidak suka kekasaran, tetapi ia akan bersikap reflek sebagaimana ia diperlakukan.

Remang hanya diam, tetapi kemudian berkata membela pemuda pemaki tersebut dengan lembut, "kamu memang lupa memberi aba-aba". Putih hanya diam dan agak kesal pada Remang karena tidak mendukung emosinya.

Manusia dapat dengan sangat sombong memikul harga dirinya sendiri, sampai-sampai lupa perbuatannya telah merendahkan orang lain. Beberapa manusia hanya peduli dengan harga dirinya sendiri, melupakan orang lain punya perasaan sama seperti dirinya. Sangat perasa jika harga dirinya dicubit, melupakan harga diri orang lain sedang diinjaknya.


Kenetralan terkadang dianggap sebagai jalan tengah, menyakini antara hitam dan putih memang tiada, tetapi jika dengan cara demikian berharap keuntungan di kedua bilah pihak, ia melupakan bahwa sebenarnya sedang dimangsa di kedua sisi.

Semacam ada tembok yang membatasi jalan pengetahuan dengan kebijaksanaan.
Saat banyak kata yang tak termaknai dengan hati, saat ucapan kasih sayang tiada beda dengan transaksi, segalanya seakan berarah sendiri-sendiri, menunggu detik saling berpaling dan menonjolkan pribadi, saat waktu kesabaran datang menempati.

Tuhan, semoga kehidupan lebih damai.
Aamiin.

No comments:

Post a Comment

Menanti Sebuah Mimpi

Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...