Aku ingin bertemu untuk bicara, setidaknya sekedar mengirim pesan, tetapi seakan keberadaan ku saat melihat mu, aku ada dalam lembah yang mendongak memandangi mu di atas bukit, apa salahnya dengan diam ku jika itu karena aku merasa tahu diri, apa bodohnya aku jika memang aku merasa belum setingkat, aku melihat mu dengan penuh kesempurnaan, dan ku pandang diri ku dengan banyak kelemahan, pemaksaan diri ku sendiri untuk melangkah menuju mu, ku takut itu adalah kejahatan, keberanian tanpa perhitungan adalah perendahan terhadap diri mu, bagi ku engkau dimuliakan Tuhan, aku tak ingin meredupkan sinar mu, melayukan akar-akar tegak mu, bagi ku engkau berharga, kau pun harus berada dalam kotak yang baik, sebilah pedang kenangan pahlawan tak pantas untuk memotong dahan pepohonan, permata disimpan dalam keadaan aman, sedangkan sesuatu yang biasa memiliki tempat pada umumnya.
Apakah yang harus ku lakukan dengan keadaan ku, seakan niat kuat namun tangan tak sanggup mengikat.
Berikan aku petunjuk Mu Tuhan, bukankah saat menghadap mu segala makhluk berada dalam kuasa Mu, apakah aku sedang menggantungkan kebahagiaan kepada sesuatu yang juga bergantung pada Mu. Bukankah aku sudah melakukan banyak kekonyolan, maka jadikanlah apa yang terjadi pada hidup ku ini, menjadi stabil karena kebenaran Mu, rahmatilah aku dengan kelembutan Mu.
Aamiin.
No comments:
Post a Comment