Dengan cara apa aku dapat mengairi hati, agar ia terus basah dan tak menumbuhkan api, tetapi seakan hati ku terbuat dari ranting-ranting kering, mata dan telingaku adalah pintu masuk angin-angin.
Aku menolak menyimpan segala dalam genggaman, tetapi ruang gelap jiwa ku ternyata masih sempit. Aku salah memandang dengan mata pongah, berkeyakinan tempat itu seluas mimpi, kepercayaan ku melayu terhembusi musim panas, lemah dan hendak menyerahkan harapannya.
Seperti panci meluapkan sebagian air yang mendidih, aku hanya ingin mengandung segala apa yang menjadi bagian ku, tetapi apalah yang ku tahu dari semua yang terjadi, aku hanyalah pecahan batu yang tak mengerti apa itu satu, dan kehidupan ku tak lebih seperti binatang yang mengendus lumuran darah.
Penjilat yang bertahta di atas awan, teriak makian membangunkan sadar.
No comments:
Post a Comment