Sampai kapan manusia mampu hanya melihat, tubuhnya membatu tak beranjak dari tempat, kepalanya terkutuk bagai medan perang, bisikan keberanian dan ketakutan terus terbayang.
Banyak daun mengering karena kecewa, banyak pula akar menguat karena kata,
Langkah tak selalu mengalir karena cinta, terkadang sekedar keputusan berlain makna.
Kerinduan yang tak tertuju hanyalah kehampaan yang meminta tenang, penantian dalam pencarian memang seakan jauh datang, menerka maksud langit yang terus membisu terang, dalam keterkikisan harapan jiwa itu melayang.
Apakah yang harus diletakkan saat tangan lembut terbuka, siapakah anak manusia yang merasa tidak setara?.
No comments:
Post a Comment