Monday, June 29, 2020

Bersama Debu

Bagaimana satu makhluk semacam ini terlalu banyak berkata, padahal ia adalah binatang yang tak mengenal wajahnya saat bercermin. Memalukan, makhluk ini ternyata tak sadar bahwa ia sudah hampir mati, sudah tercecer, terlihat isi otaknya mulai berhambur jatuh karena terhantam kesombongannya sendiri, dia akan segera kehilangan akal, dan terbaring di bawah tanah. Lihatlah, memang dia hendak terus membunuh diri, mencebur untuk membungkam napas dilautan dalam yang bernama kesalahan.
Makhluk ini memang hendak mati, tetapi ada yang melihatnya, sosok tersebut berkata " kasihanilah manusia yang celaka, tangannya telah tertebas capitan mulut seekor semut, biarlah kakinya juga terpotong, tunggulah ia terhantam sisi tajam sebutir daun yang kering!". Ia tenggelam, tetapi tubuhnya terusir karang oleh rasa kasihan, dia hanya diam, merasakan kemerdekaan dari penyesalan yang masih menjadi lamunan seekor ulat yang terbang.
Sampai kapan tiada kesadaran menghinggapi kesalahan yang bersimut kebaikan, atau kebaikan yang melupakan kebenaran, sampai kapan makhluk itu dapat menemui mu dengan senyuman, Tuhan?.
Apakah kau hendak mensejajarkan diri ku layaknya debu, saat aku menebarkannya agar semua menjadi gelap meskipun terdapat cahaya?.
Aku menyerah, aku kalah, ini batang leher ku, tetapi aku meminta kemurahan mu.

No comments:

Post a Comment

Menanti Sebuah Mimpi

Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...