Saturday, June 20, 2020

Sabar yang berteriak

Batu dengan kekerasannya, adalah cermin kesabaran mu.  yang bertebaran, telah mengantar pesan persembunyian.
Akulah pecahan batu, dari asal ku yang satu.
Akulah percikan embun, dari asal ku yang sunyi.
Akulah darah penghabisan, dari asal ku yang tegar.
Akulah itu, semut yang tak terlihat oleh keagungan mu, bahkan teriakan ku, tak mengguncang walau setitik debu.

No comments:

Post a Comment

Menanti Sebuah Mimpi

Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...