Apakah ketakutan untuk puluhan tahun esok itu?, bahkan dengan satu hari ke hadapan, hati telah tergetar ragu. Harus dengan berapa kali tahun lagi untuk tersadar, bahkan tubuh mungil lucu telah menjadi seorang dewasa yang tegar.
Kecanduan dunia telah membuahkan kekerdilan jiwa, padahal tubuh yang bergantung padanya. Apakah pantas seorang pangeran, tunduk menyembah terhadap pelayan.
Alasan cinta, telah membuat tak percaya. Terlena, lupa.
Alasan belas kasih, menumbuhkan pedih, karena digenggaman, berharap keberpihakan.
Mengapa arah itu berpencar?, bukankah ini yang benar, bahwa tempat kembali hanya satu. Mengapa selalu curiga, padahal satu jawaban telah merangkum segala tanya.
Tetapi tiada kehadiran, membuka pintu kerinduan. Apakah benar itu tanya?. Surat cinta ada di segala penjuru, tergambar di langit, terukir pada tanah, laut, angin, batu, pohon. Terhias dengan senyuman dan pelangi, tertulis dalam pikiran dan hati.
Tetapi biarlah apa yang dihendaki, takdir manusia telah tercipta, beberapa kaki akan mengalir, menemui kepingan batu yang tergerus panas, hendak bersama penyala api.
Tetesan air mata itulah saksi, bahwa bekas rasa ku yang masih kering, telah ku ucapkan pada Mu. Tuhan, apakah Kau tetap menemani...?
No comments:
Post a Comment