Ku tahu, sudah banyak hitam yang terlempar pada dinding putih, buangan sampah yang berserak, melelahkan mata meski terpejam.
Tetapi kesempatan bagai hujan arak, kesadaran melemah, bagai anjing melihat buangan tulang, kesalahan manusia itu masih terulang.
Ku dengar suara geram mengancam cambukan, tetapi darah tak mengagetkan diri yang tenggelam pada keindahan.
Seperti jari-jari perempuan yang melihat Yusuf, bagaimana kau bandingkan dengan sepucuk duri?.
Setelah berulang kali hujan deras dan guntur menguatkan kepalan, binatang ini masih kehilangan akal.
Mengapa dengan sekian hantaman tak membuat mu berhenti berhadap-hadapan?. Apakah menunggu goresan melukis wajah mu yang menawan?
Apakah kau rela terpanggang, saat tertusuk waktu pemberhentian, kau akan sadar kesejatian?.
Awal menggebu, akhir melayu.
Setelah kesempurnaan, tersisa kelemahan.
Oh, dunia, engkaulah surga!.
Seperti seorang pemuda kekar, mengusut kulit melemah badan, dia berkata, "aku telah tergerus senja", kemudian ia berkata pada cermin, "Benar, Setelah semua ini apa lagi?".
Apakah hanya saat di ujung maut kau baru datang pada ku, Tuhan?.
Kemana aku hendak menuju?.
No comments:
Post a Comment