Sunday, June 14, 2020

Menyirami Kebaikan

Diam?, saat apa yang kau ucap dengan lantang ternyata menyulut kutuk pada dari sendiri. Manusia bangga dengan merasa tak bersalah, hanya karena matanya tertutup oleh keegoisan.

Malam ini, ku tulis beberapa kalimat, untuk menghibur diri, bagi yang mencari.

Langkah Mu terdengar lembut,
seperti angin menyapa pagi.
Ketenangan mu  dalam bisik, 
membangun tangga bahagia ku.
Ku lihat gambaran kasih mu,
Ku terima banyak kebaikan mu.
Sampai saat ini, 
Tiada ada henti.

Aku teringat kisah seorang buta, yang disuapi Nabi kala itu.
Betapa kelembutan, tertanam dalam hati.

Kala api hendak melahap hutan, Kau turunkan gerimis dengan lembut.
Mengapa hutan terbakar, padahal sedikit percikan itulah penyebabnya.

Kemudian aku diam, fikiran ku terhenti.
Sudah tak sanggup aku menelan, segala apa yang terjadi.

Saat hendak tertawa, aku melihat derita. Saat hendak menangis, aku melihat bahagia.

Lalu ku pandangi wajah ku yang tak sama, ternyata mata ku sudah mulai berisi makna, tentang apa yang ku alami, dan apa yang ku fahami.

Sekarang, mata air muncul dibawah kaki ku, aku hendak menanam, menumbuhkan pohon, untuk ku panjat, agar dapat sampai, kepada Mu.


No comments:

Post a Comment

Menanti Sebuah Mimpi

Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...