Dimanakah letak ucapan ku, kala waktu sejuk hadir dalam hati. Segala sesuatu menjadi berubah, aku menyalahkan dunia yang tak lagi sama.
Akulah yang lekat oleh perkara fana, betapa ini bukan diri ku, aku merasa malu, kepada langit dulu aku pernah menatap, berharap, diri ini dikenal di atas sana, sekarang, sebelum kepala ku muncul, tangga ku patah, entah, sudah berapa banyak yang terbuang, aku merasa terusir, oleh diri ku sendiri yang tak pantas.
Setelah aku jatuh dengan kekecewaan, aku telah mencari segala alasan, agar senyum ku nampak pada cermin, tetapi karena sayatan kekalahan ku, kehinaan ku, cermin pun telah menjadi musuh bagi ku.
Dahulu, aku merasa di atas angin, terbang seakan punya sayap, langkah ku terasa ringan, saat beberapa waktu, aku banyak menang dari tipu daya, ku pikir, akulah orangnya.
Setelah banyak cobaan, ku sadar, sepertinya, pertahanan ku lebih layak disebut gubuk, bukan benteng yang dihantami batu pasukan musuh, melainkan dienyahkan rintik hujan dan sedikit kekasaran angin, begitu lemah.
Tetapi, aku belum berselimut tanah, bukankah masih ada waktu, setidaknya, kesadaran ku masih ada, rencana ku masih hidup, dan kaki ku masih melangkah, meski kepercayaan ku telah melemah.
Mungkin, sebaiknya memang begitu, kekerdilan ini, mencela senyum ku.
No comments:
Post a Comment