Sampai kapan engkau berjalan, melewati taman, bebatuan, dan hutan. Apakah masih belum engkau temukan, kerinduan mu pada kebenaran.
Apakah hendak kau paksakan, mata yang penuh keterbatasan, melihat semesta dalam keutuhan, memerinci bagian atom dalam ketelitian, dan menangkap hembusan napas mu dalam genggaman.
Apakah ingin engkau tenggelam, hanyut dalam lamunan malam. Memikirkan kehadiran, Dia Sang Pemberi kehidupan.
Tiada kata memiliki, satupun tiada dalam kendali, kemunculan sehelai rambut, bahkan hadir tanpa engkau sambut.
"Beriman", kau bertanya, "kata itu berarti keyakinan atau kesaksian?".
Jika setiap manusia menggunakan kata itu, wilayah diri manakah yang mampu menerjemahkan, indra, logika, atau rasa?.
Mengapa kita selalu membahasakan bahwa kita mempercayai, mengapa kita tidak bersaksi dengan menemui?.
Apakah makna syahadat sebenarnya?.
Apakah Dia bersembunyi setelah memberi, untuk menguji, apakah manusia tahu diri, apakah dengan alasan itu, dosa terbesar adalah kesombongan?. Kerinduan manusia pada akar penciptaan, memunculkan perjuangan untuk perjumpaan.
Tanah yang tersentuh cinta akan subur dan memunculkan beragam tumbuhan, sedangkan lumpur yang terbiarkan tetap sendiri dalam kegersangan. Manusia memberi kehormatan pada cinta, seharga seserahan nyawa. Mereka meneguk rasa, seolah itulah surga. Pada dunia kesementaraan, seakan terdapat percontohan, bahagianya surga, dan deritanya neraka. Tetapi, apakah itu hubungan seorang hamba dengan Tuhannya. Hubungan yang hanya berputar pada arena kenikmatan dan kesakitan, sesempit itukah akhir segalanya, bukankah bumi sudah begitu berwarna. Bukankah diri manusia begitu luas dan dalam, mengapa seolah yang terdengar, Dia hanyalah Penguasa, tiada cinta kepada hamba, manusia hanyalah budak, "tidak patuh akan aku bakar, patuh akan ku beri kenikmatan". Semua itu terasa seperti engkau bekerja untuk merasakan kelezatan makanan, tetapi disamping mu tiada siapapun, tidak ada yang engkau sayangi dan cintai, tidak pula engkau disayangi dan dicintai, bukankah tidak hanya lidah yang merasa, tetapi hati juga sungguh begitu peka. Segala pemberian yang berasal dari transaksi, tanpa bumbu kasih sayang, seperti ketandusan gurun, tanpa kelembutan hujan.
Tetapi engkau telah melihat, perwujudan dirimu, segala hewan, tetumbuhan, air, udara, gelombang, cahaya, cinta, kebencian, pengorbanan, keputus-asaan, kehidupan dan kematian. Sekarang engkau belajar Al-quran, jika dengan alam membuat mata dan pikiran mu terbang penuh ketakjuban akan kebaikan dan keindahan, rasakanlah pula bahasa cinta Tuhan yang mungkin berwujud lain itu, bukankah seharusnya hal tersebut juga menjadikan mu bersujud penuh rasa pengakuan.
Andaikan dengan melihat bulan dan merasai kelembutan angin itu begitu tenang, mengapa Al-quran diacuhkan, cara apakah untuk menjawab segala keganjilan. Tetapi, mungkin saja rasa itu tidak untuk ditanyakan, tetapi memerlukan langkah agar dialami. Seperti balita yang tak mengerti cinta, tetapi setelah dewasa tenggelam didalamnya.
Mungkin saja ini adalah sebuah bangunan tembok, yang dari dasarnya sudah tersusun. Sekarang, kuatkan pijakan kesabaran mu, dalam menata bagian yang menyempurnakan, yaitu internalisasi mu pada hamparan, semoga engkau bahagia, semangat, merasakan perjalanan dengan keceriaan. Aamiin
No comments:
Post a Comment