Wednesday, August 26, 2020

Bersambung

Bagaimana seseorang berkata, bahwa Dia hanyalah pengisi kekosongan dari perkembangan ilmu pengetahuan, Dia hanyalah sebuah objek yang ditanam karena ketiadaan jawaban.
Setiap kali disodorkan padanya sebuah pandangan, mereka selalu mengedepankan kebodohan, mereka selalu mempertahankan prasangka yang tak berakar. Alasan kemungkinan yang meniadakan, seharusnya pula memungkinkan keberadaan, tetapi dalam kenetralan logika, ada hati yang merasa, definisi percaya bagi mereka seharusnya adalah sebuah kerendahan diri, mengakui, bahwa mereka tidak mengerti.
Dari awal itulah, titik nol, seharusnya mulai terbuka, langkah dimulai, klaim-klaim seharusnya diuji, bukan dihindari.
Mereka membanggakan indra, alat uji material, jika mereka pernah bahagia, tunjukkan alat ukurnya, nyatakan dalam angka, jika dalam pengukuran panas, tunjukkan hingga desimal ke sepuluh, seratus, seribu, atau sebanyak jumlah yang mereka tahu.
Mereka menganggap semua hal yang menyangkut permasalahan asal-usul sama sekali tak berguna, seakan hidupnya di dunia setiap detik begitu bernilai. Seberharganya penganggapan kehidupan mereka, kematian pasti tetap datang.
Mereka bertanya, apa pentingnya membahas akar kehidupan, apa untungnya mengetahui pucuk kehidupan.
Cobalah engkau jawab, apa pentingnya kehidupan mu sendiri, saat bahkan kau juga akan mati.
Mereka memperbandingkan antara menjalani kehidupan dengan mempersiapkan kematian, padahal diantara keduanya terdapat jalan yang bersambung, bukan jalan yang terputus.

No comments:

Post a Comment

Menanti Sebuah Mimpi

Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...