Wahai Tuan Raja, engkau penguasa semua alam, pemilik segala zaman. Kehinaan ku, tak mengizinkan ku memperkenalkan diri, siapakah diri ku, diatas segala kehormatan Mu.
Wahai Tuan Raja, apakah aku yang datang, atau Engkau yang mengundang?. Kau telah memberikan jalan pada kedua kaki ku, cahaya pada kedua mata ku.
Wahai Tuan Raja, aku telah mendengar, mereka berkata, "Aku berbicara pada Mu saat membaca surat mu". Tetapi, aku merasa hanya berdialog dengan pecahan diri ku sendiri. Ketinggian mu terasa begitu jauh, hingga setiap waktu, satiap satu kalimat, melahirkan kesadaran baru. Bagaimana mungkin kedekatan itu, membuat ku lupa keberadaan Mu, berani menentang Mu, sehingga aku banyak menyesal dan memohon belas kasih pada Mu?.
Wahai Tuan, apakah aku ini penjilat, munafik penuh tipu, pendusta yang banyak berkata, sehingga Kau tak melihat ku?. Apakah harus ku benamkan wajah ku, agar aku mencium akar-akar jerami Mu?.
Wahai Tuan Raja, aku tak bisa menunggu di luar kerajaan Mu, biarlah aku disini dan Engkau kemana, aku tetap menunggu sapa.
No comments:
Post a Comment