Wednesday, September 30, 2020

Diperjalanan

"Berbajulah yang rapi, cerahkan wajah mu, agar wanita tertarik pada mu!." Nasehat seorang Tua yang melihat ku biasa-biasa saja, mungkin dia melihat ku apa adanya dan diri ku sendiri melihat semua ini sudah cukup untuk menghargai sesama. 
Apakah aku perlu mendengarkan mereka, aku sudah berusaha berpakaian selayaknya. Tersenyum semenyenangkannya, semampu ku, tetapi jika semua itu tidak berhasil aku lakukan, aku terima tuduhan, biarlah kelemahan ku ini menjadi inilah aku.

Dunia manusia ini memang sangat lucu, andai aku tak pernah khawatir ada orang yang tersakiti oleh sikap ku, aku pasti hanya akan tertawa melihat semuanya, semua indah. Hahahaha.

Apabila waktu kedepan memberiku cahaya yang membinarkan mata ku, kerinduan tuntas saat bertemu Sang Raja, ku rasa semua akan lepas dalam kemerdekaan.

Aku ingin, tetapi tidak penting, aku berharap, tapi tidak membutuhkan.

Aku tak mau hidup ku tersiksa, oleh cita-cita tak berguna, oleh pandangan manusia. Aku tak mau terpenjara, oleh tanggung jawab pilihan hidup, tuntutan yang dianggap berpahala, tidak menjalani takdir, hanya penjagaan kehormatan diri, omong kosong, tiada yang benar-benar mengerti, menyerahkan semua bisik pada yang Maha Mendengar.

Betapa rindunya aku, aku rindu, tetapi aku harus hidup, sampai Dia sendiri menjemput. Kau pasti melihat, tetapi doa ku semoga engkau melihat, betapa aku takut, seandainya ternyata engkau tak menolehkan wajah mu pada Ku, pada akhirnya aku harus kembali mencela diri ku sendiri, tetapi sampai saat ini aku hidup, menanggung janji untuk setia melangkah, hati yang bersujud dan terkadang berontak melangkah pada Mu, Tuhan.

No comments:

Post a Comment

Menanti Sebuah Mimpi

Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...