Wednesday, September 16, 2020

Kisah Duga

Malam itu seperti biasa, tetapi ada dua gelas teh hangat di meja dan sebuah buku, sebelum membuka dunia abstraksi pada halaman yang telah ku tandai, selalu saja aku tersenyum, sambil berkata dalam hati "memang tidak ada kata bosan dari mengingat, seperti rasa lapar menanti manna dan salwa saja hahahaha", ya beginilah cara ku, untuk setidaknya lebih sadar menerima takdir, terus memaksakan diri untuk berkata, "memang takdir!, inilah yang terbaik!", kata yang cukup berat.

Tak menunggu lama, seruputan pertama diikuti suara motor dihalaman rumah, lelaki yang ku kagumi, sahabat sebangku saat sekolah, telah menepati janji bertemu.
Raut muka yang awet muda, namun ku tahu jiwanya telah teruji, telah ku saksikan kesabarannya, rasa iri dari dulu karena aku belum mampu menjadi sepertinya. Entah mengapa, selama bertahun-tahun, aku seperti hanya memiliki seorang teman, lelaki yang pandai bertopeng untuk menertawai dunia itu, hahaha aneh...

Pembicaraan manusia memang biasa dimulai dengan hal-hal ringan, tetapi kedatangan kawan seperti dia harus ada waktu pada ruang sunyi, dialog dari hati, luapan api atau salju harus membumbui saat pertemuan.

Aku menghadapkan sebuah tulisan yang telah ku susun untuk proyek amatiran, diam-diam sebenarnya tulisan itu adalah buah elaborasi pada cerita kesedihan yang pernah diceritakannya dulu pada ku.

Matanya telah menatap kertas, terlihat sambil tersenyum menyaksikan deretan kata berbunyi:
"Aku ingin mengisahkan pula perjalanan ku, karena dari mata mu itu aku mengerti, setiap kali angin menyapa mu waktu pagi, selalu saja membuat mu bertanya, anehnya... Mengapa harus pertanyaan satu itu yang selalu sama?."

Hanya beberapa detik dan belum selesai membaca, lalu dia menoleh pada ku, sambil berkata, "kau memang pandai mengolah kata dalam kertas, tapi sangat buruk dalam berbicara hahahaha, dia tertawa lepas mengejek ku".

Anehnya dia meletakkan kertas yang masih menyisakan banyak paragraf, dia melanjutkan perkataannya, "aku merasa telah mengalami hidup seperti yang kau tuliskan, tetapi aku akan melanjutkan semua sampai selesai. Katanya "ada keharuman dalam hati ku yang tak pernah berbuah puisi, terdapat pula bau busuk dari luka jiwa ini, dan tulisan mu seakan hendak menasehati ku. Terimakasih, tetapi dengarkanlah ucapan ku, sebelum kau menasehati ku, aku telah mengabil nasehat dari diri ku sendiri dan seribu para bijak, dan pada akhirnya memang beginilah yang harus aku jalani", setelah dari sini, seakan waktu menjadi hening, dan kesadaran membuat kami berdua tertawa... Hahahaha.
Dalam hati aku mengerti "betapa pekanya manusia".




No comments:

Post a Comment

Menanti Sebuah Mimpi

Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...