Entah kata apa yang tepat, "rindu" tentu terhadap sesuatu yang telah dikenal, tetapi kepada yang memberikan segalanya ini, "terimakasih" apakah itu kata yang pantas?.
Dia yang tersembunyi atau yang terlalu nyata, seperti mata yang tak mampu melihat dirinya sendiri, cermin yang tak sanggup memuat semesta, jiwa yang mengaku hanya mampu menerima tanda-tanda, tetapi karena tak terjangkau, semuanya juga terasa tidak terbatas.
Siapakah yang Tuan, pelayan yang hanya meminta-minta kepada majikan, harus menerima kesadaran, kesakitan terkadang memang harus diobati dengan kepahitan.
Siapakah yang dicinta, siapakah yang cinta, cinta menutup cela, benci menutup mata, tetapi kepada siapakah semestinya?.
Kepada Tuhan yang tak mampu kau peluk tetapi memberikan mu pada suatu saat nanti pelukan dari utusannya, atau dari ciptaannya kau berikan seluruh hati mu dan hanya menyisakan rasa "terimakasih" saja tanpa cinta lebih hebat pada pemberi itu?.
Berbicara tentang proporsional kelekatan hati, dari sisi penghayatan memang dari Tuhan, selayaknya Tuhan adalah nomer satu, karena Dialah sumber utamanya, tetapi pada realitasnya, yang bisa kita sadari adalah keberadaan manusia, sehingga kita melayani manusia yang kita cinta, manusia menjadi Tuhan, sedangkan dibalik itu Tuhan menjadi pelayan, yang hanya dimintai tanpa dicintai.
"kasihan sekali nasib mu Tuhan", guyonan manusia lucu ini, hahahahaha.
Ya Tuhan, semua ini ciptaan mu, jika Kau membenci, untuk apa Kau menciptakannya, karena itu, aku yakin Kau mengasihi semuanya, jika kasih mu pada semuanya. Mengapa cinta ku hanya sekedarnya saja, memandang kehidupan diluar sebagai suatu ancaman, aku malu.
Tuhan kita sama, semua diri kita dari Tuhan, Tuhan sayang kita semua, maka jangan mengatas-namakan Tuhan kita bersama untuk berlaku sewenang-wenang, kita semua saudara yang dapat saling mengerti, seharusnya kita semua saling mengasihi.
No comments:
Post a Comment