Tuesday, July 21, 2020

Tanah

Perkataan seorang pujangga seperti menyibak suara jiwa yang terkurung.
Mereka mengikat kata dari ganasnya api yang tak bersuara, melerai kebekuan dari sombongnya rayuan angin malam. Kerendahan hati mereka seperti daratan luas yang membuat pandangan kagum. Saat susunan bunga tertata rapi di taman kota, mereka menebar keharuman melalui rasa. Diantaranya ada dengan suara, dan yang lain dengan pena. Desir dingin subuh adalah sang guru, dan tumpukan buku adalah papan tulisnya. Diantaranya pula bersembunyi, bertopeng sentuhan-sentuhan manis dan juga pahit, berbaju tisu dan juga besi, keindahan bunga memang terletak pada paduan warna, dan kepekatan rindu selalu menjadi keharuman bunga di tanah cinta.

No comments:

Post a Comment

Menanti Sebuah Mimpi

Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...