Friday, July 17, 2020

Tangan Pendek

Mengalirnya pikiran dan kaki yang berjalan telah menumpuk banyak catatan.
Diantaranya seperti pilihan dan yang lain nampak lebih pada kebenaran.
Pintu gerbang telah terbuka sejak lama dan mata masih terkurung deretan tinta. Kebosanan penyaksian telah menarik kehampaan. Mereka telah lelah menelan makanan dan mengemis untuk hidangan perasaan. Pemuda yang tak punya nama itu masih mencari huruf yang mungkin tersisa. Dia hendak merangkainya menjadi kata. Tetapi dia lupa meskipun satu huruf adalah satu suara.
Dia bertanya "apakah aku ini hidup?" saat perut hanya kenyang menampung buih.
Dia menggerutu karena tak mampu memeluk Tuhan, lalu dia hanya menciumi batu, menggenggam ranting pohon, dan berbicara dengan udara. Cerita yang ia bicarakan sebelum pagi sungguh menyapa hati. Dia banyak menangis dan bertanya, "Apakah aku sudah gila?"

No comments:

Post a Comment

Menanti Sebuah Mimpi

Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...