Entah rujukan utama apa yang sepatutnya dimiliki untuk menilai kebenaran suatu kisah. Semakin dipelajari, suatu kisah terkadang terasa bukan untuk menunjukkan kenyataan itu sendiri, tetapi sekedar menampilkan sumber, sudut pandang, dan kesan penulis "kutipan tidak langsung". Interpretasi kejadian penulis untuk menghubungkan suatu alur kejadian dan motif pelaku sejarah terkadang berlebihan dan dipaksakan. Terkadang ada pertentangan yang sangat mencolok antara satu buku dengan buku lainnya, artinya adalah bahwa kita harus memiliki pedoman yang dapat menjadi timbangan, indikator standar, untuk menilai isi suatu kisah.
Hamparan pengetahuan itu seperti bermacam-macam bahan makanan, kita tidak fokus pada bumbu-bumbu tambahan.
Andaikan memang perlu, bahan utama itulah yang seharusnya telah ada di dapur.
Begitu pula jika manusia membaca kisah, agar tidak terombang-ambing, maka harus ada standar kompetensi untuk dapat mempertimbangkan mana yang sesuai.
Tetapi bagaimanapun semua akan memberikan manfaat. Tidak semua orang terberi tahu jalan lurus ke arah mana dari titik awal, oleh sebab itu ada orang yang harus jalan terlebih dahulu untuk mengetahui tembok penghadang. Jalan itu ada yang dari tanah dan ada pula yang dari langit. Jika kau tahu diameter bumi, apakah kau tahu tepi semesta?. Mari kita semua mendukung dan menghargai setiap pejalan menuju titik terbaik. Jangan-jangan yang kau remehkan suatu saat akan menjadi penunjuk jalan mu!.
No comments:
Post a Comment