Ketenangan yang teracuni oleh keraguan telah menghisapi tenaga yang terkumpul. Diam dan terbaring dalam mengingat mu seperti api tanpa kayu. Kehadiran yang telah ditunggui dalam gelap mata yang tertutup, belum menggetarkan sekotak hamparan tempat ku termenung. Jangan kau buang muka mu karena kecewa, diri ku dalam kesadaran selalu haus bersatu. Banyak waktu telah membusuk, menkarati pintu kepala ku. Segala macam suara liar dan rayu memasuki pori-pori dengan tajam dan halus, tak ada yang ku hisap dalam napas, kecuali apa yang disentuhkan pada baju ku.
Terkadang dihadapan ku, terkadang di atas ubun-ubun ku, mata mu yang tak pernah ku tahu maknanya selalu hanya ku rasa sekedar menganggap, tidak tahu.
Nanti dan besok selalu menjadi mimpi ku, kebenaran tentang mu masih seperti jalan yang belum buntu. Aku masih berjalan, meskipun banyak bersandar dibawah pohon yang berbuah manis, sekali lagi, aku masih akan berjalan, melanjutkan usia yang masih bergandengan dengan waktu. Terimakasih ku sampaikan sungguh pada mu, tanpa mengurangi pengakuan kesakitan ku. Ku tahu, lemah diri yang membuat keindahan semua ini terselimuti. Maafkan aku.
No comments:
Post a Comment