Wednesday, February 26, 2020

maunya sendiri

Bagaimanakah tentang jalan menuju engkau?. Ku rindu tapi cinta mu untuk semua. Egois ini sangatlah buruk, tanda dari jauhnya diri dari sang tertinggi. Seharusnya ini adalah kebahagiaan terlengkap.

racun

Ketenangan yang teracuni oleh keraguan telah menghisapi tenaga yang terkumpul. Diam dan terbaring dalam mengingat mu seperti api tanpa kayu. Kehadiran yang telah ditunggui dalam gelap mata yang tertutup, belum menggetarkan sekotak hamparan tempat ku termenung. Jangan kau buang muka mu karena kecewa, diri ku dalam kesadaran selalu haus bersatu. Banyak waktu telah membusuk, menkarati pintu kepala ku. Segala macam suara liar dan rayu memasuki pori-pori dengan tajam dan halus, tak ada yang ku hisap dalam napas, kecuali apa yang disentuhkan pada baju ku.
Terkadang dihadapan ku, terkadang di atas ubun-ubun ku, mata mu yang tak pernah ku tahu maknanya selalu hanya ku rasa sekedar menganggap, tidak tahu. 
Nanti dan besok selalu menjadi mimpi ku, kebenaran tentang mu masih seperti jalan yang belum buntu. Aku masih berjalan, meskipun banyak bersandar dibawah pohon yang berbuah manis, sekali lagi, aku masih akan berjalan, melanjutkan usia yang masih bergandengan dengan waktu. Terimakasih ku sampaikan sungguh pada mu, tanpa mengurangi pengakuan kesakitan ku. Ku tahu, lemah diri yang membuat keindahan semua ini terselimuti. Maafkan aku.

carut marut

Suatu hari, di pasar pagi yang ramai, tiba-tiba ada seorang pemuda berteriak, "pencopet!", dengan sigap pemuda tersebut berlari dan menghantam pipi pencopet tersebut sampai terjatuh, dukungan pun datang, disusulnya banyak hantaman dan tendangan dari masyarakat setempat, seolah sekarang pertunjukan pencurian beralih menjadi penganiayaan, kelicikan dibalas keganasan, dibayarnya pencurian itu dengan menjadi tikus yang menjadi mainan gerombolan anjing. Uang tak berhasil dibawa lari, tetapi malah menanggung kesakitan dan biaya kulit yang tersobek, tubuh yang lebam, harga diri yang jatuh, dan permaluan diri yang menyedihkan.
Setelah menjadi lelah dan puas diri menginjak-injaki tubuh pencuri, pemuda itu berkata dengan penuh kemarahan, "Bajingan!, kau ambil uang seenaknya saja!. Aku saja kerja keras untuk mengumpulkan uang!.". Dia merasa iri jika ada orang mendapat rezeki dengan mudah. Dia tak rela menanggung kerja keras sedangkan yang lain terasa mudah.
Jadi apakah yang kau sayangkan dari kejadian tersebut?, uang atau kelakuan?. Materialisme atau akhlak?. Jika ada pencuri, yang membuat mu kecewa uang yang ditangannya atau perbuatan buruknya?.

Thursday, February 20, 2020

gelombang

Hai... Hal apa yang kau tangisi atau kau senyumi dari tarian ku hari ini?. Adakah dua-duanya atau malah hanya satu yang terburuk?. Ku tahu, betapa kau menahan segala simpanan hati yang menggejolak. Kau tahan kata dan kelakuan untuk segera enyah dari pentas mu saat ini, kau tunggu-tunggu mungkin saja Yang kau harapkan akan menunjuki mu arah yang lebih teduh. Kau pun mulai ragu, goyah kaki mu untuk tetap melihat harap. Kau diantara lemah dan tangguh, kau lemah karena kau merasa tak mampu mengambil keputusan, kau tangguh karena kau masih percaya.

salju

Setiap dari manusia akan meleleh, salju yang terus terpapar matahari pada akhirnya akan menyerah dan mencair. Waktu telah menyimpan rahasia dengan halus, digerusnya usia dengan tenang tanpa bius. Mereka berkata bahwa, menertawakan kesedihan adalah ketangguhan, saat kebajikan banyak yang terlewatkan dan kesia-siaan menjadi selimut kehangatan. Sudah berapa kali manusia bernafas?, ada berapa banyak lagi tarikan yang dapat direngkuhnya?. Setiap detik adalah genderang, lalu mengapa manusia terus bermain-main saja?. Tidur begitu lelap sampai menghabisi setengah kehidupan. 
Orang-orang bijak memiliki mulut yang kaya,  seorang pembual seperti suara segerombolan nyamuk pengganggu. Seorang penjahat yang menderita karena kasadaran dan penyesalan, Tuhan akan memandangnya dengan berkata, "Dia adalah hamba ku, Aku adalah Tuhannya, dia tidak memiliki siapapun kecuali Aku.". Apa saja yang tidak abadi, tidak akan dihargai. Lalu, untuk apa seutas bunga itu?. Ambillah dari ku, tamannya, buku. Untuk apa kau peluk erat sesuatu yang termakan musim, bunuhlah Aku!. Seseorang yang menyimpan kelembutan di wajahnya akan membuat malu para pembenci, seseorang tak akan berani datang jika tidak diundang dikerumunan para rupawan. Para pembesar dunia akan menjaga wibawa dan berkata, " Ini semua adalah untuk kebaikan!", seolah kehidupannya mewakili kebenaran dan kemuliaan. Seseorang yang lambat berbicara, telah berkata banyak di dalam kepalanya. Mengapa kemungkinan yang menyelamatkan manusia dari fitnah tak pernah menjadi awal dari ucapan yang keluar dari mulut?. Mereka yang buta tak akan melangkah sebelum meraba tanah yang ada dihadapannya. Seekor kucing dan harimau akan sama saja bagi yang dimangsa. Domba bagi srigala dan manusia tercela adalah sama.  Setiap manusia berharap lebih dahulu berkata "cukup", sebelum orang lain memberitahunya. Para pengembara akan mendapat banyak perkataan, kalimat yang berbeda-beda akan menghampirinya disetiap jalan, Dia yang ada diatas semua khayalan, memiliki segala kekuasaan.

Monday, February 17, 2020

Keluar Rumah

Saat aku ada di kota itu, aku merasa seolah baru tahu setitik bagian dunia. Selama ini yang ku lihat adalah tingginya bukit dan luasnya lautan, namun disana aku melihat bangunan menjulang dan sungai besar terhampar. Selama ini yang kulihat adalah jalan setapak, jalan berbatu, dan jalan aspal bopengan, namun disana ada jalan lebar dan bagus yang disangga tiang-tiang besar, mereka menyebutnya jalan tol.
Ah..  Tetapi rasanya... apakah aku ini di takdir untuk menjadi penonton dan pengintai, bukan pendengar dan pengikut?.
Setelah membaca atau menulis, udara menjadi pembius kesadaran, sungguh pengetahuan atau kengantukan.

Tuesday, February 11, 2020

sedikit bacaan dari kisah

Entah rujukan utama apa yang sepatutnya dimiliki untuk menilai kebenaran suatu kisah. Semakin dipelajari, suatu kisah terkadang terasa bukan untuk menunjukkan kenyataan itu sendiri, tetapi sekedar menampilkan sumber, sudut pandang, dan kesan penulis "kutipan tidak langsung". Interpretasi kejadian penulis untuk menghubungkan suatu alur kejadian dan motif pelaku sejarah terkadang berlebihan dan dipaksakan. Terkadang ada pertentangan yang sangat mencolok antara satu buku dengan buku lainnya, artinya adalah bahwa kita harus memiliki pedoman yang dapat menjadi timbangan, indikator standar, untuk menilai isi suatu kisah.
Hamparan pengetahuan itu seperti bermacam-macam bahan makanan, kita tidak fokus pada bumbu-bumbu tambahan.
Andaikan memang perlu, bahan utama itulah yang seharusnya telah ada di dapur.
Begitu pula jika manusia membaca kisah, agar tidak terombang-ambing, maka harus ada standar kompetensi untuk dapat mempertimbangkan mana yang sesuai.
Tetapi bagaimanapun semua akan memberikan manfaat. Tidak semua orang terberi tahu jalan lurus ke arah mana dari titik awal, oleh sebab itu ada orang yang harus jalan terlebih dahulu untuk mengetahui tembok penghadang. Jalan itu ada yang dari tanah dan ada pula yang dari langit. Jika kau tahu diameter bumi, apakah kau tahu tepi semesta?. Mari kita semua mendukung dan menghargai setiap pejalan menuju titik terbaik. Jangan-jangan yang kau remehkan suatu saat akan menjadi penunjuk jalan mu!.

Sunday, February 9, 2020

Tabir

Ku coba melipat mata ku yang basah karena diangkasa sana kau tak bersegera menarikku pergi. Dibawah sini aku selalu mengingat mu, tiupan angin dan gerak-gerak dedaunan ini seperti sapaan mu yang meminta ku bersabar. Ingatkah pada waktu sore saat ku coba memahami perkataan mu?, tetapi kebodohan ku membawa air suci hanya untuk memperoleh sesuatu dari mata mu. Bagaimana aku terus menganggap mu ada bagi ku, saat semuanya adalah karena ketakutan ku belaka?. Tuhan, saat seseorang mencintai mu, apakah yang mereka inginkan dari mu?. Kematian yang berkali-kali?. Apakah disaat darah ku ini ku tuangkan pada tanah mu, aku akan merasa bahwa aku benar telah mencintai mu?.
Bagaimana berat rasanya hanya untuk membuka kata-kata yang kau susun itu, karena sering telah ku cerna, tetapi kepala ini terasa lemah. Apakah memang begitu kotor, sehingga setitik saja air dari mu akan mencari-cari ruang jiwa ku yang masih bercelah?.
Ohh... Tetapi aku tidak mau berhenti. Aku akan masih terus merobek-robek tubuh dunia, agar mereka membuka tabirnya, dari mu pada ku.

seenaknya saja buat status

Tidak usah gampang terpengaruh dengan kata-kata orang. Masing-masing orang punya prinsip, sistem, cara, sudut pandang, dan kehati-hatian yang berbeda-beda. Ada beberapa hal yang pada akhirnya bukan persoalan benar-salah dan baik-buruk, tetapi persoalan kemampuan atau pilihan. Mereka yang merasa benar terkadang juga hanya belum waktunya menyadari kekonyolan. Mereka yang sudah merasa salah juga belum tentu telah lebih dalam menyadari kenaifan. Kemungkinan yang lainnya terserah pada masing-masing individu. Satu hal, bahwa komentar anda secara logika memang mengandung unsur berburuk sangka, benci, dan iri. Atau setidaknya membuat perasaan orang lain menghela napas karena ke-egoisan mu. Oleh sebab itu tidak perlu ada sepatah kata pembelaan dari saya. Seorang pembenci akan buta terhadap seribu kebaikan. Saya ingin berkata pada diri sendiri, "Jangan merasa hanya kau yang pintar dan benar, sudah jelas bahwa itu tidak benar. Apakah kau pantas banyak mencela?. Berhati-hati kalau kebusukan dan kebodohan mu disingkapkannya, wajah mu akan diterwakan balita.".

Sunday, February 2, 2020

mendongak

Lalu kau memandangi langit penuh tanya, kau berpikir pada jumlah debu yang tersapu suara, apakah pernah kau coba terka bagaimana daun-daun itu tahu diri?. Bukankah Kau juga mengayunkan mata ke segala arah?, bahkan tanya mu telah membuat gelombang semakin rapat, tetapi kau telah tahu, ada jalan yang telah terpijaki, kaki yang melangkah gagah ataupun lemah akan terus memperpanjang titik. Lalu bukankah akan kau coba lagi?, memejamkan mata?, tak adakah tentang Tuhan yang terkandung dalam aliran darah mu?, Dia yang kau salahkan saat hujan turun tidak sesuai harapan, tak pernah kau syukuri saat alat kehidupan dengan lengkap terpenuhi, jangan kau tak usahkan semua yang terjadi meskipun kau lebih yakin akan hampa, kau tahu tetapi sebenarnya tiupan-tiupan jiwa mu selalu bergemuruh merdu dan terkadang kencang bukan?. Terakhir adalah bahwa matahari akan tak berarti, bagi yang kehilangan makna terhadap senyum yang abadi. Bukankah manusia punya mata, telinga, dan pusat kendali?.

Saturday, February 1, 2020

gila seperti ini lucu

Dulu, dimasa aku adalah asap, Dia bertanya pada ku, "apakah kau mencintai ku?", lalu dengan cahaya berseri-seri ku jawab, "iya, aku mencintai mu!". Kemudian dia berkata, "Aku juga mencintai mu, tetapi aku ingin mencintai mu lebih dan lebih lagi!". Lalu aku berkata, "Aku akan melakukan apapun demi cinta ku!". Lalu dengan tiba-tiba waktu tercipta, pijakanku hancur dan aku terjatuh dari langit. Seperti meteor yang tiba-tiba terbakar, aku merasa sangat takut. aku memanggil namanya, "Kenapa kau melakukan ini pada ku!". Dia berkata, "Aku mencabut ingatan mu tentang ku, kau tak akan lagi mampu melihat ku, sebentar lagi semua akan berubah dan kita akan terpisah. Tetapi demi cinta ku, ada benih dihati mu tentang ku, bersetialah pada ku, berjanjilah bahwa kau akan mencari ku disana!". Dengan teguh ku jawab kata-kata itu, "Aku telah mengetahui semuanya, pasti aku akan melakukan yang terbaik, setelah ini kita akan bertemu kembali". Dia menyela, "namun jika kau ingkar, aku akan membunuh mu berkali-kali!, aku akan membakar mu!". Waktu terus mengalir dalam kehidupan baru ku, bumi telah berevolusi selama 23 kali, dan aku masih begini?, masih saja gila seperti ini. 😁😁😁😁😁😁

Menanti Sebuah Mimpi

Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...