Berkata tidak benar, memang berarti dusta. Tetapi siapa yang membelenggu manusia karena kata, itu semua bukanlah cara kerja cinta. Bebaskanlah manusia atas nama Tuhan, karena hakekat cinta adalah memberi, bukan menerima.
Kau terlalu sering menganggap mempunyai sesuatu, kau berkata tentang diri mu bahwa ini dan itu milik mu, hingga saat semua rusak dan hilang, kau baru sadar, kau memang tak bisa benar-benar menggenggam, bahkan diri mu yang kau aku-aku itu, bukankah tak mampu kau jaga untuk dapat hidup selamanya?.
Berhati-hatilah dengan rasa memiliki, karena saat sesuatu pergi artinya kau kehilangan.
Kesedihan banyak timbul karena rasa kepemilikan, tetapi kesadaran bahwa semua ini adalah kesementaraan, ketergantungan mu pada Tuhan, keimanan itu harus dikedepankan. Agar kejatuhan mu tak membuat putus asa, dan keberhasilan mu tak menyombongkan mu berbuat aniaya.
Kau diuji dengan keimanan, karena penyaksian tidak memerlukan keyakinan. Kerendah-hatian mu pada ketidak-tahuan, seharusnya mengantarkan mu pada penyimpulan kelemahan.
Apa yang telah ternyatakan dan kau buktikan sebagai kebenaran, bukankah sudah semestinya menjadi pedoman. Tetapi mengapa kau bersikap lebih rendah dari cacing sawah?. Saat kebenaran itu tak menambah keyakinan, dan pedoman tak kau gunakan sebagai petunjuk.
Aku telah melihat, cacing itu terus meronta tidak menerima, seakan menggeliat ketakutan di atas penggorengan, memaki dan mengutuk, tubuhnya yang terpotong cangkul petani yang hendak menggali parit itu, tidak mampu diam dan bersabar.
Katanya sambil menjerit, "Tubuh ku telah menjadi bagian dari diri ku, jika bentuk ku hanya tinggal sebagian, sama halnya jiwa ku telah tanggal separuh. Bagaimana mungkin aku baik-baik saja, aku dalam sekarat, aku kesakitan dan akan segera mati!."
Aku tak bisa memalingkan wajah ku, hendak ku satukan kembali tubuhnya yang terpisah, tetapi aku hanya bisa menungguinya untuk mati atau tidak lagi bergerak. Siapa yang dapat aku persalahkan, ku anggap petani itu tidak punya niat, aku meyakini pula jika kesakitan itu memang takdirnya.
Cacing hanyalah makhluk yang terus bersembunyi di balik tanah, meskipun cahaya telah datang, tetapi seharusnya kita sadar, kegelapan memang rumahnya.
Berbeda dengan Petani, ia adalah makhluk besar, apa urusannya dengan seekor cacing, meskipun ia nampak di permukaan?, dia hanyalah binatang kecil tak berdaya, hanyalah umpan untuk pancing ikan manusia.
Aku bergeleng kepala, tak mampu lagi berbagaimana, kisah ini tiada akhir, dan apa pentingnya bagi ku melihat semuanya. Jika aku punya cerita, aku pun tak perlu banyak peduli, untuk mempertanyakan semuanya.