Tuesday, December 29, 2020

Membasahi Hati

Dengan cara apa aku dapat  mengairi hati, agar ia terus basah dan tak menumbuhkan api, tetapi seakan hati ku terbuat dari ranting-ranting kering, mata dan telingaku adalah pintu masuk angin-angin. 

Aku menolak menyimpan segala dalam genggaman, tetapi ruang gelap jiwa ku ternyata masih sempit. Aku salah memandang dengan mata pongah, berkeyakinan tempat itu seluas mimpi, kepercayaan ku melayu terhembusi musim panas, lemah dan hendak menyerahkan harapannya.

Seperti panci meluapkan sebagian air yang mendidih, aku hanya ingin mengandung segala apa yang menjadi bagian ku, tetapi apalah yang ku tahu dari semua yang terjadi, aku hanyalah pecahan batu yang tak mengerti apa itu satu, dan kehidupan ku tak lebih seperti binatang yang mengendus lumuran darah.

Penjilat yang bertahta di atas awan, teriak makian membangunkan sadar. 

Monday, December 21, 2020

Cacing dan Petani

Berkata tidak benar, memang berarti dusta. Tetapi siapa yang membelenggu manusia karena kata, itu semua bukanlah cara kerja cinta. Bebaskanlah manusia atas nama Tuhan, karena hakekat cinta adalah memberi, bukan menerima. 

Kau terlalu sering menganggap mempunyai sesuatu, kau berkata tentang diri mu bahwa ini dan itu milik mu, hingga saat semua rusak dan hilang, kau baru sadar, kau memang tak bisa benar-benar menggenggam, bahkan diri mu yang kau aku-aku itu, bukankah tak mampu kau jaga untuk dapat hidup selamanya?.

Berhati-hatilah dengan rasa memiliki, karena saat sesuatu pergi artinya kau kehilangan.
Kesedihan banyak timbul karena rasa kepemilikan, tetapi kesadaran bahwa semua ini adalah kesementaraan, ketergantungan mu pada Tuhan, keimanan itu harus dikedepankan. Agar kejatuhan mu tak membuat putus asa, dan keberhasilan mu tak menyombongkan mu berbuat aniaya.

Kau diuji dengan keimanan, karena penyaksian tidak memerlukan keyakinan. Kerendah-hatian mu pada ketidak-tahuan, seharusnya mengantarkan mu pada penyimpulan kelemahan.

Apa yang telah ternyatakan dan kau buktikan sebagai kebenaran, bukankah sudah semestinya menjadi pedoman. Tetapi mengapa kau bersikap lebih rendah dari cacing sawah?. Saat kebenaran itu tak menambah keyakinan, dan pedoman tak kau gunakan sebagai petunjuk.

Aku telah melihat, cacing itu terus meronta tidak menerima, seakan menggeliat ketakutan di atas penggorengan, memaki dan mengutuk, tubuhnya yang terpotong cangkul petani yang hendak menggali parit itu, tidak mampu diam dan bersabar. 

Katanya sambil menjerit, "Tubuh ku telah menjadi bagian dari diri ku, jika bentuk ku hanya tinggal sebagian, sama halnya jiwa ku telah tanggal separuh. Bagaimana mungkin aku baik-baik saja, aku dalam sekarat, aku kesakitan dan akan segera mati!."

Aku tak bisa memalingkan wajah ku, hendak ku satukan kembali tubuhnya yang terpisah, tetapi aku hanya bisa menungguinya untuk mati atau tidak lagi bergerak. Siapa yang dapat aku persalahkan, ku anggap petani itu tidak punya niat, aku meyakini pula jika kesakitan itu memang takdirnya.

Cacing hanyalah makhluk yang terus bersembunyi di balik tanah, meskipun cahaya telah datang, tetapi seharusnya kita sadar, kegelapan memang rumahnya. 

Berbeda dengan Petani, ia adalah makhluk besar, apa urusannya dengan seekor cacing, meskipun ia nampak di permukaan?, dia hanyalah binatang kecil tak berdaya, hanyalah umpan untuk pancing ikan manusia.

Aku bergeleng kepala, tak mampu lagi berbagaimana, kisah ini tiada akhir, dan apa pentingnya bagi ku melihat semuanya. Jika aku punya cerita, aku pun tak perlu banyak peduli, untuk mempertanyakan semuanya.

keharuman dan kemerduan

Menulis hanyalah pengejawantahan dari kemampuan membaca, karena tujuan menulis adalah menciptakan bacaan. Sebagian orang tidak menyukai karangan, karena dianggapnya itu adalah tuangan emosi semata, tidak menyimpan pengetahuan dan kebijaksanaan yang bermanfaat. Seperti lagu yang dinyanyikan artis dengan nada merdu, tetapi berlirik busuk dan tak berharga. Berbeda dengan nyanyian, kekuatan sastra terletak pada kata dan makna, pada jiwa, bukan tubuh.

Saturday, December 19, 2020

Tulisan

Dahulu, aku tidak tahu harus kemana saat aku sendiri, ketika rasa kosong menjangkiti dan terasa sakit. Tetapi aku bersyukur beberapa waktu terakhir dalam hidup diberi kesempatan untuk belajar beberapa hal, semua itu memberi ku bantuan untuk dapat mengendalikan. Jika semua cabaran itu datang, aku biasa menuju kepada lembaran-lembaran yang tersimpan. 

Iya... Buku, memang sebuah objek, tetapi bagi ku mereka adalah sosok, dengan karakternya masing-masing. Meski semua itu hanyalah sebuah abstraksi, tetapi bagiku penting untuk hidup ditanah mimpi, karena ujung realitas pun akan terasosiasi, manusia lebih banyak bicara dari hatinya, dari pada dengan suara yang keluar dari mulutnya. Dengan begitu, bukankah manusia lebih sibuk dengan urusan psikologisnya, ketimbang dengan hal tubuh dan diluar dirinya.

Tuesday, December 15, 2020

Nama

"Terkadang terjadi, banyak manusia lupa sama sekali, bahwa yang merendahkan harga dirinya, tiada lain adalah dirinya sendiri. Banyak manusia tidak sadar, sehingga mencari kambing hitam, atas kerusakan yang diperbuat tangannya sendiri, mereka mencari pembenaran, melempar kotorannya sendiri ke belakang punggung orang lain".

Anak kecil yang bernama Putih itu, telah tumbuh menjadi remaja yang tampan, dunia kehidupannya semakin lebar, tempatnya sekarang telah berganti wilayah, keceriaannya menyimpan harapan, untuk dapat berubah kepribadian, dia akan berada di lingkungan yang baru, mengenal manusia-manusia yang  belum dikenal, tak lama waktu dapat menciptakan jalinan teman, sebagiannya menjadi sangat dekat, ia sudah dapat percaya untuk bicara lebih dalam, dari sebelumnya ia selalu menyimpan pembicaraan.

Remang adalah nama kawan terdekatnya, sesuai namanya, ia tidak suka konflik, dia tidak menyukai penghakiman, ia suka keakraban, kelembutan, dan guyonan. Terbukti saat putih dan dia mengendarai sepeda bersama, ketika terdapat pemuda desa bermulut kotor mengendarai motor, pemuda itu menghentak mereka karena tidak memberikan aba-aba melambaikan tangan saat hendak menyeberangi jalan, putih terbawa emosi dengan menjawab "maaf", namun dengan nada kasar pula, putih tahu jarak antara pemuda itu dan diri mereka sama sekali tidak berpengaruh bahaya, tetapi pemuda emosional itu hanya hendak mencari gara-gara, Putih memang tidak suka kekasaran, tetapi ia akan bersikap reflek sebagaimana ia diperlakukan.

Remang hanya diam, tetapi kemudian berkata membela pemuda pemaki tersebut dengan lembut, "kamu memang lupa memberi aba-aba". Putih hanya diam dan agak kesal pada Remang karena tidak mendukung emosinya.

Manusia dapat dengan sangat sombong memikul harga dirinya sendiri, sampai-sampai lupa perbuatannya telah merendahkan orang lain. Beberapa manusia hanya peduli dengan harga dirinya sendiri, melupakan orang lain punya perasaan sama seperti dirinya. Sangat perasa jika harga dirinya dicubit, melupakan harga diri orang lain sedang diinjaknya.


Kenetralan terkadang dianggap sebagai jalan tengah, menyakini antara hitam dan putih memang tiada, tetapi jika dengan cara demikian berharap keuntungan di kedua bilah pihak, ia melupakan bahwa sebenarnya sedang dimangsa di kedua sisi.

Semacam ada tembok yang membatasi jalan pengetahuan dengan kebijaksanaan.
Saat banyak kata yang tak termaknai dengan hati, saat ucapan kasih sayang tiada beda dengan transaksi, segalanya seakan berarah sendiri-sendiri, menunggu detik saling berpaling dan menonjolkan pribadi, saat waktu kesabaran datang menempati.

Tuhan, semoga kehidupan lebih damai.
Aamiin.

Sunday, December 13, 2020

Mendung

Mendung !
Terkadang datang mu seakan membawa kegembiraan, terkadang pula hadir mu menyimpan kemuraman.
Apakah engkau satu ?
atau kalian tak berhingga?
Harus ku panggil engkau atau kalian?
Dapatkah aku melihat kesatuan mu saja?
Tetapi saat jatuh mengapa kau menjadi kalian?
Bahkan saat hanya setetes saja yang menyentuh jalan, kau berpercikan  sehingga berbilang!.

Hendak kau perkenalkan sebagai apa diri mu?.
Penting bagi ku untuk tahu tentang diri mu atau kalian. Agar aku mengetahui status keberadaan mu atau kalian. Agar aku tahu untuk berbisik atau berisik saat mendung datang.

Jika hujan adalah tujuan mu, maka keterpecahan mu adalah perayaan, engkau berasal dari kalian, dan kalian berasal dari engkau, seakan engkau dan kalian adalah satu yang berjarak, dari air terbawa sungai kelautan, dari asap melayang menuju kebersatuan, turun dan kemudian naik, berpisah kemudian bertemu, bukankah selalu begitu, apakah perbedaan mendung dengan diri ku?.

Seakan kau hendak berkata:
"Aku dapat menjadi berapapun yang kau mau, tetapi aku adalah yang diperlukan seluruh makhluk, jangan tanya sosok ku, tetapi pahamilah hakekat ku, karena setiap sosok hujan atau awan, memiliki kesadaran yang sama, berpeluk kemudian bertebar, bertebar kemudian berpeluk, untuk satu tujuan, menjadi tanda bagi mu, tentang adanya rancangan, bagi yang tak percaya, ragu, dan percaya. Bagi yang bermata tapi buta, atau buta tapi berkesadaran.

Semoga selamat, hidup lebih bermakna dan bahagia.
Aamiin

Saturday, December 12, 2020

Niat dan langkah

Aku ingin bertemu untuk bicara, setidaknya sekedar mengirim pesan, tetapi seakan keberadaan ku saat melihat mu, aku ada dalam lembah yang mendongak memandangi mu di atas bukit, apa salahnya dengan diam ku jika itu karena aku merasa tahu diri, apa bodohnya aku jika memang aku merasa belum setingkat, aku melihat mu dengan penuh kesempurnaan, dan ku pandang diri ku dengan banyak kelemahan, pemaksaan diri ku sendiri untuk melangkah menuju mu, ku takut itu adalah kejahatan, keberanian tanpa perhitungan adalah perendahan terhadap diri mu, bagi ku engkau dimuliakan Tuhan, aku tak ingin meredupkan sinar mu, melayukan akar-akar tegak mu, bagi ku engkau berharga, kau pun harus berada dalam kotak yang baik, sebilah pedang kenangan pahlawan tak pantas untuk memotong dahan pepohonan, permata disimpan dalam keadaan aman, sedangkan sesuatu yang biasa memiliki tempat pada umumnya.
Apakah yang harus ku lakukan dengan keadaan ku, seakan niat kuat namun tangan tak sanggup mengikat.

Berikan aku petunjuk Mu Tuhan, bukankah saat menghadap mu segala makhluk berada dalam kuasa Mu, apakah aku sedang menggantungkan kebahagiaan kepada sesuatu yang juga bergantung pada Mu. Bukankah aku sudah melakukan banyak kekonyolan, maka jadikanlah apa yang terjadi pada hidup ku ini, menjadi stabil karena kebenaran Mu, rahmatilah aku dengan kelembutan Mu.
Aamiin.

Thursday, December 10, 2020

Bersama waktu

Apakah yang mengakar dalam hati mu, yang terus mencari kesejukan saat kering meretakkan jiwa mu, yang dari sana tumbuh  kekuatan kelembutan mu, yang dari sana setiap kematian terhidupkan kembali di hati, ku tanya apa itu?. Kau hanya berkata, "teruslah berjalan bersama waktu, jika takdir menghendaki mu, kau akan mendapat jawaban".

Topeng Indah

Kau sendiri tahu, kau telah lelah dengan kepura-puraan, topeng telah membuat wajah mu semakin pucat, rasa sakit telah kau letakkan dalam kerahasiaan sekian lama. Kau berlagak ringan menanggung napas, kau telah memaksa diri untuk tertawa ke hadapan cermin buram itu, tetapi tak perlu melupa bahwa kau memang manusia biasa, dalam kegelapan ini jangan malu dan menangislah, letakkan diri mu dalam kejujuran tentang diri mu sendiri apa adanya. 

Esok saat pagi datang, tetap siapkan topeng di atas meja mu, karena memang begitulah yang seharusnya, kau harus pergi dengan mengenakan topeng itu.

Tuesday, December 1, 2020

Angin Tuhan

Rahmatilah hidup ku dengan kelembutan Mu, sapalah aku dengan kesejukan Mu, naungilah aku dengan kepedulian Mu, temanilah aku dengan kesetiaan Mu, sayangilah aku, Engkau Tuhan, aku meminta kepada Mu.

Angin yang berhembus ini begitu lembut ku rasakan, menyentuh jiwa dengan penuh kesejukan, tak pernah aku meminta ia datang, tetapi kebaikannya selalu memberikan sapaan, seakan tak mau lepas dari kebersamaan, begitu sayang pada ku, tetapi aku masih menolak sadar.

Aku membelakangi angin itu, seakan semua itu kekosongan, tetapi tetap ia selalu berhembus, tak pernah malu untuk bersabar.

Kau adalah angin, dapatkah kau tunjukkan pada ku, dimana tempat istirahat mu, aku ingin memandangi mu saat kau terlelap, mendoakan diri ku sendiri agar selamat.

Menanti Sebuah Mimpi

Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...