Sunday, October 25, 2020

Post-truth

Post-truth adalah fenomena dikaburkannya publik dari fakta-fakta objektif. Itulah zaman kita hidup saat ini, dukungan alat untuk menyampaiakan segala hal tanpa dibatasi aturan, menciptakan tatanan baru kehidupan. 

Teknologi memang barang netral, tergantung pengguna yang memfungsikannya untuk tujuan apa. Masalahnya adalah siapakah yang menguasainya?, sehingga dapat merebut opini masyarakat yang pasif?. 
Kebudayaan literasi yang rendah dan akses referensi yang terbatasi kemampuan, semakin menggugah "pengisi media" itu untuk mempermainkan kebodohan publik.

Panggung yang semula terkesan hanya diisi oleh "pewaris otoriter" berbagai bidang kehidupan yang dimaksud untuk mewujudkan manusia seutuhnya, telah berhadapan dengan "makhluk sejenis" yang tidak selalu sama bawaannya dengan menempati kursi tanpa beda tinggi, yaitu teknologi.

Filter untuk mengolah ledakan informasi seperti upaya membangun benteng dari serangan hoax secara terus-menerus. Tebaran informasi berkemungkinan hoax harus dapat diletakkan pada folder diri yang tepat, jika tidak, dikhawatirkan mengganggu akal sehat sehingga merusak diri sendiri dan mengacaukan masyarakat.

Sebagai manusia yang tak mengerti banyak tentang kompleksitas dunia, bahkan dalam lingkup yang lebih sempit, kita harus memposisikan diri lebih berhati-hati, tidak tertawan oleh arus yang dihidangkan dari berbagai media.
Tetapi satu hal, saat ini, dunia seperti ingin menampilkan dirinya yang berisi berbagai macam wajah, mudah-mudahan tetap waras menghadapi kekuatannya.
Hahahahaha

Tujuan yang keliru

Ketidak-sukaan mu pada "kengawuran ku" telah menjadi rindu untuk terus memupuk kebencian dalam jiwa mu.
Segala kesakitan itu muncul karena tanggapan mu sendiri yang seolah semua ini tentang mu.
Aku katakan "padahal bukan!".

Mereka merasakan, sehingga mengetahui.
Sebagian lainnya berusaha mencari secara filosofis, hasilnya?.

Mempelajari berarti menjadikan-Nya sebagai objek.
Mendekati-Nya berarti memposisikannya sebagai apa adanya yaitu subjek.

Belajar tentang-Nya bukan untuk mengetahui bagaimana, tetapi agar kita dapat dipeluknya, lalu semestinya dari kita itu bagaimana?.

Saturday, October 24, 2020

Tingkat

*Sebuah tuduhan*

Cahaya yang menampakkan segala ini adalah tanda, menundukkan manusia yang pandai "berkaca". Tetapi ironi, mereka yang mengaku telah menelisik lebih teliti dari berbagai sisi, malah berkeyakinan bahwa pengakuan terhadap "kepastian" adalah tanda kepengecutan.

Dua sisi yang seakan saling memelototkan mata, telah merayakan kembali dialog yang selama ini tandus dan beku, terlelap dikurung ketakutan dan kebodohan.

Memang kekuatan kata tak dapat dipungkiri, dari "kata" itulah segala tercipta, bahasa tetap berwujud meskipun dalam diam, sebelum sebuah kata tertulis dan terucap, dia bagaikan aliran roh yang berkesadaran penuh.

Pembahasan tentang mereka yang berdalih atas nama "Tuhan", adalah karena tak berkeinginan lain sebagai alasan. Keamanan lebih memenuhi keinginan dari pada penerimaan terhadap kesalahan. Lebih mudah menyalahkan dibanding berbuat pengakuan.

Kerinduan pada "Yang Mutlak", mencerminkan balitanya jiwa yang menolak realitas dunia, kepastian adalah senjata manusia untuk mendapat kemenangan dan menerima kekalahan secara kerdil.

Kebebasan adalah kata yang sangat ditakuti oleh kalangan manusia yang berjiwa budak. Mereka tak memiliki keberanian untuk bertarung dengan ketidak-pastian. Mereka menghindari  angin yang dihembuskan bumi, khawatir lebih sejuk dibanding kipas angin murahan yang ia peroleh dari ucapan sosok figuran.

Naif juga, saat dunia "kadung" terisi ratusan jenih tumbuhan, pembicaraan hanya terbatas tentang mawar dan rumput. Maka bijaksana mereka yang berkata, "kebebasan hanya dapat diterima oleh nampan kelembutan". Saat egoisme berkedok "Yang Mutlak" berada dalam ucapan, saat itu pula ronta kebenaran terus berlangsung dalam dialektika kelucuan manusia, dinamika yang terjadi bahkan dalam sekala detik, bermain-main dalam bentuk "potensi" di setiap arus percabangan sungai.

Pertobatan sejati adalah saat jiwa mengakui adanya tangga lain yang ternyata baru saja dinaiki, setiap kenaikan satu derajat adalah peningkatan pengakuan kelemahan diri, berapa kali bertobat dalam satu hari?.

Bersambung...

Pemangsa

Sejarah mengajari kita untuk mempelajari kemungkinan alasan sebuah kejadian, tidak harus tegas, bukan selalu jawaban pilihan ganda, tetapi mendorong kerendah-hatian melalui metodologi penelusuran yang baik.

Keadaan sosial manusia, terkadang mencoba menggali kedalaman motif pemeran, melalui biji-biji rantai yang berserak, tidak harus jelas untuk mengetahui mana awal mana akhir, penentuan yang hitam atau putih, tetapi bagaimana lingkaran probabilitas penyatuan rantai itu dapat menggerakkan kehidupan dengan lebih bijaksana.

Sejarah akan terus menjadi catatan, untuk menimbang masa depan, bukan sebagai dasar penentu, tetapi sebagai bahan ter-adu.

Seperti keinginan mu diperlakukan, jika kamu ingin disayangi, maka kamu tidak suka ada orang yang dibenci.
Jika kamu ingin kenyang, engkau tidak suka ada orang lain lapar.
Jika kamu ingin bahagia, maka kamu pun akan mengusahakan orang lain juga bahagia.

Tetapi beberapa kepentingan manusia dalam sejarah terkadang telah menjadikan bertolak belakang dengan refleksi dirinya sendiri, mereka mengejar sejahtera dengan merugikan orang lain, mereka ingin pandai dengan memperdayai orang awam, mereka ingin menikmati surga dengan memasukkan yang lain ke neraka. 

Cermin-cermin monyet yang kelaparan materi, intelektual, emosi, dan spiritual.
Binatang buas yang bercita-cita menguasai dunia dan akhirat, cakar harta, kulit keturunan, tanduk kepandaian, dan taring "iman" membuat jebakan untuk menjatuhkan yang tidak sesuai dengan kepentingan. Omnivora pemuja gagasan pribadi eksklusif!.

Friday, October 23, 2020

Sore tadi

Aku tak pernah hendak memangkas kebebasan sebuah pohon, tetapi jalanan memang begitu sempit, pikulan ku tak cukup ringan melewatinya.
Kepada napas yang telah ku hembuskan, ku larang kau berlari sembarangan, kau punya janji yang harus diingat, kau adalah saksi atas debu yang menyelimuti dedauan, tempat yang dibawahnya aku berlindung, dari hujan sore tadi.

Istirahat malam

Ada yang tak ku sadari, ada pula yang tak kau mengerti. Kau membicarakan orang lain, dengan cermin keadaan pribadi mu sendiri. Bukankah itu bodoh dan tidak adil?.
Api yang menyala tak pantas mencerca air yang tergenang. Api merambat dengan angin dan air mengalir dengan perbedaan ketinggian tempat. Segala sesuatu memiliki alasan berdasarkan keadaan dirinya masing-masing.

Penghinaan mu pada kegagalan seseorang, bukanlah penyimpulan dari seluruh hidupnya, ratusan dimensi yang menyusun kehidupan, beberapa mungkin dalam gelap, tetapi sisi lainnya dalam terang.

Cahaya lilin memang tak mampu menerangi luas pandangan mu, tetapi ia mampu mengistirahatkan buas pencarian mu yang berkecambuk resah. Ada saatnya, jiwa yang kelelahan memburu, membutuhkan malam yang lembut, gelap yang menutup cahaya, sumber henti kerja indra.

Selamat malam.

Thursday, October 22, 2020

Mati santai

Pandangan mu pada langit hitam yang berbintang dan berbulan, telah mengetuk hati mu yang selama ini keras bagai karang yang meskipun berada dalam lautan.
Apakah cinta mu pada kedamaian, terkalahkan oleh sifat kehewanan.

Ku lihat seeokor anak ayam mati kaku dalam keadaan duduk tenang. Seakan kematian membuatnya bagai pahatan yang terposisikan. Seperti tiada apapun yang terjadi, hal biasa bahwa subuh akan disusul pagi.

Bertumbuh

Seperti perut yang tak pernah kau tahu isinya, nasi dan udara sama-sama dapat membuatnya mengembang. Persis seperti pikiran mu itu, sulut kekenyangan dan kepulasan mungkin telah membakar otak mu, gas itu memang seperti tahanan yang berontak, tetapi demi menghargai manusia dan menghindari rasa malu, kau berhasil menahannya, kau tidak banyak menceritakan tentang sampai kapan kau akan kuat, kau hanya terus diam dalam ketangguhan, hingga pada situasi yang tepat, kau akan merasa sungguh bersyukur, kau melepas segala keterikatan, dan kau semakin indah, tersenyum, dan tertawa. Hahaahahaha

Lihat dari

Duhai burung kecil, bagaimana kabar mu, apakah Tuhan telah menjumpai mu?.
Atau apakah kau masih seperti dulu, berjuang?, untuk hal yang sama?. 

Saat kehidupan adalah takdir yang harus dilanjutkan dan diselesaikan oleh mu, manusia malah sebaliknya, bersikut-sikutan merealisasikan kepentingannya masing-masing. Apakah itu kekayaan, keindahan, percintaan. pengetahuan, kehormatan dan lainnya.
Apakah karena sudah terlalu sadar atau hanya bertambah  banyak lupa?.

Duhai burung kecil, keindahan dan perjuangan mu terkadang mengisi hati saat gundah. Kau adalah Guru yang tak pernah berkata. Darah yang mengalir dan tulang-tulang mu yang patah, adalah pahatan yang tergores dalam, untuk memantik nyala hidup ku kembali.

Apakah sampai saat ini kau sendiri?, seperti dulu ku lihat sendiri. Lincah dan indah mu saat berjalan, tak ku sadari adalah karena engkau tak mampu lagi terbang.
Andai engkau meminta kepada ku, tetapi kau adalah lebih dari sekedar segenggam kepalan tangan. Keperkasaan dan ketegaran mu telah menipu penduduk dunia. Nyanyian mu yang merdu adalah simbol kedamaian, tanpa manusia tahu apa yang kau simpan di balik sayap mu, bahkan suara mu.

Tiada air mata saat ku lihat dari mata mu, meski peluru dari senapan pemburu telah menembus tubuh mu.
Tiada teriakan dari paruh mu, meski kau kesakitan dan tak lagi bisa terbang. Ohhh burung kecil, manakah keluarga mu?, manakah sahabat mu?.
Apakah mereka semua lari tak ingin mati menemani.
Tak ingin bersama sunyi dalam kesetiaan yang membosankan.
Atau apakah disetiap diri dari kalian punya iman, bahwa Pencipta adalah sandaran dalam pertolongan dan kasih sayang, kalian menyerahkan semua kepada yang segala urusan berakhir kepadanya.
Apakah itu yang engkau dan mereka percaya?.

Ohhh burung kecil, semoga Tuhan semakin merahmati mu.

Terkadang aku berfikir, apakah tekanan-tekanan yang membuat hidup manusia penuh pertengkaran?, apakah akar yang menumbuhkan kebencian dan menjatuhkan kesedihan?. Apakah seekor burung juga akan mematikan burung lainnya? Seperti manusia?. Hahahahaha

Ohh betapa burung kecil itu membuat ku tahu diri, manusia memperlakukan hewan seakan makhluk rendahan, seakan benda mati yang tak tahu kesakitan.

Dua anak kucing dari induk yang berbeda pada awal waktu adalah sebagai musuh, tetapi atap yang sama telah membuat mereka berdua saling mengerti, kasih sayang tumbuh di antara mereka, saudara yang dipersatukan takdir, setidaknya rasa kasihan saat salah satunya terjatuh.

Dengan cara apa aku ini melebihkan diri dari sisi burung kecil dan kedua kucing itu, ah waktunya istirahat dari mengaca di atas ember air bekas cucian tangan, kenyang.

Sudut

Inilah aku dan itulah mereka.

Mari kita semua membuka hati, meletakkan bongkahan yang tersembunyi, ke hadapan Sang Ilahi.

Apakah pantas seorang diri, kepada Hakim Tertinggi untuk mengadili, setiap hamba  semuanya yang dikasihi.

Siapakah yang berani, meminta semua kejujuran, apa yang dibisikkan hati, semua lepas terperdengarkan.

Apakah yang diinginkan dari segala hubungan, jika kesadaran tentang kefanaan telah tertancap dalam. Apakah yang masih ingin diperjuangkan, jika yang dituju berada dalam teka-teki yang malam.

Teriakan mu pada hunusan pedang, nyaring mengusik kedamaian binatang. Persaudaraan dan permusuhan di bumi, bagai bunga dan rumput yang sama-sama subur.

Apakah perbedaan antara bunga dan rumput, bunga memberi mu rasa keindahan dan kehormatan, tetapi rumput seakan tak berguna bagi mu, kau cabik-cabik, "bras bres bras bres", sambil mengeluh kau lemparkan pada ternak mu, kau lupa, dari rumput itulah ternak mu makan, kau berdagang, kau dapat makan dan menyisihkan uang. 

Dari rumput kau dapat membeli bunga, dari bunga pula kau dapat memperoleh rumput.

Lalu kau masih berpura-pura bodoh, tetap saja kau tak ingin kalah dihadapan buih yang akan lenyap.

Saturday, October 10, 2020

Tidak suka

Jangan kau merasa iri dengki pada mereka yang kau lihat seakan bahagia, banyak tertawa, seakan hidup mudah dan menyenangkan. Bersyukurlah, karena mungkin saja engkau tidak lebih suka kalau mereka menampakkan kejujuran kepedihannya, kenyataannya mungkin saja mereka lebih banyak menangis dari pada diri mu, hanya saja yang kau lihat adalah penampakan luarnya, bukan hatinya, bahagia itu di sini, bukan di sana.

Nurani

Seharusnya engkau malu, bukan menghina pada mereka yang sedang sedih dan menderita. Sepatutnya engkau merendahkan suara kegembiraan, tetapi engkau malah tertawa, menari, dan berpesta.
Engkau buta atau memang karena sangat bodoh, engkau tuli atau karena tak punya hati.
Seekor kucing akan belajar menghargai sahabatnya, saat ada tangis dia bergegas hendak menolongnya.
Tetapi engkau!, seenaknya saja melempar batu ke belakang kepala manusia.
Aku punya belas kasih, tetapi aku punya keberanian, aku tak pernah takut berhadapan dengan manusia.

Wednesday, October 7, 2020

Hidangan

Seperti cara mu dalam penasaran dan kecurigaan, tetapi aku hanya melihat, mendengar, dan tersenyum.
Hitam yang bagi mu kegelapan, adalah suci yang sengaja aku bingkai, agar segala yang datang adalah dengan kemurnian. Putih yang bagi mu kesyukuran, adalah nampan untuk menerima kebaikan mu sendiri, yang akan aku hidangkan, untuk menambah senyuman mu.

Kerja

Kata kerja operasional mungkin saja telah menggembosi kebermaknaan pendidikan hidup yang sesungguhnya. Bahwa kebenaran hidup tidak dapat diukur melalui instrumen tertentu, tetapi melalui gejala-gejala yang bersifat lebih abstrak, namun apa daya, kehidupan berlomba-lomba mengisi kolom penilaian yang berupa huruf dan angka.

Membaca

Susunan tulisan itu tidak mampu menyajikan kebenaran ekspresif, saat cerita sedih tergores, kertas akan tetap kering, saat membahas tentang cahaya, tinta akan tetap hitam, isinya hanya menguji pengolahan fikiran dan hati, penelusuran berbagai sudut pandang pemaknaan, pengayaan imaginasi, dan penerimaan subjektif pun akan memupuk perbedaan, karena itulah tidak ada yang benar-benar tahu tujuan kecuali pengarangnya sendiri.

Seperti tujuan hidup manusia yang "diberi tahu Tuhan" saja, manusia akan mengerti. Selama Dia diam, seribu dugaan manusia tak bisa memenuhi keyakinan.

Menulis adalah satu dari beberapa ruang sunyi ku, tentu memang tidak sesuai dengan unsur-unsur formalnya, semua ini hanya apa yang ku sebut  "versi ku", "kemerdekaan ku".

Untuk apa mengikuti jalan raya, saat melalui jalan setapak tetap sampai pada tujuan. Mengikuti ramai kesamaan mulut manusia, terkadang malah mati terinjak kerumunannya.

Tulisan tak akan mampu mengatur kehidupan manusia seluruhnya.
Tetapi akal dan hati akan terus berperan, menimbang segala catatan dan membijaksanai keputusan.

Bukan watak budak yang selalu mengacu kata ini dan itu. Setiap orang berhak berpedoman pada kebenaran pribadinya masing-masing, jika itu baik semoga angin menebarkan kedamaiannya, jika itu kebusukan, biarlah keberanian setiap makhluk terlepas dari pelabuhannya.

Tuesday, October 6, 2020

Ayam vs Manusia

Seeokor ayam yang anaknya kamu ganggu, tak peduli bahwa kamu manusia, dia akan tetap melawan mu, meskipun sebenar dia tidak berdaya. 

Tetapi saat kamu tidak beruntung, mata mu bisa buta "tercucuk" paruhnya. Hahahahaha

Semua makhluk pemberani, setidaknya saat disakiti.

Jaga

Segala jenis tawa dan tangis yang bercita rasa beda itu, mungkin saja adalah kepingan puzzle yang turun dari langit, agar kita susun formulasinya dengan sabar, untuk membentuk tangga bermakna ke arah kebenaran. Mungkin saja pelangi itu adalah peringatan, jangan sampai terlekat pada kefanaan, agar tidak tertipu mata, oleh rayuan fatamorgana, sehingga kita hanya semakin lelah, mengejar sesuatu yang ternyata telah punah.

Sunday, October 4, 2020

Motto

Kalau masih diniati belajar, sepertinya akan lebih teringankan.
Kalau masih berkeyakinan belum waktunya, sepertinya akan tambah sabar.

Untuk besok, berarti nanti.
*Sadar benar sabar*

Saturday, October 3, 2020

sesaku

Air bersih yang terjaga itu, telah beberapa hari disimpan manusia, tetapi air sungai yang kotor itu tertawa dan berkata "Aku memang tak diinginkan, tetapi aku tidak akan berakhir menjadi urin!." hahahahaha.
Biarlah sesuatu itu kau sebut dengan apapun, tetapi bagi ku, aku tetaplah aku!.
Keras sudah rasa hati mengetahui kelembutan terpanggang matahari.
Aku sudah berserah, jika hari esok semakin berani, aku akan seperti sekarang, tidak ada yang bisa aku lakukan, menerima, begitu saja, dirasa, titik.

Mencari payung untuk menutup segala ruang dari kobaran hujan, seperti hujan itu sendiri yang tak pernah aku tahu, untuk apa aku melakukan semua itu, memang tidak ada kata sia-sia, aku hanya mencoba bercanda, hahahaha.

Jika belum sampai, masih ada nyawa di saku badan, berhati-hatilah, semoga selamat, engkau bahagia!.

Burung kecil yang cantik

Aku ingin bercerita, tentang burung kecil yang terluka.

Dahulu, saat pagi menebarkan kesegaran, aku begitu bersemangat menyambut sapaannya, bukan seperti sekarang, membuka mata adalah melihat tanya, apa yang harus dilakukan. Kosong!, hahahaha.

Dahulu, aku suka rindu melihat tanaman disana, meski semua itu bukan milik ku, tetapi aku jatuh cinta pada cantik hijaunya. Sebelum kewibawaan matahari memuncak saat berjalan naik ke ujung kepala, langkah ku begitu ringan beriring senyuman, meski bukan milik ku, aku suka melihat pemiliknya bahagia.

Tak sengaja, aku melihat burung kecil cantik, berjalan entah mencari apa, tidak seperti biasanya. Aku fikir itu adalah keberuntungan ku, aku akan menangkapnya, tetapi tanpa bertanya untuk apa.

Singkat cerita, aku telah menangkapnya, bahagia sekali, tanpa sadar seakan aku adalah hewan buas yang berhasil menerkam mangsanya, tetapi tanpa berniat sok hewani, aku tak pernah bercita-cita memiliki seekor burung, aku tidak suka sangkar. Burung kecil itu masih ada digenggaman, berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari genggaman ku, tentu perbuatannya sia-sia, burung kecil itu tetap tak berdaya.

Ku tatap matanya, mencoba melihat ekspresinya, tetap saja, tiada air mata, tiada tanda sedih, tiada tanda takut, hanya tekanan meronta hendak lepas.

Beberapa saat kemudian, ada yang terasa hangat menyentuh kulit ku, ku kira dia baru saja mengotori ku, ku pindahkan dia dari kanan ke kiri, ternyata darah!, kehangatan itu dari darah. Ku balik tubuhnya, ternyata, ku lihat patah tulang sayapnya, tatanan tulang yang tak tersambung, terlihat banyak darah dibalik sayap cantik yang ku genggam erat itu!.

Ternyata tetap saja manusia seperti ku, yang mengaku memiliki rasa kasih di hatinya, tak mau mengantarkan burung kecil itu ke dokter, saat itu aku merasa, ternyata hanya sebatas ini kepedulian ku terhadap sesama, aku berbuat pilih kasih terhadap sesama makhluk.

Aku tak mau berfikir berlebihan, atau karena aku tak punya kepedulian. Tetapi tetap saja, ada rasa ingin menyembuhkan yang tak bertemu kenyataan.

Aku lelah mendengar semua itu, "Kamu buruk!, atau kamu benar-benar tak mampu!"
Aku tak tahu, aku melepasnya, hanya membaca doa dan sholawat, agar dia tidak merasa sakit lagi, dapat terbang tinggi, meramaikan langit, menyadarkan kelemahan manusia dan kebesaran Tuhannya.

Biji

Jika kamu sayang, kamu akan menanam. Jika kamu hanya ingin memetik, berarti kamu lapar.

Menanti Sebuah Mimpi

Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...