Tuesday, March 17, 2020

kau

Mengapa mulut mu begitu kaku?

Aku: 
Aku tahu, aku bukanlah diri mu, tak pantas bagi ku memberikan alasan tentang mengapa kau tak banyak berbicara pada orang lain, praduka mereka, bahkan diri ku sendiri terkadang mengganjal batin ku, tetapi jujur, aku sangat ingin tahu.

Dia: 
Aku bodoh dan tak pandai berbicara, lagi pula rasa ingin tahu, curiga, dan penyelidikan mu itulah yang menyebabkan persahabatan kita dapat terganggu. Seharusnya kau sudah tahu, jika aku banyak berbicara pada mu, bukankah itu artinya engkau spesial bagi ku?, apakah kau merasa bahwa aku adalah orang buangan yang kebetulan berkawan dengan mu?.

Aku: 
Baiklah, memang jika seseorang terlalu banyak tahu tentang orang lain, seseorang malah dapat enggan untuk bersama, karena sahabat bagi kita dapat berarti musuh bagi orang lain. Malaikat bagi kita, di lain tempat dapat menjadi setan bagi orang lain. Aku yakin diri ku sendiri tak bebas dari topeng. Semua orang menggunakan topeng, tetapi bukan hanya untuk menyembunyikan keburukan, juga untuk menyelamatkan orang lain.

Aku:
Aku ada dalam kehidupan ku, kau adalah orang yang ku kasihi, tetapi kau memiliki kehidupan mu sendiri juga. Kita belum pernah dipertemukan dalam kata senasib, sehingga batu yang kita lempar tak pernah sesuara.

No comments:

Post a Comment

Menanti Sebuah Mimpi

Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...