Saturday, March 28, 2020

Jiwa Raga

Tubuh ku biasa, namun jiwa ku perkasa!, hantaman tombak mu itu hanya mengoyak tubuh ku, namun jiwa ku semakin merdeka!.
Sedangkan Tubuh mu perkasa, namun jiwa mu selemah tubuh balita. Sebutir ludah kata dari ku, sudah membuat mu sekering daun yang tertampar angin!.

Lautan

Bukankah api itu ada, namun tak dapat kau genggam?. Apa yang kau hirup apa yang kau hembuskan?, sesuatu yang dapat mengisi namun tak mampu kau pandang. Bukankah Tuhan pemilik segala kekuasaan?.
Padamkan dendam, kebencian, dan kekecewaan dengan pelan-pelan, dalam seketika, seribu kalimat pun tak mampu menghabisi hati yang hitam lebam. Bahkan bara merah panas tetap menyala dalam lautan. Bukankah sudah lelah diri menahan bisikan, angin yang datang seperti tusukan?. Bersabarlah menanti kesembuhan, bila belum juga redam, biarlah semua berlalu di dalam perkuburan.
Mulai sekarang, bagaimana diri sendiri memandang?, ke arah kaca saat kau ada di hadapan. Bukankah terhadap diri mu sendiri itu kau juga sayang?.

Friday, March 27, 2020

Muda Tua

Seperti seorang tua yang baru dilahirkan kesadaran, ia menunduk malu pada waktu, dalam lamunan menghitung jarak perkuburan, dirematnya sekelumit masa lalu.

Pemuda tampan berselimut sepi, dingin gemetar dada bersama hampa, mengukir angan dengan hati, tangan layu bergelantungan paksa.


Tempat

Kalau batu tak layak di pelataran merah, angkatlah dan letakkan di tempat yang semestinya. Ya Tuhan, Jadikanlah selaras apa kehendak mu menjadi bahagia ku serta seluruh manusia.

Arah

Apa yang menghalangi kita untuk menyebarkan sesuatu yang baik?, lalu apa tujuannya pula saat menyebarkan sesuatu yang buruk?.

Terkadang kita lelah belajar kebenaran, tetapi sama sekali tidak menjadi kesadaran dan menggunakannya sebagai petunjuk.

Bau apa itu?

Kita harus bersabar terhadap nasehat, peringatan, dan penjagaan dari mereka yang  peduli terhadap kebaikan serta keselamatan kita. Apakah pernyataan itu salah?

Selama ini kita mendengar "bersabarlah dari orang yang berniat buruk pada mu!", tetapi sekarang seakan-akan suara itu berubah, "bersabarlah dari kebaikan dan kepedulian yang di tujukan pada mu!". Mengapa?, karena sudah terlalu parahnya kelalaian manusia. Mengurusi keburukan menjadi persahabatan, tetapi dengan kebaikan seperti permusuhan.

Walau apa yang kita terima dari mereka sedikit membuat hati sakit, tetapi bukankah kesakitan itu biasanya terasa karena apa yang ada tidak sesuai dengan gambaran kita, keluarga kita, masyarakat kita, serta lingkungan?. Tidak perlu membenci para pengingat kebaikan, jika kurang sesuai dan kurang setuju, maka cukup diam dan simpanlah ketidak-sukaan itu dalam hati. Mungkin saja apa yang membuat kita memberontak, suatu saat akan berubah menjadi pengakuan kalau itu memang sesuatu yang dalam keadaan tertentu diperlukan.

Mereka yang kemana-mana membawa bangkai, awalnya memang akan menarik manusia mendekat karena rasa penasaran, "bau busuk apa itu?", tetapi setelah lama berlangsung kemudian,  mereka akan sadar dan menjauh dari pembawa bangkai itu dan berkata, "bukan bangkainya yang busuk, tetapi mulutnyalah pemamah bangkai".
"Mari kita semua pergi, sebelum kita menjadi bangkai di mulutnya!."

Adakah yang dapat dipetik dari sedikit karangan ini?.

Tuesday, March 24, 2020

Akhirat

Saat hukum dapat diperjual-belikan, seorang penjahat terhebat akan aman dari siksaan. Penjahat mengambil keuntungan, semua untuk keegoisan, kau tak akan mampu menjelaskan tentang kerugian, sebelum kau mampu membuatnya beriman.
Bagaimana dapat kau jelaskan suatu keadilan dari terbakar bunuhnya ribuan orang dengan sekali kematian?.
Maka tiadalah setelah kebenaran melainkan kebatilan. 

Monday, March 23, 2020

Erosi

Jika ingin mengubah aliran sungai, maka harus mengubah bentuk dunia.
Jika hati yang tak mampu itu terus menyala-nyala, bersabarlah untuk menunggu kematian saja.
Ingat, dunia sementara.

Tatapan

Seorang pengembara yang dalam perjalanan menelusuri jejak-jejak suci, tidak akan banyak menolehkan muka untuk berhenti di awal langkah. Mereka akan menutup telinga dari kobaran rayuan semu, memalingkan mata dari lirikan rubah. Mereka sadar bahwa titik acuan bermula dari kejatuhan keganasan yang membanting remukkan kehidupan.

tetes

Aku telah menguap menjadi udara yang kau kibaskan, kini aku adalah air sungai yang menuju lautan.
Duhai mentari pagi, kasih mu gelap bagi mata yang terkatup, tetapi jika mata menyala, kehadiran mu adalah mangsa.
Sekarang, apakah malam mengusir siang?. Jangan kau berkata begitu, air mata mu harus kering, tumpahkanlah tangisan mu, jangan kau tunjukkan sayu pada kesegaran embun yang terjatuh dari daun esok hari.

Tanya

Jangan kau tanya tentang diri ku dan diri mereka, aku ada dalam waktu ku, mereka juga ada pada tempat mereka.
Semua dari kita selalu dalam harap kebaikan, tetapi kita terdinding dalam perbedaan dan kepentingan.
Perjalanannku yang sunyi tidak ku rasa sebagai sepi, karena sendiri dalam kebersamaan pun adalah kenyataan.

dimana uluran senyum mu

Mengapa engkau tak menghitung jumlah rambut di kepala mu sebelum menghitung jumlah tetesan rintik air hujan?. Apakah engkau merasa heran terhadap mereka sedangkan engkau melupakan diri mu sendiri?. Ketahuilah, jika menerima diri sendiri engkau tak mampu, bagaimana mungkin kau akan menerima kekurangan orang lain, sedangkan tidak ada manusia sempurna, kesempurnaan adalah milik Tuhan.

rumput

Saat akar ku tercerabut, batang dan dedaunan ku akan menjadi pupuk.

udara

Dimanakah engkau wahai api, mengapa kau tak sanggup membakar kekeringan ini?. 
Apakah belum begitu gersang tulang-tulang ku, apakah masih ada hujan pengharapan di kemudian hari?.
Kumpulan waktu telah menambah usia, mata masih menyala namun ruang begitu sempit terasa. Lindungilah aku dari awan yang membawa kepedihan, hapuskanlah segala warna kesakitan. Bebaskan pandangan ku dari dinding-dinding hukuman.

Tuesday, March 17, 2020

satu

Apakah yang dapat menampung segala kecenderungan mu pada keindahan-keindahan itu?, Kematianlah yang dapat meletakkannya. Selama mata mu terbuka, adakah pagar batas dunia?.
Bukankah kau tahu?, selain keindahannya, tanah apa yang dapat meresapkan air mata mu?. 
Ada mata yang berbinar palsu, kemudian mengering dan layu. Sebutir Biji ada di tengah daging buah. Apa yang manis akan lenyap, setitik kesadaran lah yang akan terus menumbuhkan keabadian.
Lihatlah pada kata yang memburu kupu-kupu!. Bagaimana dengan bunga yang bermadu?. Saat mata yang terpejam melupakan detak waktu yang terus berjalan, ku terima setetes hembusan dengan penuh kesyukuran.
Mata ku telah melihat warna, tetapi hati ku terus bertanya-tanya.

kau

Mengapa mulut mu begitu kaku?

Aku: 
Aku tahu, aku bukanlah diri mu, tak pantas bagi ku memberikan alasan tentang mengapa kau tak banyak berbicara pada orang lain, praduka mereka, bahkan diri ku sendiri terkadang mengganjal batin ku, tetapi jujur, aku sangat ingin tahu.

Dia: 
Aku bodoh dan tak pandai berbicara, lagi pula rasa ingin tahu, curiga, dan penyelidikan mu itulah yang menyebabkan persahabatan kita dapat terganggu. Seharusnya kau sudah tahu, jika aku banyak berbicara pada mu, bukankah itu artinya engkau spesial bagi ku?, apakah kau merasa bahwa aku adalah orang buangan yang kebetulan berkawan dengan mu?.

Aku: 
Baiklah, memang jika seseorang terlalu banyak tahu tentang orang lain, seseorang malah dapat enggan untuk bersama, karena sahabat bagi kita dapat berarti musuh bagi orang lain. Malaikat bagi kita, di lain tempat dapat menjadi setan bagi orang lain. Aku yakin diri ku sendiri tak bebas dari topeng. Semua orang menggunakan topeng, tetapi bukan hanya untuk menyembunyikan keburukan, juga untuk menyelamatkan orang lain.

Aku:
Aku ada dalam kehidupan ku, kau adalah orang yang ku kasihi, tetapi kau memiliki kehidupan mu sendiri juga. Kita belum pernah dipertemukan dalam kata senasib, sehingga batu yang kita lempar tak pernah sesuara.

tepi

Disana, di tepi sungai itu, bukankah pernah kau lemparkan batu pada semak-semak yang mengering?. Lihatlah, bukankah batu itu tertutup dan tak mampu lagi kau lihat?. Bukankah kau tak menyeberangi sungai itu untuk mencari batu yang telah kau lemparkan?. Untuk apa batu bersembunyi, tetapi apa yang ada dalam hati mu biarlah Tuhan yang tahu, suatu saat aku akan menyapa mu dengan senyuman yang terlembut, karena kelembutan kapas akan terbang bersama angin, aku akan terus berusaha menjadi mampu berenang dalam udara.

Sunday, March 1, 2020

kendali pikiran

Sudah sampai aku menunggu matahari terbenam, dari awal terbitnya aku telah bertahan, hanya untuk menjeda pola kebiasaan, semua itu sesuatu yang ringan.
Tetapi coba kau halangi kilatan pikiran yang tak menentu itu, mampukah kau menghindar?.

perfectsionis

Terlalu ingin membawa macam-macam, atau membawa yang terbaik,  padahal pergi hanya untuk ujian, karena semua itu apa yang lebih berharga akan hilang, kita pun akan ketinggalan kapal, tetapi teman baik akan terus mengusahakan yang terbaik buat kita. 
Terlalu banyak pilihan, hingga yang terbaik hilang, dan yang terbawa adalah hal biasa. Intinya hanya yang perlu, teliti terhadap apa yang sudah kita miliki, tidak tergesa-gesa. Seperti orang memilih makanan, memilih baju, lama sekali, terkadang mengakibatkan keburukan banyak terjadi.

Menanti Sebuah Mimpi

Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...