Apalagi dengan lintasan kilat-kilat cahaya yang mengundang ketakutan, sendirian menaburkan kekosongan pada lautan sepanjang pandangan, asap dipaksa dusta dan api di perut bumi tetap menyala.
Friday, August 30, 2019
Friday, August 23, 2019
Pindah
Aku ingin pergi, ingin aku menatap indahnya senyuman pagi, sejuknya malam dalam ramai maupun sendiri, aku ingin pergi. Kemanakah langkah ku tertuju jika waktu telah memanggil ku?, jika keadaan telah menasehati ku dengan lembut kepada tempat yang ku rindu, akankah aku akan menemui diri ku seperti itu?. Tahap demi tahap hidup telah aku jalani, sampai disini telah melewati batas bayangan, beberapa tak ada yang sama sekali terimaginasi. Aku bahagia telah pantas dengan rupa dan usia, dan lebih bahagia lagi jika lebih muda, aku tertawa. Dahulu waktu mengajari ku untuk segera menerima dewasa, dan ternyata terhadap lidah manusia harus waspada, mereka punya pikiran yang disembunyikan kepala, tapi mulutnya bebas buas melahap tanpa merasai makna. Mereka punya hati hanya untuk peduli pada diri sendiri. Setelah beberapa waktu berlalu, 23 tahun berjalan-jalan bersama kaki, kepala, dan hati. Beberapa mengajari, tanpa memenuhi. Memberitahu jalan, tanpa mau mengantarkan. Memberi pesan, kemudian membiarkan. Menjalani... Menjalani... Itulah kata yang masih dapat aku katakan. Aku tak bisa berbohong dengan diri ku sendiri, dan ku rasa Tuhan juga tahu, tapi aku tak tahu bagaimana dia akan memperlakukan ku. Aku tak paham bagaimana Tuhan pada ku.
Thursday, August 22, 2019
Nisan
Ada apa dengan mu?, apa yang terjadi?, mengapa warna wajah mu bersedih?, mengapa bibir mu sangat kering?, mengapa nafas mu begitu kau hayati?, mengapa pandangan mu enggan untuk menyala?, sebenarnya apa yang terjadi?, aku tak tahu dengan apa yang membuat mu seperti itu, mengapa kau tutup diri mu dari pandangan langit, mengapa kau terus menyendiri?. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari jiwa yang telah hanyut terbawa arus kekeringan. Dahaga yang tak kunjung tersegarkan oleh waktu, memang apakah yang seharusnya dilakukan?. Menerima semua ini, atau menenggelamkan diri dibawah tanah, seperti kata pepatah tubuh mu tak akan lagi terlihat, hanya nama mu yang masih dikenang, setidaknya oleh batu nisan.
Monday, August 19, 2019
Kau pun?
Ku tahu bahwa semuanya milik mu, untuk apa aku meminta kepada mu, jika pada saatnya kau juga akan mengambilnya dari pada ku ?. Saat aku tetap ingin memiliki diri, aku bertanya "lalu yang manakah diri ku?". Jika aku bukanlah apapun, untuk apa aku melakukan sesuatu?. Jika engkau melihat apa yang ku lakukan, mendengar suara lidah dan hati ku?, lalu bukankah engkau merasakan apa yang ada dalam jiwa ku?. Jika aku sakit, kau tahu rasa sakitnya diri ku?, jika aku tertawa engkau pun tahu rasa bahagia ku?. Ketahuilah wahai engkau yang aku cari, aku... Aku... Aku tak tahu... Engkau... Siapa... Bagi ku... Dalam hidup ku... Dalam keberadaan rasa ku. Kau tak diketahui, kau hanya bisa diakui?. Lalu seharusnya apa yang aku cari?. Jejak mu?. Lalu tujuan ku?. Keyakinan?, lenyap?, atau... Pertemuan dalam kebahagiaan abadi?.
Baca
Kita tak selalu punya waktu untuk membaca hal-hal yang tak perlu, kita dituntut untuk memahami hal-hal dengan prioritas. Sudah banyak waktu yang terbuang tanpa fokus pada hal-hal yang utama dalam kehidupan dan makna.
Sunday, August 11, 2019
Apakah
Manusia menghirup nafas dari sesuatu yang tak terlihat, beberapa menit tanpa udara manusia akan sekarat. Maka sesuatu yang paling berharga adalah yang tak terlihat, bukan sesuatu yang ku simpan di saku baju, tapi yang ada dalam hati ku. Bahagia itu ada dalam perasaan hati, bukan dalam genggaman tangan. Tuhan pun tak terlihat oleh mata, namun ditangkap oleh bagian diri kita yang tak terlihat bukan?
Saturday, August 10, 2019
Memang?
Karena engkau kuat, bukan berarti engkau tak merasakan sakit, namun karena engkau masih mampu menahan kesakitan itu, dan berupaya menjalani apa yang ada dalam kehidupan. Seseorang yang tak pernah merasakan sakit berarti bukan manusia, mungkin saja wujud manusia tapi hakekatnya benda mati, sesuatu yang dibilas dengan air mata berarti sesuatu itu lebih suci. Kau bisa berkaca dan tanyakan untuk apa air mata itu terjatuh?, untuk menunjukkan hakekat apa yang kau simpan apa adanya.
Friday, August 9, 2019
Kapan
Seseorang meminta hidup lebih lama, dan aku merasa ingin mati sebelum pernah mengangkat senjata, untuk apa aku angkat tombak ku pada manusia, saat jiwa ku kering hampa mati rasa. Harga dari kekuatan ku adalah cinta, oleh sebab itu tak ada yang pantas untuk ku perjuangkan tanpanya. Untuk apa aku terus memeras mata, untuk apa segala tanggungan hati ini, untuk apa aku menengadahkan tangan, tempat ku berdiri terasa seperti nampan yang terpapar api. Dengan segala kesadaran dan kelemahan, dengan adanya perkataan bahwa Tuhan tahu bagaimana untuk membuat ku bahagia, aku menangis bodoh, dan biarlah kebusukan, kekufuran, dan kekonyolan ku yang telah ku akui itu sebagai zikir ku atas ketergantungan ku akan kehadiran mu dalam hidup ku wahai Tuhan.
Thursday, August 8, 2019
Berbanding?
Tidak ada perbudakan untuk sesama makhluk, seseorang bisa berkorban bagi orang lain, tapi bagaimanapun jika seseorang belum tenggelam dan mati ditelan api dalam jiwa, maka tetap seseorang itu akan pula memandang dirinya sendiri, lagi pula siapakah orang yang pantas merenggut harga dirinya sendiri untuk sebuah egoisme manusia lain?. Apakah seseorang harus memalingkan diri dari sang pencipta demi seseorang yang haus memanfaatkan manusia demi kepentingan dunia dan surga pribadinya?.
Cari Kayu #2
Seorang pencari kayu, hendak mencari penghidupan dan makna diri, dia telah cukup berani memasuki beberapa hutan untuk mencari kayu kering yang sesuai dengan ukuran kapaknya yang sederhana. Saat ini terdapat dua tempat untuknya, sang keluarga kerajaan hutan menerima dirinya untuk bekerja sama, tugasnya adalah tentu untuk kepentingam hutan. Dia mencari penghidupan, makna diri, dan tugasnya adalah sesuai dengan apa yang dia sepakati. Dia berusaha bertanggung jawab, tapi ternyata bukan hal yang melulu menyenangkan. Tapi semoga saja dia bisa menyelesaikan tugasnya hingga ada tempat hidup yang membuatnya tersenyum lebih lebar. Aamiin
Monday, August 5, 2019
Just
Hati manusia lebih banyak berkata-kata dari pada mulutnya. Materi atau jasad tak terlihat saat gelap, namun hati manusia tetap merasakan apa yang ada di dalamnya.
Secuil
Seorang anak manusia, mengendap-endap mencari celah, agar tak terlihat bahwa dia itu hidup, dia anak manusia, namun karena hidupnya penuh sampah, maka dia merasakan dirinya sebagai se-ekor tikus, dia bersembunyi dari para pemangsa, kecakapannya hanyalah melirak-lirik kanan dan kiri, agar jangan sampai bahkan kehadirannya itu ada. Sesampai secuil roti dia dapatkan, dia memakannya sambil menangis kesepian.
Hanya
Aku merasa ingin mencari sejarah kebahagiaan. selama ini yang ku tahu adalah sejarah perjuangan, pengorbanan, dan kepahlawanan. Seseorang menang dari peperangan, dari kejahatan, dari kegagalan, dari persaingan, dan lain-lain, namun intinya bukan menang memenggal kesedihan. Banyak tokoh-tokoh pendiri bangsa, yang namanya harum dan dikenang, bahkan menjadi inspirasi dan pedoman, namun yang ku tahu juga hidupnya penuh dengan api peperangan batin sampai mati meskipun kemerdekaan sudah berada di tangan. Apakah hidup itu hanyalah perjalanan menempuhi semak duri belukar?. Dimanakah jalan lurus penuh bunga bermekaran?. Kapankah aku merasakan lagi bahwa surga itu ada saat hujan datang dan tempe hangat terhidang?, padahal Tuhan, aku yakin kau mampu menciptajan surga sesederhana itu saja, tak perlu kau membuat sungai yang berasa susu dan permadani-permadani indah. Hanya cukup engkau legakan lahir batin ku dengan perasaan puas dan sudah. Seperti anak kecil yang merasa bahagia dengan bermain, dan pulang membawa lelah dan kemudian terlelap damai, dengan membayangkan esok akan ada permainan apalagi yang membahagiakan. Bukankah yang seperti itu adalah surga, bukankah inti dari surga adalah bahagia, memang benar kata orang bijak, mereka yang berbahagia adalah mereka yang tak memiliki beban.
Mati
Di dunia ini ternyata ada banyak hal yang terpendam dalam dada, mata-mata yang layu menatap dunia, bukan karena tubuh sudah tak bertenaga, tapi karena jiwa telah kehilangan rasa. Beberapa manusia merindukan kematian, seperti bocah yang kehausan, dihatinya seperti tak ada rasa ingin memiliki, karena perih rasa hidup seperti sudah terkunci, manusia-manusia itu meminta pada Tuhan, agar segera diterbangkan oleh kematian, sehingga dapat diperolehnya kebahagiaan, obat dari segala kesakitan, baik batin maupun badan. Manusia dengan kesabaran, menanti apa yang Tuhan simpan, dengan tangis dan rasa takut, dia meratap seperti dalam sekarat, sampai-sampai terdapat sebagian yang mati oleh tangannya sendiri, di cabutnya nyawanya yang paling disayangi, karena rasa putus asa pada Tuhan, ohhh betapa kasihan, sungguh aku pun ingin memeluk dan mengantar kematian seperti ini agar pintunya benar-benar terbuka karena kerinduan sudah membuat gila.
Friday, August 2, 2019
Cari kayu #1
Selama ini hal yang ku anggap tidak berharga ternyata menyimpan suatu yang sangat indah. Aku masih mencari sesuatu dari hal yang sangat aku benci, ada apa dibaliknya....
Thursday, August 1, 2019
Panggil
Terbukanya mata ku hanyalah sekedar tetesan embun, dan lenyapnya diri ku seperti awan yang dihempas angin. Aku memang akan dilahap dunia, nama ku akan segera sirna. Sayap ku yang terluka, tidak ada beda dengan mereka yang terpenjara. Setiap nafas yang ku hembuskan, aku bermimpi menjadi bagian yang ada, karena jika nama Tuhan telah membuat ku tak berdaya, maka atas nama apa aku memanggil-manggil nama mu?, penderitaan? atau kebahagiaan?.
Menanti Sebuah Mimpi
Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...
-
"Tangan terasa lemah, pikiran berputar lelah, perasaan berisik gundah, menjalani hidup tanpa arah. Saat segala ucapan bagai pedang, kes...
-
Hi, sahabat Sekolah Tanpa Batas, bingung nyari aplikasi/tautan yang dapat digunakan pada PID / IFP diSekolah? Selain pemanfaatan *Rumah Pen...
-
Seperti perut yang tak pernah kau tahu isinya, nasi dan udara sama-sama dapat membuatnya mengembang. Persis seperti pikiran mu itu, sulut ke...