Diantara awan dan tanah, dimanakah kaki ku berpijak saat ini?, kemanakah jiwa ku yang menguap itu terkumpul?. Aku, diantara para burung yang terkapar karena peluru, adalah jiwa yang terkoyak karena nafsu. Aku sambung tegakkan tulang kaki ku yang terpenggal oleh pedang pengharapan, aku ingin melucuti mata, telinga, dan batok kepala ku yang berlumuran getah, agar yang tersisa hanya mulut ku yang bernyanyi. Duhai matahari, aku ingin sirna bersama cahaya mu yang bersembunyi membelakangi tempat ku berdiri. Oh matahari yang berjarak, kenapa tak kau lahap diri ku dengan lidah api mu, kenapa engkau harus terus jauh dan selalu hendak menyenangkan ku dengan permainan rayuan cahaya mu, kapankah akan kau tunjukkan pada ku tanpa silau, sesuatu yang suci, berkecambah dari hati, yang hidup tanpa kemudian mati, tidak ada yang lain lagi, hanya satu, tanpa ragu, tanpa berusaha, terus terjaga.
Tuesday, July 30, 2019
Saturday, July 27, 2019
Mana
Apa kata manusia, hanya sebentuk suara. Apa yang hanya ada karena mata, adalah debu semata. Angin malam mengapa terasa dingin, dan angin pagi mengapa terasa sejuk. Manakah yang lebih engkau hayati wahai jiwa?, saat kau menatap gelap, atau saat kau berkedip menentang terang. Saat matahari mulai terbit, aku seolah hendak ingin menjadi burung yang terbang dalam kebebasan, namun saat gelap mulai datang, aku ingin menjadi air, mengalir saja. Saat air terkumpul maupun tercerai berai maka tetaplah air, sedangkan diri ku, saat tercerai berai, diri ini terasa perlahan berbeda, seperti aku hanyalah potongan demi potongan, dan jika terpecah, maka terasa bukan lagi diri ku. Namun aku bertanya pada ujung jari ku, mengapa kau dapat dikenali sebagai diri ku?. Aku kira saat kau terbakar karena api, kau tidak akan lagi mengaku sebagai diri ku bukan?.
Friday, July 19, 2019
Atas
Aku malu mengatas-namakan Tuhan, biarkan saja aku mengatas-namakan diri ku sendiri, aku tahu rentang jarak ku, dan ku tahu lebih dari manusia lain tentang diri ku sendiri.
Tuesday, July 16, 2019
Yang utama
Orang yang mengaku beriman itu sibuk mencari pahala pribadi atau menyebarkan cinta-kasih pada semesta juga?. Rasul itu diutus untuk menyuruh umatnya solat, zakat, puasa dan ritual wajib lainnya, atau yang utama adalah sebagai rahmat bagi semesta?. Jika kita buka pada surat al-anbiya ayat 107 ada tertulis "Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam". Kebanyakan orang mengatasnamakan "dolal-dalil" yang padahal intinya adalah tanda kepengecutan mengakui keegoisan. Bahasa ku "legitimasi pemenuhan kelicikan atas nama Tuhan, memperalat ayat agar selamat".
Mengutip buku dari Kyai jalal, "Imam Ali berkata, Menjauhi keburukan harus didahulukan dari melakukan kebaikan.”
Dalam hadis lain, disebutkan, “Bersungguh sungguhlah dan rajin-rajinlah beramal. Jika
tidak sanggup beramal baik, janganlah berbuat maksiat. Karena orang yang membangun dan tidak merusaknya, walaupun perlahan-lahan, bangunannya akan tinggi juga, tetapi orang-orang yang membangun sambil merusak bangunannya, ia tidak akan menjadi tinggi.”
Dengan contoh yang sangat menyentuh, Nabi
Saw bersabda, “Ibadah sambil makan yang haram seperti mendirikan bangunan di atas pasir atau
air.” Atau hadis lain dari Imam Ja‘far ash-Shadiq,
“Akhlak yang buruk merusak amal seperti cuka merusak madu".
Bagaimanapun Pak jalal, saat ini, dengan sumbangsihnya, aku merasa ingin menyebutnya kyai.
Saturday, July 13, 2019
Lepaskan belenggu ini
Berapa kali aku mati dan hidup, namun pembunuh ku tetaplah engkau. Aku masih bernafas karena yang ku hirup adalah lelap, sehingga gerak ku terbius, agar angin yang membawa sesak, tak mampu melukai ku, namun jika pertahanan ku tercabut, kemudian aku mati, dan dihidupkan lagi oleh air suci, kemudian membusuk dan membaik lagi, berulang kali, hidup kemudian mati, mati kemudian hidup, maka aku hanya memohon, suatu saat bunga mekar dan pohon rindang menaungi ku dalam abadi. Kemana mata ku memandang, sungguh senyum mu terkadang nampak pada mereka, tapi semua itu bukanlah engkau, karena engkau hanya satu. Segala langkah dan tingkah mu terkadang terekam dalam diri mereka, namun tetap saja mereka bukanlah engkau. Ohh Tuhan, aku bersujud, mungkin saja bukan karena kebesaran mu, tapi berat punggung ku, maka lepaskan segala beban, izinkan aku dengan cinta kasih mu, menerima ku dan dan ku terima, agar aku bebas terbang mengelilingi semesta.
Thursday, July 11, 2019
Pada
Setelah mataku ku ini mengerti bahwa pelangi itu indah, jarum dari langit memintal kelopak mata ku agar terkunci, agar tidak ada yang perlu aku cari bagi diri ku sendiri, sehingga setiap waktu aku bagaikan buah yang terjatuh ke sungai, mengalir sama ke arah hilir, membusuk dan tercerai berai, apakah seperti itu harga dari keberadaan ku, saat aku ingin mengalunkan senandung syukur, aku menjadi ragu, apakah aku sedang berdusta, jika benar, maka aku malu pada dedaunan yang jatuh ke tanah ini, maka aku ingin pergi, berkaca pada kubangan air di perjalanan, agar aku tahu, benarkah mata ku telah cukup banyak kenyang dengan kenyataan, apakah yang masih diinginkannya.
Wednesday, July 10, 2019
Kau
Bagaimana kau melihat ku wahai rasul?, seperti apa kepedulian mu pada ku?, aku, ini, yang begini, apakah kau akui sebagai pengikut mu?. Layakkah diri ini kau pandang?, pantaskah kau akan sedikit saja melirikku dengan tatapan?, pantaskah aku walau satu kata mendengar suara mu?, dan sehelai rambut mu atau ujung kuku kaki mu aku sentuh?. Aku tak pernah mengaku mengenal mu, apalagi mencintai mu, dan kau pun tidak akan tertipu, sholawat salam yang ku panjatkan mungkin saja hanya karena kepentingan, lalu bagaimana aku berkata-kata tentang mu?, aku tak mau berdusta pada mu, kau dekat disisi Tuhan kita yang mengetahui segala lahir batin ku, bagaimana aku bisa bermain kata-kata tanpa rasa, sedang cinta kasih mu memasuki relung jiwa manusia-manusia yang aku yakini hidup penuh makna, sedangkan aku kosong, seperti sebuah bangunan tanpa penghuni. aku tahu kekaguman bukanlah cinta, yang hanya muncul karena melihat kelebihan, tetapi cinta selalu tumbuh dalam penerimaan dan kesadaran. segala pengakuan ku pada mu mungkin saja hanyalah sebagai tungganganku mencapai tujuan, seperti yang Tuhan kita tahu tentang diri ku, manusia durhaka dan tercela ini menatap dirinya sendiri dalam pejam mata yang tak kunjung pula sampai pada penghayatan, terus mempertanyakan kemanakah titik berpulang, aku belum jelas, apakah sebuah tempat ataukah apa?, aku tidak tahu. Tuhan mu wahai rasul, bukankah Tuhan ku juga, jadi bukankah aku juga seorang hamba, meski dengan segala hina, aku pun ingin menempuh perjalanan ke sana. Jika kau berkenan wahai Rasul, setidaknya sapalah aku agar merasakan kehadiran mu, jangan biarkan aku sedikitpun tak pernah tersentuh dalam pandangan mu, jangan engkau tak menganggapku sama sekali, aku mencari sesuatu yang menjadi hal terpenting dalam penyampaian mu pada semesta, engkau menebar cinta kasih pada seluruh hamba, maka jangan perkecualikan aku, percikilah jiwa ku agar hidup, agar pikiran ku bangkit, dan pandangan ku bersinar. Wahai Rasul, aku mempertanyankan diri ku pada mu, adakah hembusan angin yang berbaik hati mengantarkan tentang diri ku ini sehingga engkau mengenal ku?, aku takut, jikalau aku bukanlah siapapun bagi mu, aku bukanlah apapun, dan tiada kau pedulikan, maka aku memohon pada Tuhan kita, agar aku dirahmati, agar engkau berkenan tidak menolak ku, dan harapan ku tentu lebih dari pada itu.
Tuesday, July 9, 2019
Bersih
Kemana kau akan menuju wahai jiwa, pakaian mu telah kau kenakan dengan senyuman, namun adakah jiwa mu telah berangkat pada tujuan?. Bagaimana kau hidangkankan impian di ujung ubun-ubun mu, sedang jiwa mu begitu kurus tak terurus. sepotong cahaya tak nampak bersinar, kegelapan membungkus jiwa mu yang tak dikenal. Mulut hunian mu telah banyak menunjukkan keindahan, sebaran keringat mu telah menyuburkan taman, namun nafas mu begitu panas seperti jerami yang dikeringkan. Apakah yang menggerakkan pohon besar menjulang?, kekuatan tangan? Atau kelembutan angin yang menyejukkan?. Kau tak mampu melihat sosok yang menumbangkan pepohonan besar, yang menepak ombak hingga bergelombang, dan menekan gunung hingga menghamburkan bebatuan. mata jiwa mu telah tertutup banyak debu, pendengaranya tersumbat seteru. oh jiwa ku... Bersihkan diri mu, segeralah temui Tuan mu..!!
Monday, July 8, 2019
Mata
Wahai mata ku yang penuh debu, aku membasuh mu agar engkau dapat melihat, agar aku mengetahui sesuatu dengan lebih dari sekedar penampakan jasad, agar aku memahami dengan kejernihan mu suatu hakekat. Wahai mata ku yang yang terbuka, apakah yang menjadi tujuan mu, aku menginginkan agar engkau menangkap keindahan, namun bukan sesuatu yang palsu, dapatkah kau melakukannya?. Wahai mata ku yang terpejam, nyatanya diri mu menjelma dalam fikiranku, menayang sesuatu dalam persembunyian, engkau hanya terbatasi oleh kelopak, namun jiwa mu menjalar dalam angan ku. Wahai mata ku, apakah yang dapat membuat mu bersinar?. Apakah sebuah kehadiran pemberi cahaya?, apakah kehadiran rasa dalam sunyi jiwa mu saat kau berpejam?.
Wednesday, July 3, 2019
Irit
Berusaha menggunakan waktu dengan baik sajalah, hidup enggak selalu seperti yang ada di film-film hasil imaginasi dan sosmed subjektif abal-abal, orang yang sudah dianggap jelas saja kadang bisa menipu, apalagi cuma percaya sama kata sosmed yang enggak jelas asal dan tujuannya. kalau kebanyakan main-main dengan api nanti mata bisa perih dan banyak meneteskan air mata, apalagi kalau abunya nempel dimata, bisa lama air mata tak juga berhenti mengalir. Apalagi kalau kita yang jadi api, kita bisa disiram dengan air dan akhirnya kita mati gaya. Ada banyak hal yang jauh lebih penting di umur yang masih belia, dari pada hanya sekedar mengejar kata "kekinian" yang bisa saja sebenernya malah menjerumuskan ke hal-hal yang menyedihkan.
Menanti Sebuah Mimpi
Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...
-
"Tangan terasa lemah, pikiran berputar lelah, perasaan berisik gundah, menjalani hidup tanpa arah. Saat segala ucapan bagai pedang, kes...
-
Hi, sahabat Sekolah Tanpa Batas, bingung nyari aplikasi/tautan yang dapat digunakan pada PID / IFP diSekolah? Selain pemanfaatan *Rumah Pen...
-
Seperti perut yang tak pernah kau tahu isinya, nasi dan udara sama-sama dapat membuatnya mengembang. Persis seperti pikiran mu itu, sulut ke...